Jebakan dalam Pengambilan Keputusan: Benarkah Pengalaman Merupakan Guru Paling Baik?

Ungkapan bahwa “guru yang terbaik adalah pengalaman” diyakini oleh banyak orang sehingga, sejalan dengan ungkapan ini, kita juga sering mendengar orang mengatakan bahwa orang yang lebih tua mengklaim bahwa mereka telah lebih banyak makan asam garam (baca: pengalaman) dari orang-orang yang lebih muda.

Pemahaman orang tentang perusahaan tidak jauh berbeda. Perusahaan yang sudah berdiri lebih lama dari perusahaan baru diyakini bahwa mereka mempunyai pengalaman yang lebih sehingga seolah-olah perusahaan yang lebih tua usianya mempunyai kemampuan lebih dibanding perusahaan yang relatif lebih baru. Benarkah pemahaman seperti itu?
Continue reading

Peluang di Kutub Utara

Perjalanan melalui Kutub Utara memungkinkan, karena pemanasan iklim sebesar 2,5 derajat Celcius dalam satu dekade terakhir. Jika kondisi itu berlanjut, pada tahun 2030, jalur Kutub Utara dapat dilalui selama periode dua bulan. Bandingkan pada tahun 2010 selama satu bulan dan bakal meningkat menjadi tiga sampai lima bulan pada tahun 2040.

Meski demikian, potensi jalur Kutub Utara paling cocok hanya untuk jalur transportasi dari Asia Timur menuju Eropa Utara melalui arah barat laut atau timur laut.
Continue reading

Kepemimpinan di Era Digital (e-leadership)

Akibatnya, pendekatan kepemimpinan tradisional tidak lagi dirasa efektif untuk mengelola dan memimpin bisnis untuk mencapai tujuan organisasi. Ada kebutuhan untuk melampaui kepemimpinan tradisional dan menggunakan gaya kepemimpinan baru.

Kepemimpinan berarti interaksi antara pemimpin dan pengikutnya di mana pemimpin membimbing dan mengawasi pengikutnya untuk melakukan pekerjaan. Jadi, kepemimpinan berarti memengaruhi orang-orang untuk bekerja mencapai tujuan organisasi, kelompok, atau mungkin juga tujuan pribadi pemimpin. Dengan perkembangan dan inovasi dalam teknologi informasi dan komunikasi (TIK), seperti pengembangan e-commerce dan internet, gaya kepemimpinan baru telah muncul yang disebut e-leadership.
Continue reading

COVID-19 dan Percepatan Industri 4.0

Social distancing merupakan tindakan memperlebar jarak fisik antar orang. Saat ini jarak satu meter antar orang menjadi acuan aman untuk mencegah penularan dan penyebaran Covid-19. Perlakuan tersebut akan meminimalkan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kerumunan atau berkelompok. Beberapa contoh tindakan social distancing adalah bekerja dari rumah, melakukan pembelajaran daring, komunikasi menggunakan media elektronik, dan menghindari kegiatan konferensi atau pertemuan fisik. Beberapa perusahaan dari berbagai industri kemudian melakukan tindakan-tindakan tersebut.

Tidak bisa dipungkiri, wabah ini akan mengevolusi beberapa cara kerja yang sudah biasa. Banyak perusahaan dipaksa untuk meninggalkan cara kerja tradisional dan memunculkan cara bekerja yang tidak biasa. Dengan adanya wabah, perusahaan akan bekerja dengan minimal pertemuan fisik. Bukan hal yang aneh apabila kondisi tersebut akan diteruskan meskipun wabah sudah selesai.
Continue reading

Covid-19 Turut Ciptakan Krisis Ekonomi

Hal ini menunjukkan betapa kuatnya daya penyebaran virus ini, tidak hanya di sektor kesehatan dan kondisi sosial masyarakat, namun juga di sisi ekonomi. Kebijakan untuk melakukan social distancing maupun karantina wilayah atau yang dikenal dengan istilah lockdown secara langsung menimbulkan turbulensi ekonomi.

