Pemberdayaan Psikologis

Pernahkah Anda menemukan kasus seorang karyawan telah diberikan serangkaian program pelatihan dan pengembangan namun kompetensi dan kinerjanya tak kunjung meningkat?

Seringkali kita menganggap bahwa agar karyawan menjadi kompeten dalam bekerja, maka hal yang dapat dilakukan adalah memberikan serangkaian program pelatihan dan pengembangan. Tentu saja hal tersebut sangatlah tepat, namun ada juga hal lain yang tidak boleh luput diberikan kepada karyawan agar mereka menjadi insan yang kompeten dan berkontribusi bagi pencapaian organisasi.

Kita sama-sama meyakini bahwa kinerja seseorang salah satunya ditentukan oleh faktor internal, yaitu kemauan dan kemampuan individu. Kemauan merupakan hal penting yang melandasi munculnya kinerja. Tanpa adanya kemauan, maka sebaik apa pun kemampuan tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan. Kemauan adalah sebuah motivasi, dorongan untuk melakukan sesuatu.
Continue reading

Advertisements

CSO ala Penjual Bubur Ayam

Apa yang terbayang ketika mendengar customer service oriented (CSO)? Mungkin dengan sendirinya kita akan langsung mengartikan bahwa CSO adalah perilaku memberikan pelayanan yang prima kepada pelanggan. Spencer & Spencer (1993) mengatakan bahwa CSO adalah keinginan untuk melayani maupun membantu pihak lain dalam memenuhi kebutuhannya.

Tak perlu membayangkan terlalu jauh bagaimana penerapan CSO di organisasi, pun tak perlu terlalu jauh melakukan studi banding ke perusahaan lain yang dikatakan memiliki penerapan CSO terbaik. Sebab, pembelajaran terbaik menyoal CSO bisa kita dapatkan sehari-hari, bahkan sangat dekat dengan kita.

Mari kita lihat contohnya. Semangkuk bubur ayam sangat cocok disajikan sebagai salah satu menu sarapan. Melalui menu sarapan bubur ayam, bukan hanya rasa dari bubur ayam saja yang bisa kita nikmati, melainkan pelayanan dari penjual bubur. Di suatu pagi, penulis memesan semangkuk bubur ayam. Sesaat sebelum memesan, penjual bubur sudah  menyambut, “Silahkan, Bapak. Bubur ayamnya dibungkus atau dimakan di sini?” Jawabannya tentu dimakan di tempat agar rasa dan aromanya tetap nyaman di lidah.

Semangkuk bubur pun datang dengan taburan standar ala bubur ayam berupa kacang, cakue, dan sedikit daun seledri. Lalu, penjual bertanya, “Ada yang kurang, Pak? Kecap dan sambalnya cukup, Pak? Jika ingin ditambahkan telur dan sate, bisa panggil saya lagi ya, Pak”.
Continue reading

Pergeseran Paradigma Manajemen

Pada era 80-an konsep manajemen didominasi oleh bagaimana operasional perusahaan mampu mencapai target berupa profit. Beberapa dimensi seperti efisiensi, efektivitas dan produktivitas marak dikaji untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan karakteristik perusahaan.

Alhasil keberhasilan satu perusahaan akan dipakai sebagai benchmark pemain lainnya. Tak jarang bahkan kisah sukses ini dibukukan secara rinci sebagai bahan pembelajaran perusahaan lain (termasuk pesaingnya). Tanpa disadari, fenomena ini berhasil menciptakan sebuah zona nyaman di kalangan pemimpin pasar. Perusahaan-perusahaan pionir menikmati masa-masa kejayaan dengan melupakan bahwa itu semua ada umurnya.

Sejak awal 2000-an kelompok perusahaan yang diposisikan sebagai ‘follower’ terlihat mulai mendominasi persaingan. Belajar dari kelemahan-kelemahan kecil sang pemimpin, para follower ini mulai menghidupkan napas inovasi. Langkah penyempurnaan strategi sang pemimpin kini dipahami sebagai kunci sukses dalam menggeser posisi menjadi pemain utama.

Sejak itulah cara pandang manajemen berubah. Persaingan tidak lagi dilihat sebagai upaya menghilangkan pemain untuk menjadi yang terdepan melainkan sebagai proses pembelajaran menuju kesempurnaan.
Continue reading

Melanggengkan Kesuksesan

Demam sepakbola di Indonesia belum turun. Piala Dunia 2018 telah lewat. Lalu Piala AFF U-16 tempo hari menaikkan suhu antusiasme masyarakat terhadap sepakbola Indonesia lagi. Garuda muda melawan Thailand dengan penuh percaya diri. Lewat adu penalti, memastikan juara piala AFF U-16. Setelahnya ada Asian Games yang gegap gempita menyatukan nusantara.

