Pelajaran dari ‘Kepatuhan’ China

Kompleksitas dunia usaha domestik pasca pemberlakuan ekonomi bebas harus diakui meninggalkan sejumlah teka-teki yang harus dijawab, terutama terkait dengan perlu tidaknya perusahaan menerapkan prinsip-prinsip kepatuhan (baca; good corporate governance).

Secara konseptual dan logika, kepatuhan manajemen pada aturan seharusnya memberikan dampak positif pada nilai perusahaannya. Namun kini hal itu ternyata tidak cukup. Kepatuhan terhadap aturan mutlak harus diikuti dengan kepatuhan pada norma-norma dan etika bisnis yang dianut.

Premis yang kini berkembang mengatakan bahwa bila manajemen suatu perusahaan berhasil menaati aturan sesuai norma dan nilai-nilai etika yang santun, maka pasar akan memberikan apresiasi lebih tinggi. Tak ayal nilai pengembalian atas asset (baca; return on assets) perusahaan akan mengalami peningkatan yang signifikan dari waktu ke waktu.
Continue reading

Mengelola Risiko Sebagai Dasar Bertindak

take risk“To every Action there is always opposed an equal Reaction” – Isaac Newton.

Ada yang menganalogikan risiko sebagai bayangan. Namun bagaimana bila kita berada di ruangan yang sangat gelap sehingga tidak membentuk bayangan apakah itu sama artinya jika berada dalam suatu kondisi yang serba sulit untuk mengumpulkan data maka berarti tidak ada risiko? Apakah mungkin aspek risiko dihilangkan? Berdasarkan uraian di atas semestinya risiko tidak akan pernah hilang.

Sepertinya akan lebih tepat jika kita katakan setiap ada pergerakan baik eksternal maupun internal maka akan timbul risiko. Berhubungan dengan keuangan maka risiko akan timbul berdasarkan pergerakan harga saham, kurs mata uang, komoditi dan lain sebagainya. Jadi pada dasarnya risiko timbul karena ada pergerakan.
Continue reading

Does Your Company Need A General Checkup?

medical-check-up-ppmIt is common for a human being to have a general checkup, especially when he or she is over 30 years old. Generally, someone will realize the need to check their health when they reach middle age or feel something is not quite right.

The same holds true for a company. After being in existence for a decade or two or even more, something may not feel right about the company or, at least, it is no longer the same as when you first joined it.

Most people in the company, for example, may have become indifferent about their job, decisions are not made on time or even give the impression of a touch of bureaucracy. Various activities in the company seem to be going in their own direction and the managers do not see the need for a unified orientation in their activities. Many managers opt for the philosophy of “”Well, its not my business.“”
Continue reading

Redefinisi CSR

Kata ‘Social’ yang terselip di antara kata Corporate dan Responsibility tampaknya telah membuat salah kaprah berkepanjangan, bahkan sudah mendegradasi makna dari kata Responsibility (baca; tanggung jawab) perusahaan terhadap lingkungannya (baca; stakeholder-nya).

Terdapat kesan bahwa dengan melakukan CSR yang bernuansa sosial, perusahaan sudah merasa lepas dari tanggung jawab terhadap dampak negatif yang ditimbulkan mereka terhadap lingkungan.

Bahkan ada yang sampai mendapatkan penghargaan membanggakan dengan hanya menyisihkan sebagian kecil dari keuntungan yang mereka peroleh. Sementara di sisi lain, untuk mendapatkan keuntungan itu, kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya jauh lebih besar.
Continue reading

Mengembangkan Usaha Secara Disiplin

Dikarenakan pasar tumbuh, maka pertumbuhan perusahaan dari sisi volume produksi, nilai penjualan, maupun laba adalah sebuah keharusan.

Perusahaan yang tidak dapat mengikuti pertumbuhan pasar relatif akan mengecil.  Apabila keadaan ini berlanjut maka eksistensi perusahaan dapat terancam.

Pengembangan usaha dapat dilakukan dengan berbagai strategi diantaranya adalah:

  • Strategi penetrasi pasar dilakukan dengan menambah penjualan di pasar yang saat ini dilayani dengan produk yang ada,
  • Strategi pengembangan produk dilakukan dengan menambah produk baru di pasar,
  • Strategi pengembangan pasar dilakukan dengan memperluas wilayah pemasaran, atau
  • Strategi memperluas segmen pasar dengan menggunakan produk yang sudah ada (existing products).

