Strategic Leadership

jakarta baruBlusukan tiba-tiba saja menjadi kata yang sangat populer untuk menggambarkan pemimpin yang merakyat.

Gubernur DKI Jakarta Jokowi beserta wakilnya Ahok yang menjadi pionir dalam pendekatan merakyat ini semakin menjadi populer karena media massa senantiasa mengikuti kemana mereka blusukan dan diberitakan secara luas.

Dampaknya luar biasa! Hasil survei yang mencoba menjaring Calon Presiden 2014, Jakowi menduduki posisi teratas.

Memang banyak juga yang skeptis mempertanyakan kapan Jokowi memikirkan hal besar, jangka panjang, dan stratejik? Di sinilah letak seni mempimpin.

Paul J.H. Schoemaker di Harvard Business Review menyinnggung bahwa Pemimpin dewasa ini harus pandai menyeimbangkan antara masalah praktis sehari-hari yang harus dijawab segera, dengan kemungkinan masalah di masa depan yang berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang.

Dalam hal ini perlu keahlian untuk membuat keputusan yang seimbang antara pemikiran investasi jangka panjang untuk pertumbuhan dengan tekanan jangka pendek yang beroritentasi pada hasil.

Karena setiap kali mengambil keputusan harus mempertimbangkan aksi trade-off, risiko yang mungkin ditanggung dan konsekuensi yang tidak diharapkan terhadap pelanggan dan stakeholder lainnya. Pemimpin seperti inilah yang disebut sebagai pemimpin yang memiliki kompetensi Strategic Leadership.

Keterampilan kedua yang sejatinya juga dimiliki oleh pemimpin adalah kemampuan mengantisipasi. Untuk itu pemimpin perlu untuk  selalu mengumpulkan informasi dari banyak pakar dan berbagai sumber.

Dalam hal ini semua kemungkinan gerakan dan reaksi pesaing terhadap inisiatif dan produk baru harus lah selalu diprediksi dan diantisipasi.

Antisipasi membuat pemimpin tidak gamang dalam menghadapi kejadian-kejadian berbeda dengan rencana awal, karena untuk itu telah disiapkan rencana preventif dan antisipatif.

Keberanian untuk menantang adalah keterampilan selanjutnya. Dalam hal ini semua masalah harus dilihat dan diposisikan dari berbagai sudut pandang sehingga dapat dipahami akar permasalahannya.

Contoh ketika bencana banjir menerjang Ibukota, salah satu kunci sukses Jokowi  adalah keberhasilan penanganan bencana banjir yang  tidak hanya dilihat dari sudut pandang ekonomi dan politik saja namun juga dari sisi kemanusiaan dan aspek budaya masyarakat urban.

Keterampilan keempat adalah kemampuan dalam menginterpretasi situasi dan kondisi. Pemimpin sejatinya harus senantiasa peka terhadap masalah yang terjadi dan menghadapinya dengan sikap terbuka. Untuk itu berbagai kemungkinan penyebab harus dikembangkan dan diuji bersama-sama dengan dewan pakar sebelum menyimpulkannya.

Tindakan tanggap juga perlu dilakukan untuk mengatasi masalah taktis operasional dan jangka pendek, namun tindakan terukur dan terkonsep tetap harus dirancang untuk menyelesaikan masalah stratejik, jangka panjang nan kompleks secara tuntas.

Kemampuan untuk menyelaraskan adalah keterampilan selanjutnya. Semua latar belakang dan batasan yang memicu dilakukannya perubahan hendaknya dianalisis untuk kemudian diputuskan bagian mana yang berpotensi menimbulkan perbedaan pandangan.

Dalam memutuskan merger dan akusisi misalnya, potensi konflik akan membesar bila tidak ada penyelarasan hasil dan konsekuensi diantara pihak yang terlibat.

Keterampilan terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuan untuk belajar. Memimpin juga akan menghasilkan kumpulan kisah sukses dan tentunya kisah kegagalan.

Untuk itu keduanya perlu disampaikan agar tidak hanya pemimpin yang mendapatkan hikmahnya, tetapi juga semua orang di dalam organisasi.

Dengan begitu orang lain juga dapat belajar tentang suatu masalah, apa sebab utamanya beserta pilihan keputusan yang telah diambil, baik yang kemudian berujung sukses maupun yang menemui kegagalan.

Dengan demikian diharapkan sebuah kesuksesan dapat diulang dan di saat yang bersamaan kegagalan dapat dihidari.

Kompetensi Strategic Leadership membawa pemimpin melewati masa-masa sulit sambil terus melihat peluang di masa depan. Ingatlah bahwa peluang terbaik akan terjadi bukan pada saat tenang tanpa gejolak, tetapi justru akan terjadi pada masa krisis yang dinamis.

*Tulisan ini dimuat di majalah BUMN Track No. 68 Th. VII Maret 2013. h. 104

Andi Ilham SaidIr. Andi Ilham Said, MSOM, Ph. D.  Direktur Utama PPM Manajemen.
ais@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s