Inovasi & Solusi Kekinian

innovation-solutionPasca pemberlakuan ACFTA (ASEAN China Free Trade Area) di awal 2010, skema persaingan di pasar domestik oleh sebagian kalangan dinilai makin kompleks.

Masuknya pemain asing dengan memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas, serta kemajuan dan perkembangan dunia inoformasi serta teknologi telah menciptakan kompleksitas bagi manajemen untuk merumuskan daya saing.

Kepemimpinan harga (baca; cost leaderships) dipercaya telah menjadi sebuah hal yang biasa. Di sisi lain kekuatan inovasi terbukti mampu memperpanjang umur perusahaan. Ini berarti bahwa ‘kekinian’ telah menjadi dimensi kuat sebagai indikator kinerja perusahaan. Jika demikian bagaimana seharusnya perusahaan memandang proses inovasi yang akan menciptakan sebuah ‘kekinian’?.

Secara umum, premise yang mengatakan bahwa bisnis adalah tentang inovasi saat ini tepat adanya. Output dari proses inovasi dipercaya mampu menciptakan ‘tautan’ antara kekuatan organisasi entitas bisnis dengan masa depannya. Namun sadarkah kita bahwa itu hanya terjadi bila inovasi dipahami sebagai sebuah siklus dalam kehidupan perusahaan.

Dari sudut pandang ilmu manajemen, siklus inovasi ternyata didasari pada kekuatan komitmen pada nilai-nilai dasar perusahaan atas eksistensinya kepada konsumen.

Pemahaman bahwa perusahaan turut bertanggung jawab dalam peningkatan kualitas hidup konsumen seturut dengan kemampuan ekonominya merupakan salah satu nilai yang melandasi setiap proses inovasi. Sehingga keakuratan definisi kualitas hidup di masa depan menjadi salah satu pertimbangan utama.

Meski terkesan sederhana, namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa seringkali manajemen ‘memaksakan’ standard kualitas hidup kepada konsumennya secara sepihak.

Dengan balutan kekuatan inovasi dan penentuan harga (baca: price maker) yang dimiliki perusahaan, tanpa disadari konsumenlah yang dibebani biaya investasi atas mekanisme tersebut.

Tak berhenti di situ, konsumen jugalah yang harus membayar biaya untuk proses pembentukan opini atas kekinian produk. Alhasil dalam konteks tersebut hilanglah esensi inovasi sebagai bentuk pertanggung jawaban perusahaan pada peningkatan kualitas hidup konsumen.

Pandangan konservatif atas inovasi menyatakan bahwa pada posisi kewarganegaraan perusahaan, seharusnya entitas bisnis memandang inovasi sebagai langkah esensial bagi kelangsungan hidup kedua belah pihak; produsen dan konsumen.

Produsen bukan menciptakan inovasi bagi konsumennya, melainkan juga bagi dirinya sendiri. Sehingga wajar bila produsen turut menanggung biaya investasi atas proses tersebut.

Selanjutnya bila pemahaman itu yang diusung, maka inovasi diyakini sebagai hasil temuan dua pihak, konsumen dan produsen. Point inilah yang akan menempatkan konsumen sebagai rekan kerja perusahaan dalam merumuskan definisi kekinian dari output inovasi yang dihasilkan.

Dengan demikian kolaborasi dan pemahaman manajemen akan kebutuhan masa depan pasar menjadi langkah lanjutan dari proses inovasi. Tak mudah memang, namun keberanian kedua belah pihak untuk keluar dari zona nyaman saat ini akan menyederhanakan proses identifikasi kebutuhan masa depan.

Tak berhenti di situ, kolaborasi juga dilakukan sebagai tahap pengujian bagi temuan dan ide inovasi. Tak jarang pada tahap ini perusahaan turut melibatkan institusi pendidikan untuk mengusung unsur obyektivitas penilaian. Sehingga setelah selesai dengan pengayaan beberapa pihak, barulah perusahaan dapat memperbanyak produksi output untuk melayani pasar.

Nah, mengingat inovasi identik dengan kekinian, maka fase tersebut akan berulang sedemikian rupa hingga menciptakan siklus. Kini tinggal masalah komersialisasi dari produk besutan inovasi.

Sebagian kalangan percaya bahwa panjang – pendeknya umur produk di pasar ditentukan dari keberhasilan kinerja komersialisasi dalam membentuk opini. Alhasil kejenuhan pada pasar domestik hendaknya dipahami sebagai saat bagi manajemen untuk melirik pasar global. Dengan cara ini perusahaan dapat mempertahankan kekinian dari inovasi yang dihasilkan.

*Tulisan ini dimuat di Harian Kontan

aries heruAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana. PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s