Continue reading

Standardisasi dan Sertifikasi Profesi: Sebuah Tren atau Kebutuhan?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesi berarti bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan dan keahlian tertentu, sedangkan Oxford Dictionary mendefinisikannya sebagai pekerjaan yang dibayar, terutama pekerjaan yang membutuhkan pendidikan dan pelatihan lanjutan.

Adapun standar didefinisikan sebagai ukuran tertentu yang dipakai sebagai patokan dan standardisasi merupakan penyesuaian bentuk (ukuran, kualitas) dengan pedoman (standar) yang telah ditetapkan.

Mengapa Perlu Standardisasi Profesi?

Igor Ansoff, pakar manajemen strategi, menyatakan, untuk sukses bersaing dalam kondisi lingkungan yang berubah secara turbulen, suatu organisasi harus memiliki kapabilitas atau kemampuan yang fit terhadap turbulensi lingkungan tersebut. Kapabilitas organisasi ditentukan tiga faktor utama, yaitu profil manajer, kompetensi, dan iklim atau budaya organisasi.
Continue reading

Penggunaan Outsourcing = Masalah?

Akhir-akhir ini istilah outsourcing menjadi topik yang sering dibicarakan. Namun menjadi isue hangat pada saat May Day, atau yang kita kenal dengan Hari Buruh, dimana buruh beramai-ramai menentang penggunaan outsourcing karena dianggap tidak sesuai dengan kemanusiaan.

Sebelum terjerumus dengan perdebatan panjang maka sebaiknya secara bersama memahami dulu apa itu outsourcing. Outsourcing secara umum dapat diartikan sebagai proses memperkerjakan pihak ketiga dengan suatu bentuk kontrak.

Dalam bukunya, Sukses Implementasi Outsourcing, Iftida Yasar menyebutkan bahwa outsourcing adalah penyerahan kegiatan perusahaan baik sebagian ataupun secara menyeluruh kepada pihak lain yang tertuang dalam kontrak perjanjian.
Continue reading

Waspadai Ekonomi Biaya Tinggi

‘Reformasi birokrasi kini dinilai tidak efektif lagi’, demikian opini publik yang terbentuk pasca pengungkapan kasus korupsi di sejumlah lembaga dan institusi negara.

Gerakan ‘pemangkasan’ jalur birokrasi yang semula bertujuan untuk meningkatkan efektivitas layanan negara kepada masyarakat dan segenap pemangku kepentingan kini malah menjadi salah satu faktor pemicu ekonomi biaya tinggi.

Penurunan tingkat kepercayaan masyarakat akan komitmen pemerintah dalam memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya diprediksi akan memicu kompleksitas permasalahan yang terjadi.
Continue reading

Urgensi Model Bisnis Baru

Rasanya tidaklah keliru jika pemimpin perusahaan mengikuti nasihat dokter “Mencegah lebih baik daripada mengobati”.

Seperti juga tubuh manusia, setiap perusahaan akan melewati masa sehat dan masa sakit, masa muda dan masa tua.  Cepat atau lambat, betapa pun suksesnya, sebuah perusahaan akan kehabisan ruang untuk tumbuh.

Pimpinan sering berpikir bahwa mereka bisa ber-leha-leha ketika perusahaan sedang di atas angin. Sebenarnya, justru ketika pendapatan perusahaan sedang mengalir deras, laba besar, dan harga saham menanjak, itulah saatnya bagi pimpinan untuk waspada.
Continue reading

50 : 50

Rencana masuknya Mitsui Sumitomo Insurance ke Asuransi Sinarmas life membuat komposisi kepemilikan saham akan menjadi 50% Sinarmas dan Mitsui 50%. Apa yang terjadi dengan kepemilikan seperti itu? Siapa yang berkuasa? Mayoritas pemilik tidak muncul dalam model 50:50.

Kepemilikan

Sebuah perseroan terbatas (PT) dimiliki minimal oleh dua pihak. Tidak ada pemilik tunggal atas PT. Demikianlah aturan hukum berlaku. Hal ini juga menjelaskan mengapa pada BUMN tertentu pemiliknya adalah 99% pemerintah, sedangkan sisanya 1% adalah koperasi karyawan.

Pemegang saham adalah pemilik, seberapapun jumlah lembar saham yang dimiliki. Pada perusahaan yang dimiliki sedikit orang, pemegang saham disebut dengan pemilik (owner).
Continue reading