Patut dipahami bahwa kehadiran Covid-19 ini bersamaan dengan kondisi ekonomi global yang tengah melesu. Mengakhiri tahun 2019 lalu, ketegangan akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan China belum usai. Demikian pula trend penurunan harga beberapa komoditas seperti minyak bumi. Bak pekerjaan rumah yang belum tuntas, maka corona berhasil menciptakan kepanikan pasar yang cukup berkepanjangan.
Continue reading

Manajemen Stres Saat Physical Distancing

Pada dasarnya, stres merupakan kondisi yang pada level tertentu justru akan membuat kita bersemangat menjalani hari-hari kita. Akan tetapi, jika levelnya terlalu rendah akan membuat kita bosan, namun jika berlebihan akan membuat kita tertekan. Untuk itu, diperlukan teknik mengelola stres agar kita tidak mengalami dampak negatif dari stres.

Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mengubah cara pandang kita terhadap situasi ini. Tidak dipungkiri bahwa situasi saat ini memunculkan rasa takut dan cemas yang besar pada diri kita. Ketakutan tentang kondisi kesehatan dan juga kondisi ekonomi hinggap silih berganti.
Continue reading

Job Security Vs Covid-19

Aktivitas preventif dari Kota Wuhan telah tersebar ke seluruh dunia. Bagaimana mereka menutup jalan utama, bagaimana sekolah dan perkantoran dibatasi aktivitasnya, bagaimana kerumunan masyarakat dihindari, dan aktivitas lainnya yang semula berjalan seperti biasa kini mulai dibatasi.

Saat Desember 2019 terjadi kepanikan di Wuhan, Indonesia masih merayakan pergantian tahun baru 2020 dan disambut dengan naiknya permukaan air di beberapa wilayah Jakarta, Beberapa wilayah tidak bisa dilalui, beberapa warga di wilayah tertentu tidak bisa memenuhi kebutuhan nya, termasuk untuk berangkat kerja karena akses menuju transportasi umum maupun kantor masing-masing terputus oleh banjir.

Lantas apa yang menjadi persamaan keduanya? Banjir & Corona berimbas kepada para karyawan sebuah perusahan.
Continue reading

Geliat Online Learning di Masa Pandemi: Sebuah Disrupsi?

Sejak Covid-19 masuk Indonesia pertengahan Maret lalu, berbagai sekolah, kampus, dan lembaga pendidikan menerapkan kebijakan online learning untuk menjamin keberlangsung proses belajar mengajar mereka.Kebijakan ini diambil menyusul seruan work from home (WFH) dan gerakan #dirumahaja yang digaungkan oleh banyak pihak, terutama oleh pemerintah pusat dan pemerintah DKI Jakarta. Apalagi, imbauan WFH yang dilakukan pertama kali di Jakarta ini memiliki dampak yang cukup besar tidak hanya bagi dunia bisnis, namun juga bagi dunia pendidikan.

Imbauan untuk tidak berkumpul di sekolah dan kampus juga diserukan oleh Mas Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim. Melalui beberapa kebijakan yang beliau keluarkan, para guru, murid, dosen, dan mahasiswa diminta untuk melakukan pembelajaran jarak jauh dari rumah masing-masing dengan tetap memerhatikan tujuan pembelajaran dan kompetensi inti dari tiap mata pelajaran.

Alhasil, dengan kebijakan yang memang harus diambil di masa pandemi ini, tidak sedikit guru, murid, dosen, hingga mahasiswa yang kewalahan untuk menyesuaikan gaya dan proses pembelajaran mereka. Perubahan secara drastis dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran online menimbulkan banyak pertanyaan.
Continue reading

Tiga Fokus Chief Human Capital Officer saat Pandemi Covid-19

Berbeda dengan perlambatan ekonomi tahun 1998 dan 2008, chief financial officer (CFO) adalah pemain kuncinya. Aksi “bos” lain seakan tertutupi. Hidup mati perusahaan bak berada di tangan CFO. Jika CFO-nya hebat, perusahaan eksis. Jika salah langkah, perusahaan tinggal sejarah.