Menyoal sepakbola, rasanya kita tidak asing dengan sosok hebat Cristiano Ronaldo. Pemain terbaik dunia 2017 itu merupakan atlet sepakbola asal Portugal dengan prestasi mentereng. Bintang lapangan hijau yang saat ini berseragam Juventus itu memiliki gaya dan teknik permainan yang khas. Dengan talenta hebat dan wajah tampan, CR7 begitu dia dikenal, selalu membuat decak kagum para penikmat sepakbola di seluruh dunia, tak terkecuali kaum hawa.

Berbagai rekor dunia pun dipecahkan oleh pemilik 5 Balon d’Or –ajang penghargaan individu paling prestisius di dunia sepakbola. Sampai-sampai ia dijuluki Si Manusia Rekor. Tidak berlebihan, jika CR7 disebut sebagai salah satu pesepakbola terbaik dalam sejarah.
Continue reading

Kepemimpinan ala Perusahaan Unicorn

Unicorn, sosok makhluk legendaris yang sejak berabad-abad lalu ada dalam cerita bangsa-bangsa Eropa. Digambarkan sebagai binatang menyerupai kuda nan lincah bertanduk satu menonjol di dahinya. Konon tanduknya ini dapat memurnikan air yang beracun sekaligus menyembuhkan berbagai penyakit. Oleh karenanya, unicorn dianggap simbol anugerah dan kemurnian cinta.

Dalam perkembangannya, di zaman now, sejak tahun 2013 unicorn menjadi istilah keuangan untuk menamakan perusahaan-perusahaan rintisan teknologi dengan valuasi di atas $1 Miliar AS (lebih dari Rp14 Triliun). Unicorn dijadikan ikon karena dianggap mewakili kelangkaan statistik dari angka kesuksesan perusahaan rintisan teknologi. Menurut Peter S. Cohan, peluang kesuksesan perusahaan rintisan teknologi untuk menjadi perusahaan unicorn hanya sebesar satu dari lima juta. A One-in-five million chance. Begitu sulitnya.

Menariknya, dalam daftar perusahaan unicorn seluruh dunia yang dikeluarkan oleh Techstartups.com pada April 2018, Indonesia berhasil mengorbitkan empat perusahaan unicorn. Go-Jek, Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak.  Jumlah ini ternyata lebih banyak daripada negara-negara maju lainnya seperti Kanada, Korea Selatan, Australia, Perancis, Rusia, Jerman, dan Singapura.

Tentunya keberhasilan tersebut menarik untuk dikaji dari sisi kepemimpinan para pendiri unicorn asal Indonesia ini. Pendekatannya kita ambil dari James Kouzes dan Barry Posner tentang lima praktik kepemimpinan teladan.
Continue reading

Viral Belum Tentu Kekal

Akhir-akhir ini Indonesia diramaikan dengan fenomena Es Kepal yang cukup viral di kalangan pengguna media sosial. Walau es kepal tergolong produk nan sederhana, inovasi rasa yang dilakukan cukup mampu membuat banyak orang penasaran. Dengan menggaet produk susu coklat kenamaan, es kepal berhasil mencuri perhatian banyak orang di pasaran. Ditambah dengan word of mouth yang melejit melalui media sosial, es kepal semakin memperlihatkan dominasinya sebagai minuman kekinian yang wajib dicoba oleh semua kalangan.

Namun kita patut waspada dengan melejitnya nama es kepal dengan waktu yang relatif cepat. Pepatah mengatakan, sesuatu yang naik begitu cepat biasanya juga akan turun dalam waktu yang tidak terlalu lambat. Fenomena es kepal ini dikhawatirkan akan mengikuti jejak produk minuman fenomenal yang juga telah mulai hilang pamornya.

Sebut saja Cappucino Cincau, Es Kocok/Es Blender, minuman serba green tea, varian minuman thai tea-yang merajai pasar Indonesia pada masanya tapi sebagian tak mampu bertahan. Ada yang ditinggal pelanggan, ada pula yang tak mampu bertahan digempur saingan.
Continue reading

Kala Rupiah Lesu

Melemahnya nilai tukar Rupiah masih terus terjadi. Rupiah kini diperdagangkan di level Rp. 14.600,- lebih. Riak turbulensi ekonomi mulai terasa. Salah satunya di industri pangan, sektor yang konon masih didominasi produk impor ini terpaksa menaikkan harga jual produk untuk dapat terus bertahan.

Namun taktik ini tak sepenuhnya jitu. Masyarakat yang tidak mengalami peningkatan pendapatan malah kehilangan daya belinya. Mereka pun berbondong-bondong pindah ke produk substitusi lebih murah, atau bahkan ada pula yang menunda konsumsi atas barang-barang tertentu. Bila situasi ini berlarut, apa saja yang perlu diperbuat agar aksi pelemahan Rupiah tidak terlalu membebani perekonomian keluarga?

Secara konseptual, pengelolaan keuangan keluarga terdiri dari tiga alokasi utama: untuk keperluan konsumsi, tabungan, dan investasi/asuransi. Dalam kondisi ekonomi yang stabil, ketiga alokasi tersebut boleh dikatakan wajar. Namun tidak demikian halnya ketika laju pertumbuhan ekonomi melambat.
Continue reading