Design Thinking agar Solusi Tidak Mubazir

Inovasi, produk baru, perbaikan, peningkatan terus-menerus. Hal inilah yang didengung-dengungkan dan didambakan oleh lembaga-lembaga bisnis maupun pemerintahan. Namun, acap kali sebuah ide yang ditawarkan sebagai solusi yang inovatif tidak selalu menjawab permasalahan yang sebenarnya.

Kita temukan hal-hal ini di dalam desain produk yang ternyata dianggap menyulitkan atau tidak berguna oleh pelanggan sehingga seringkali semua usaha, tenaga bahkan biaya yang dikerahkan dalam melahirkan inovasi tadi tentu menjadi mubazir. Untuk itulah organisasi perlu memiliki suatu kerangka berpikir sehingga inovasi atau perbaikan yang dihasilkan dapat menjawab permasalahan secara tepat sasaran dan tepat biaya.

Metode pemecahan masalah biasa secara analisis ataupun metode berpikir kreatif saja tidak cukup untuk dapat menghasilkan solusi yang mumpuni bagi sebuah permasalahan. Di sinilah metode design thinking dapat digunakan untuk merangkai solusi yang efektif.
Continue reading

Advertisements

Bertanya pada Diri Sendiri

Mengapa sejak masuk ke era revolusi industri yang ditandai dengan munculnya berbagai media telekomunikasi seperti televisi, radio, telepon, dan sebagainya yang kemudian teknologinya terus berkembang sampai hari ini, tidak ada lagi penemuan besar yang belum pernah ada sebelumnya?

Penemuan yang ada sejak revolusi industri sampai saat ini hanya pengembangan terhadap penemuan besar dari masa sebelumnya, misalnya kecanggihan sistem informasi dan teknologi serta alat elektronik yang terus terjadi sampai saat ini hanyalah pengembangan dari penemuan besar konsep relativitas dan listrik oleh Einstein dan Edison.

Pertanyaan berikutnya adalah, mengapa orang di jaman “sunyi” sebelum adanya berbagai alat komunikasi seperti Thomas Alfa Edison dan Albert Einstein mampu menemukan penemuan besar yang benar-benar baru? Jawabannya, karena penemu-penemu besar menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk bertanya pada diri sendiri tentang segala sesuatu yang terjadi di sekelilingnya.

Continue reading

Strategi Kolaborasi “Supply Chain” Keiretsu

Menurut jenisnya, kolaborasi dapat dibedakan menjadi empat.

Pertama, transactional collaboration, bertujuan mencapai transaksi yang efektif dan efisien, tidak perlu kesepahaman strategi jangka panjang. Contohnya, jika terjadi kesepakatan harga antara pemasok dan pembeli selama periode tertentu, maka proses bisa segera dilaksanakan.

Kedua, cooperative collaboration, ada komitmen antarkomponen di dalam suppy chain untuk berbagi informasi informasi peramalan, inventori, pengadaan barang, pengiriman barang, termasuk kapasitas produksi. Alat bantu yang banyak digunakan adalah electronic data interchange (EDI).

Ketiga, coordinated collaboration, membutuhkan arus informasi dua arah dan proses perencanaan dan eksekusi yang selaras antarpihak di dalam supply chain. Salah satu contoh kerjasama adalah vendor-managed inventory (VMI).

Keempat, synchronized collaboration (strategic alliances), komponen di dalam supply chain bekerja sama dalam hal riset dan pengembangan produk, berbagi aset dan pengetahuan, dan pengembangan kapasitas dan kinerja supply chain.
Continue reading

Seni Memimpin dalam Krisis

Organisasi saat ini sering dihadapkan pada kondisi ketidakpastian. Kondisi politik, sosial, teknologi, budaya, lingkungan, serta digitalisasi di berbagai lini usaha menghasilkan perubahan-perubahan yang harus dihadapi organisasi.

Para pimpinan organisasi dan pelaku bisnis berhadapan dengan era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Kondisi yang serba tidak pasti ini bisa memberikan efek positif untuk organisasi, disaat organisasi justru mendapatkan keuntungan atau peluang yang bisa dikembangkan bagi sustainability organisaisi. Namun, juga tidak dapat dielakkan ketidakpastian tersebut bisa memberikan efek negatif dan tidak dapat diprediksi sebelumnya.