Namun sekarang, pandemi Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian benar-benar di luar prediksi. Perusahaan tidak siap. Karyawan juga tidak siap. Tidak ada warning. Semuanya terjadi begitu cepat.

Mendadak karyawan harus Work From Home (WFH). Di tengah kegagapan menggunakan teknologi teleconference, anak-anak mereka yang School From Home (SFH) juga merengek di ujung kaki mereka.

Pada kondisi ini, peran CHCO menjadi sangat kritis. Setidaknya ada tiga hal yang harus menjadi fokus mereka.
Continue reading

Tantangan Memimpin Tim Virtual

Sejak diserukannya kebijakan kerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah oleh Presiden Joko Widodo, sudah banyak perusahaan yang memberlakukan work from home. Praktis sejumlah kegiatan kerja di perkantoran dan beberapa tempat usaha di luar sektor yang masih dikecualikan diberhentikan sementara aktivitasnya. Lalu, dilakukan dari rumah.

Bekerja dari rumah tentu sangat berbeda dengan bekerja di kantor. Dengan kondisi tetap menerapkan social distancing, otomatis bekerja hanya bisa dilakukan secara virtual. Bekerja secara virtual memiliki banyak keuntungan, namun menghadirkan tantangan manajerial tersendiri.

Secara virtual kita dapat bekerja tanpa bertemu fisik dan menjangkau orang lain dari berbagai geografis. Namun, bekerja secara virtual belum menjadi sesuatu yang lazim, khususnya di Indonesia. Karyawan belum terbiasa bekerja secara virtual. Dan, banyak perusahaan belum memiliki kebijakan, proses atau pedoman mengenai bekerja secara virtual. Sehingga di awal pemberlakuannya menimbulkan kejutan budaya (culture shock). Tantangan ini juga yang dirasakan oleh para manajer dalam memimpin dan mengelola tim kerja virtual.

Beberapa teknik dan tips yang dapat dapat dilakukan oleh manajer dalam memimpin dan mengelola tim virtual sebagai berikut:

Membangun kepercayaan
Membangun kepercayaan adalah faktor penting dalam suksesnya bekerja secara virtual. Kepercayaan tentu akan lebih mudah terbentuk jika kita bertemu langsung secara wujud fisik dibanding dunia maya. Namun bukan berarti secara virtual kita tidak dapat mengembangkan kepercayaan.

Manajer harus yakin bahwa kepercayaan bisa dibentuk, dan sejalan dengan waktu jika diupayakan maka rasa saling percaya akan berkembang dalam tim. Hal-hal berikut ini dapat meningkatkan kepercayaan seperti: melakukan pertemuan rutin secara virtual dengan tim dan beri kesempatan anggota tim untuk saling mengenal satu sama lain, bangun visi dan sasaran bersama, berikan kesempatan anggota tim untuk mengambil peran dan menyelesaikan tanggung jawabnya, pantau kerja tim dan tawarkan dukungan kepada anggota tim, diskusikanlah isu-isu yang terjadi dalam organisasi dan tim, undang tim memberikan saran dan masukan, rayakan kesuksesan tim. Semua itu bisa dilakukan secara virtual.

2. Kejelasan arah dan sasaran tim

Tim virtual membutuhkan lebih banyak kejelasan mengenai gambaran besar, mengenai arah dan sasaran yang akan dicapai oleh organisasi dan tim. Jadi, sangat penting manajer merumuskan visi bersama tentang apa yang ingin dituju tim virtualnya dan komunikasikan kepada seluruh anggota tim.

3. Kejelasan peran, tugas dan tanggung jawab, serta hasil yang harus dicapai

Manajer harus memperjelas peran, tugas dan tanggung jawab, serta hasil yang harus dicapai setiap anggota tim. Ketidakjelasan semua itu akan membuat mereka bingung dan dapat menurunkan motivasi kerja. Dengan bekerja secara virtual, manajer tidak akan bisa mengamati secara langsung dan memantau proses pekerjaan timnya setiap saat karena mereka tidak berada pada satu lokasi yang sama. Manajer akan lebih berorientasi pada pemantauan output atau hasil kerja dari pada proses kerja tim.

