Dari Commuter Line Ke Commuter Worker

Bagi sebagian besar masyarakat perkotaan, bertempat tinggal di daerah pinggiran untuk berkarir di pusat kota merupakan fenomena sosial yang dihadapi sehari-hari. Berangkat sebelum matahari terbit dan pulang pasca terbenamnya telah menjadi sebuah konsekuensi logis.

Oleh karenanya sarana transportasi serta infrastruktur akses jalan yang layak kini menjadi kebutuhan utama. Tak ayal kereta api commuter (baca; commuter line) pun saat ini menjadi primadona. Tidak hanya itu, komunitas pengguna jasa tersebut menamakan dirinya ‘roker’ alias rombongan kereta.

Jika anda secara konsisten menggunakan jadwal keberangkatan tertentu, maka otomatis akan bertemu dengan rombongan yang sama, baik saat berangkat maupun pulang.

Meski pola kerja tersebut secara konsep dinilai tak terlalu menguntungkan, namun penambahan komunitas ini terjadi secara signifikan dari waktu ke waktu.

Kuatnya daya tarik perkotaan sebagai pusat mengais ‘rejeki’ disebut-sebut sebagai factor pemicu pertambahan tersebut. Alhasil realitas yang tengah terjadi mendatangkan sejumlah masalah baru, sebut saja tingkat kepadatan hunian kota pada jam kantor.

Di Jakarta, kepadatan moda transportasi umum di jam-jam kantor mampu mencapai 130% di atas kapasitas normal. Tak hanya itu, kepadatan lalu lintas pada jam-jam ‘sibuk’ pun kini telah dipahami suatu kewajaran.

Menilik realitas sosial di atas dari kacamata manajemen kinerja memang bukanlah hal sederhana. Ada banyak waktu terbuang percuma untuk sekedar antri di jalan raya, atau dalam memanfaatkan sarana transportasi umum.

Parahnya, fenomena ini juga melanda sejumlah media transportasi laut dan udara. Dapat dibayangkan seorang profesional membutuhkan waktu hampir 2 jam hanya untuk menempuh jarak kurang dari 12 km dari satu lokasi pertemuan ke lokasi selanjutnya pada setiap jam-jam ‘sibuk’, padahal pola kerja 8 hingga 9 jam sehari telah masuk dalam perhitungan gaji pokok bulanan. Sehingga wacana bagaimana metode kerja yang paling efektif dan efisien di kota-kota besar kini menjadi krusial.

Satu alternatif yang diperkirakan akan mengalami pengembangan pesat adalah proses kerja berbasis penggunaan teknologi informasi berbasis ‘web’, tidak hanya sekedar email, chatting maupun video conference, melainkan juga sejumlah aplikasi personal lain sebut saja otomatisasi kalender jadwal kerja.

Di beberapa negara maju, pola ini dikenal dengan istilah commuter worker dan telah diakomodir sebagai proses bekerja yang ‘sah’. Beberapa bahkan tidak sampai meninggalkan ruang kerja di apartemen atau rumah pribadinya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

Lebih dari itu, setiap pekerja dapat mengisi waktu luangnya (seperti saat dalam perjalanan di mobil atau sarana umum) untuk menyelesaikan tugas berikut laporan tertulis.

Melalui sejumlah aplikasi chatting, conference dan telekomunikasi lainnya, seorang profesional diyakini dapat mencapai target secara lebih efisien dan efektif. Beberapa industry yang kini telah meraup keuntungan dari pola kerja ini adalah pendidikan dan jasa kreatif.

Meski demikian bukan berarti bahwa pola commuter worker telah berhasil merumuskan cara kerja efektif di abad 22. Beberapa hal terkait definisi kerahasiaan (baca: confidentiality) serta penentuan kriteria kinerja diyakini akan mengalami pergeseran. Untuk itu perusahaan harus mulai memikirkan pergeseran nilai-nilai dan budaya kerja baru ini.

Di sisi lain, sebagian kalangan meyakini bahwa metode commuter worker masih belum seefektif metode konvensional, terutama dalam penumbuh kembangan loyalitas serta rasa kekeluargaan dalam organisasi.

Bertemu secara periodik lewat chatting dan on line conference bukan berarti mengenal satu pribadi dengan lainnya. Meski bekerja dalam satu ruangan fisikpun juga belum menjamin hal tersebut. Namun setidaknya ukuran efisiensi waktu masih menempatkan pola kerja tersebut sebagai primadona masa depan.

Di satu sisi kepentingan individu tetap terjaga, di sisi lain target perusahaan akan dapat dicapai dengan lebih efektif.

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 6 Maret 2013

SONY DSCAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s