Kondisi tersebut pada akhirnya yang dapat memicu krisis dalam organisasi. Coombs (2007) mengartikan krisis sebagai suatu kejadian yang tidak terduga yang dapat menimbulkan ancaman baik dari sisi finansial dan tentunya ancaman bagi reputasi organisasi. Tulisan ini tidak akan membahas lebih detail tentang krisis, tapi bagaimana seorang pemimpin organisasi dapat mengelola krisis guna meminimalisir kerugian dari krisis.
Continue reading

Manajemen Pemulihan Pascabencana

Bumi pertiwi sedang berduka. Belum sepenuhnya pulih dari bencana alam di Lombok, gempa bumi yang disusul tsunami kembali terjadi. Kali ini melanda wilayah Palu dan Donggala. Beberapa pihak mempertanyakan sistem peringatan dini yang sejatinya dapat memberikan informasi sesaat sebelum bencana melanda.

Artikel kali ini tidak membahas itu, namun menyoroti pentingnya strategi pemulihan pascabencana, khususnya di bidang perlindungan hak waris atas setiap aset yang ditinggalkan para pemiliknya. Data resmi dari pihak pemerintah menyebutkan setidaknya terdapat ribuan jiwa melayang. Pada jumlah itu pulalah sangat dimungkinkan terdapat ahli waris yang selamat dari bencana. Namun, tak mudah bagi mereka untuk memberi bukti secara otentik karena hilangnya dokumen dalam bencana.
Continue reading

Pemberdayaan Psikologis

Pernahkah Anda menemukan kasus seorang karyawan telah diberikan serangkaian program pelatihan dan pengembangan namun kompetensi dan kinerjanya tak kunjung meningkat?

Seringkali kita menganggap bahwa agar karyawan menjadi kompeten dalam bekerja, maka hal yang dapat dilakukan adalah memberikan serangkaian program pelatihan dan pengembangan. Tentu saja hal tersebut sangatlah tepat, namun ada juga hal lain yang tidak boleh luput diberikan kepada karyawan agar mereka menjadi insan yang kompeten dan berkontribusi bagi pencapaian organisasi.

Kita sama-sama meyakini bahwa kinerja seseorang salah satunya ditentukan oleh faktor internal, yaitu kemauan dan kemampuan individu. Kemauan merupakan hal penting yang melandasi munculnya kinerja. Tanpa adanya kemauan, maka sebaik apa pun kemampuan tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan. Kemauan adalah sebuah motivasi, dorongan untuk melakukan sesuatu.
Continue reading

CSO ala Penjual Bubur Ayam

Apa yang terbayang ketika mendengar customer service oriented (CSO)? Mungkin dengan sendirinya kita akan langsung mengartikan bahwa CSO adalah perilaku memberikan pelayanan yang prima kepada pelanggan. Spencer & Spencer (1993) mengatakan bahwa CSO adalah keinginan untuk melayani maupun membantu pihak lain dalam memenuhi kebutuhannya.

Tak perlu membayangkan terlalu jauh bagaimana penerapan CSO di organisasi, pun tak perlu terlalu jauh melakukan studi banding ke perusahaan lain yang dikatakan memiliki penerapan CSO terbaik. Sebab, pembelajaran terbaik menyoal CSO bisa kita dapatkan sehari-hari, bahkan sangat dekat dengan kita.

Mari kita lihat contohnya. Semangkuk bubur ayam sangat cocok disajikan sebagai salah satu menu sarapan. Melalui menu sarapan bubur ayam, bukan hanya rasa dari bubur ayam saja yang bisa kita nikmati, melainkan pelayanan dari penjual bubur. Di suatu pagi, penulis memesan semangkuk bubur ayam. Sesaat sebelum memesan, penjual bubur sudah  menyambut, “Silahkan, Bapak. Bubur ayamnya dibungkus atau dimakan di sini?” Jawabannya tentu dimakan di tempat agar rasa dan aromanya tetap nyaman di lidah.

Semangkuk bubur pun datang dengan taburan standar ala bubur ayam berupa kacang, cakue, dan sedikit daun seledri. Lalu, penjual bertanya, “Ada yang kurang, Pak? Kecap dan sambalnya cukup, Pak? Jika ingin ditambahkan telur dan sate, bisa panggil saya lagi ya, Pak”.
Continue reading