Menyoal Aksi Fraud

Dua kasus di sektor keuangan yang merebak belakangan ini dapat dikatakan terkait dengan penyalahgunaan wewenang.

Dua institusi terkemuka menjadi pelaku utamanya. Kasus pertama adalah Citibank terkait dengan nasabahnya. Kasus kedua antara Bank Mega dengan nasabahnya, Elnusa. Mengapa hal itu dapat terjadi?

Kasus yang terjadi di Citibank mengejutkan banyak kalangan. Dalam banyak pembicaraan, kita sering menggunakan bank asing sebagai benchmark untuk kinerja dan sistem yang baik. Namun apa lacur,  satu pelajaran penting yang perlu diambil di sini, tidak ada satu pun perusahaan yang selamanya kebal dari aksi fraud.

Kasus pertama terjadi pada bagian wealth management Citibank dengan nasabah perorangan yang super kaya. Kasus kedua terjadi di Bank Mega dengan nasabah corporate. Akan tetapi keduanya memiliki akar sama, yaitu terdapatnya keterlibatan  ‘orang dalam’.

Segitiga Maut

Dalam masalah fraud ini, para pakar sering menggunakan segitiga fraud. Ada tiga hal yang dianggap dapat menimbulkan fraud, yaitu tekanan (pressure), kesempatan (opportunity) dan rasionalisasi.

Kesempatan (opportunity), dapat melekat pada individu. Mereka yang berwenang memutuskan investasi, mempunyai kesempatan untuk memilih jenis instrumen investasi dan di mana akan melakukan investasi. Bagian treasury biasanya dibatasi jenis dan jumlah investasi yang boleh diputuskan. Paling tidak ini diharapkan mampu membatasi jumlah kerugian.

Kesempatan ini juga terkait dengan otorisasi. Kesempatan ini tidak muncul pada setiap orang. Jadi wajar apabila ada pameo yang mengatakan “Terang aja nggak korupsi, soalnya kan nggak ada kesempatan”. Pada dasarnya kesempatan ini netral. Kesempatan baru menjadi fraud ketika bercampur dengan elemen lain, misalnya pressure.

Tekanan  (pressure) ini juga banyak jenisnya. Albrech dan Zimbelman menyebutkan greed (keserakahan) pada kasta tertinggi.  Pelaku kejahatan kerah putih (white collar criminals) juga tidak dimonopoli oleh kaum Adam, mengacu pada kasus Citibank. Riset PriceWaterhouseCooper menyebutkan pelaku pria 55%, sedangkan wanita 45%. Jadi beda-beda tipislah. Sementara dari segi umur disebutkan pelaku di atas 30 tahun dengan posisi mapan.

Posisi mapan tersangka dari sisi Elnusa dan dari Citibank, keduanya di atas 30 tahun. Posisi keduanya sama-sama dipercaya. Beberapa ahli fraud mengidentifikasi gaya hidup sebagai salah satu indikasi seseorang melakukan fraud. Dalam kasus Citibank, pelaku yang berinisial MD, misalnya mengoleksi mobil super mahal seperti Ferrari dan Hummer.

Jangan lengah dengan pressure. Seorang nenek di Amerika yang selama berpuluh tahun melakukan pekerjaannya tanpa cacat. Sampai suatu saat beberapa tahun menjelang pensiun, nenek tersebut melakukan fraud.

Alasan fraud-nya juga sederhana, semata ingin memberikan hadiah istimewa kepada cucu tersayang. Alasan inilah yang disebut dengan rasionalisasi. Contoh Rasionalisasi yang lain misalnya, “Toh, tidak akan melukai orang lain!”

Jika Anda seorang manajer investasi, maka dana nasabah yang masuk memberikan kesempatan Anda untuk bermain uang. Anda dapat menggunakan sesaat untuk memperoleh hasil (return) dan setelah itu mengembalikannya tanpa nasabah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tentu hal tersebut dilakukan dengan berbagai asumsi.

Misalnya pelaku berasumsi masalah otorisasi dapat ditangani dengan baik. Untuk melakukan hal ini, pelaku harus bekerja sama dengan orang lain. Bentuknya berbagai macam, dari pemalsuan tanda tangan sampai penggunaan teknologi informasi nan canggih. Tetapi pepatah mengatakan, “Anda tidak bisa membodohi semua orang setiap saat.” Biasanya pelaku meninggalkan jejak, baik dalam bentuk digital maupun bukan.

Sekali lagi,  Internal Control

Hakikat pressure (tekanan) pada dasarnya melekat pada orang. Rasionalisasi juga melekat pada orang. Sementara kesempatan melekat pada jabatan. Faktor kewenangan dalam jabatan  inilah yang sebenarnya dapat ditangani dengan kontrol internal dengan berbagai elemennya. Misalnya adalah  pembatasan wewenang dan otorisasi. Sebagai sebuah sistim, kontrol internal tetap memerlukan  manusia sebagai pelaku utamnya.

Pressure dan rasionalisasi ditengarai mampu mengubah seseorang yang ‘baik’ sejak awal untuk kemudian  menjadi pelaku kejahatan kerah putih. Tetapi pembatasan otorisasi menjadi tumpul ketika terjadi kerja sama. Jabatan juga mampu membuat bawahan yang tidak sejalan untuk dipindahkan. Rotasi jabatan kadang-kadang digunakan sebagai salah satu jalan keluar. Pada kasus Citibank, terjadi pelanggaran pada rotasi yang disyaratkan harus dilakukan setelah tiga tahun.

Apa boleh buat, tidak ada cara lain mengurangi fraud kecuali dengan penerapan kontrol internal yang memadai. Seperti halnya seorang pilot menjalankan pesawat terbang. Pilot akan membuka buku manual setiap kali akan tinggal landas. Walaupun kebanyakan kita akan mengatakan bahwa hal itu membosankan. Tapi cara itulah yang perlu dilakukan untuk menghindari kelengahan.

Ketika prosedur tidak dilaksanakan dan pesawat mendarat dengan selamat, maka pilot tersebut beruntung. Ketika prosedur sudah dilaksanakan dan terjadi kecelakaan pesawat, kesalahan bukan lagi pada pilot. Setelah kecelakaan, dilakukan investigasi yang bisa saja salah satu rekomendasinya adalah memperbaiki manual sebelumnya.

McKinsey mengatakan kesehatan organisasi merupakan fondasi untuk tercapainya tujuan perusahaan. Elemen kesehatan organisasi antara lain adalah individu, skill dan budaya organisasi. Pengendalian internal yang memadai merupakan salah satu bentuk saja dari kultur yang bersifat prudent, terutama pada lembaga keuangan.

*Tulisan dimuat di harian Kontan, 22 Juni 2011.

Toto PrihadiToto Prihadi. Ketua Kajian Manajemen Keuangan di PPM Manajemen
TPD@ppm-manajemen.ac.id

One thought on “Menyoal Aksi Fraud

  1. Menurut hasil survey Asia Anti Fraud di Indonesia, malaysia dan Thailand ternyata 40% orang menipu, 40% lagi akan menipu apabila tidak ketahuan. Hanya 20% orang punya integritas atau bahasa lainnya beriman. Beriman artinya meskipun tidak ada yang melihat apa yang dikerjakan orang tersebut percaya bahwa ada malaikat yang melihat dan mencatat apa yang dikerjakannya. Tapi iman ini ada kadarnya seperti emas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s