Strategi Bersaing Menjelang AEC 2015

Penerapan ASEAN Economic Community (AEC) di 2015 sudah bukan tawar menawar lagi. Moment yang ditandai dengan penetapan tariff nol bagi sejumlah besar faktor produksi ini mulai mendapat perhatian lebih dari sejumlah pemain di negara-negara kawasan ASEAN.

Setiap anggota komunitas mulai berupaya untuk merumuskan strategi terbaiknya agar mampu memanfaatkan peluang tersebut secara optimal. Sebab dengan langkah tersebut, setiap negara berpeluang untuk meningkatkan posisi daya saingnya di pasar internasional.

Tak hanya itu, menjadi global market leader-pun nantinya bukan sekadar impian belaka. Dengan kenyataan bahwa ASEAN memiliki kekayaan alam berlimpah, maka integrasi ekonomi di antara anggota akan mampu menjadikan Asia Tenggara sebagai fokus produksi global.

Meski begitu, implementasi AEC juga berpotensi menciptakan persaingan di antara pemain. Seperti konsep Michael Porter yang dikenal dengan 5 kekuatan pencipta daya tarik industri, persaingan antar pemain merupakan fokus awal bagi ukuran menarik tidaknya suatu industri.

Tariff nihil bagi sejumlah faktor produksi merupakan kesempatan emas yang takkan dilewatkan begitu saja oleh setiap pemain. Namun kapasitas dan kapabilitas produksi jualah yang menentukan besaran daya serap pasar. Artinya hanya pemain-pemain besarlah yang mampu menyerap secara optimal, sehingga potensi si ‘besar’ memakan habis porsi si ‘kecil’ tetap ada.

Untuk menjadi pemain ‘besar’ bukan semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan rumusan strategi bersaing yang sesuai dengan dukungan lingkungan. Artinya, strategi ini tidak hanya menjadi tanggung jawab perusahaan sebagai pemain ekonomi, melainkan juga pemerintah sebagai creator dan pengarah lingkungan.

Perumusan strategi bersaing diawali dengan langkah identifikasi peta kondisi domestik. Sejauh mana pemain-pemain lokal memiliki kekuatan dan kelemahan terutama dalam menciptakan daya saing produksi bagi komoditas ekspor.

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa kepemimpinan biaya akan menjadi primadona di masa depan. Untuk itu hal utama yang harus diperhatikan adalah faktor-faktor pencipta ekonomi biaya tinggi seperti kualitas infrastruktur hingga mekanisme birokrasi.

Infrastruktur yang mendukung proses distribusi baik barang jadi maupun faktor produksi di seluruh wilayah tanah air serta kesederhanaan mekanisme birokrasi akan menciptakan dukungan positif bagi strategi kepemimpinan biaya.

Setelah identifikasi internal, langkah berikutnya adalah memetakan kondisi eksternal. Seberapa jauh peluang dan ancaman yang tercipta dari rencana pembentukan kawasan ekonomi tunggal ASEAN.

Satu peluang yang cukup signifikan kini adalah bahwa melalui penerapan mekanisme tersebut arus faktor produksi antar negara anggota akan terjadi dengan biaya nol.

Di satu sisi langkah ini menciptakan peluang daya saing komparatif (daya saing yang tercipta dari kepemilikian faktor produksi dalam jumlah cukup), namun di sisi lain juga menumbuhkan pesaing-pesaing baru karena melalui cara tersebut distribusi faktor produksi akan lebih merata.

Satu-satunya strategi untuk menghadapi realitas tersebut adalah menciptakan nilai unik (baca: uniqueness) yang menjadi pembeda utama antara pemain domestik dengan perusahaan dari negara-negara ‘tetangga’.

Untuk itu nilai-nilai yang dibangun dari kearifan lokal Indonesia jualah yang hendaknya menjadi dasar bagi terciptanya nilai unik tersebut. Satu contoh yang dapat diberikan adalah nasionalisme dalam mengkonsumsi produk-produk dalam negeri.

Konsep ekonomi ‘dari dan untuk kepentingan bersama’ hendaknya mampu menjadi fundamental bagi terciptanya kecintaan pada produk-produk dalam negeri. Di satu sisi perusahaan bertanggung jawab atas dimensi lokal dari sebuah produk berkualitas global, di lain sisi daya serap pasar tanah air akan menciptakan image produk.

Tengoklah bagaimana sejarah produk-produk Korea Selatan menguasai dunia. Kesuksesan di pasar domestik bertahun-tahun yang dilandasi dengan nasionalisme produk berimbas pada pengakuan eksistensi produk di pasar internasional. Sehingga melalui mekanisme itu pulalah produk-produk lokal Indonesia akan mampu menjadi primadona baik di kawasan ASEAN maupun dunia.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa produk bahan mentah dari Indonesia yang kini menjadi primadona global. Kondisi ini secara rasional sudah tak dapat dipertahankan lagi pada AEC 2015. Sebab rendahnya nilai tambah dari ekspor bahan mentah akan tidak berujung pada peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan bangsa. Hanya ekspor bahan jadilah yang akan menentukan kesuksesan Indonesia dalam AEC.

*Tulisan ini dimuat di Harian Kontan, 24 April 2013. hal. 15

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s