4. Mengembangkan proses kerja yang mendukung bekerja secara virtual

Dengan diberlakukannya bekerja secara virtual, otomatis banyak proses kerja yang sebelumnya manual berubah menjadi virtual. Manajer harus menyesuaikan proses kerja dan prosedur yang ada dengan kondisi ini.

Beragam proses kerja seperti: brainstorming dan berbagi ide, menyusun rencana dan jadwal kerja, pengambilan keputusan, meminta persetujuan anggaran, perizinan, menyiapkan laporan dan sebagainya, sudah lagi tidak efisien jika masih harus manual.

Maka segera susun penyesuaiannya agar tim memiliki pedoman dalam bekerja secara virtual. Untuk memberikan kemudahan, manajer dapat menggunakan beragam perangkat teknologi dan aplikasi virtual yang memudahkan proses kerja dan terciptanya kolaborasi tim virtual, seperti: project management tools, Google Document dan lain-lain.

5. Beri kesempatan tim menemukan ritme kerjanya

Bekerja secara virtual mungkin belum menjadi budaya masyarakat Indonesia secara umum. Manajer harus memberikan waktu bagi timnya menemukan ritme kerjanya. Di awal-awal, tim pasti mengalami ketidaknyamanan karena ketidakbiasaan bekerja secara virtual. Banyak anggota tim pun masih gaptek dalam penggunaan berbagai teknologi komunikasi virtual.

Untuk bisa segera menemukan ritme kerjanya, maka berikanlah sosialisasi atau pelatihan singkat mengenai bagaimana memulai pertemuan secara virtual berikut panduan teknis penggunaan teknologi komunikasinya seperti Google Hangout, Zoom dan sejenisnya.

Sebaiknya pilihlah teknologi komunikasi yang paling sesuai dengan kebutuhan organisasi dan mudah digunakan. Kecepatan mempelajari teknologi komunikasi di tim bisa jadi berbeda-beda. Maka materi sosialisasi bisa dibuat beragam menyesuaikan kondisi tim.

Kemudian mulailah disiplin mengadakan pertemuan rutin untuk membahas agenda-agenda yang disepakati dalam tim. Waktu pertemuan harus disesuaikan dengan ketersediaan waktu anggota tim. Beberapa rekan boleh jadi memiliki waktu kerja berbeda dengan yang lainnya. Jadi pastikan waktu pertemuan mengakomodir kondisi semua tim.

Satu hal yang penting, berkomunikasi dalam pertemuan virtual berbeda dengan pertemuan fisik. Sebaiknya perlu dikembangkan semacam aturan atau pedoman komunikasi dalam pertemuan virtual. Seluruh anggota tim harus memahami dan mengikuti pedoman tersebut.

6 Mengembangkan interaksi positif dengan setiap anggota tim

Untuk meningkatkan motivasi kerja setiap anggota tim, dibutuhkan interaksi positif antara manajer dengan setiap anggota timnya. Maka perlu sebuah strategi untuk mewadahinya. Pertemuan one on one antara manajer dan setiap anggota timnya adalah strategi jitu untuk memastikan tim produktif.

Manajer perlu meluangkan waktunya untuk berkomunikasi dengan setiap anggota timnya dalam upaya membina anggota timnya, memberikan umpan balik, mengapresiasi prestasi kerjanya, mendengarkan aspirasi karirnya, menyelaraskan pekerjaannya dengan visi tim, mendengarkan masalah yag dihadapinya dan mendiskusikan solusinya, dan lain sebagianya. Dengan kata lain, peran manajer sebagai coach dan mentor sangat dibutuhkan dalam bekerja secara virtual.

Dengan melakukan teknik di atas, tim virtual Anda akan mampu tetap produktif di tengah Pandemi Covid-19.

Selamat mencoba. Sukses selalu untuk Anda!

Oleh: Achmad Fachrozi, M.M. – Head of Leadership and Talent Development Department PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di SWA Online