Kepemimpinan Otentik

Menurut sekolah bisnis terkemuka di AS, Harvard, selama 50 tahun terakhir lebih dari 1.000 studi dilakukan untuk mengidentifikasi dan memahami karakteristik pemimpin, ciri kepribadian dan gaya kepemimpinan.

Tujuan studi adalah untuk memperoleh faktor-faktor yang dapat dilatihkan dan dikembangkan pada sumber daya manusia di perusahaan, sehingga terbentuk banyak pemimpin yang akan membawa perusahaannya pada kesuksesan. Namun sejauh ini, studi tersebut tidak menunjukkan hasil kongkrit. Syukurlah!

Kalau tidak, dapat dibayangkan usaha perusahaan untuk menciptakan pemimpin sesuai dengan hasil studi tersebut. Bila karakteristik pemimpin sukses adalah seperti Leonidas, raja para Spartan dalam film 300, yang bertubuh tinggi, tegap, penampilan garang, sorot mata tajam, cara bicara tegas dan berapi-api, Anda yang ‘tidak seperti’ Leonidas tentu akan sulit menjadi pemimpin sukses.

Kalau pun pemimpin tiruan Leonidas itu dapat dibentuk, apakah Anda bahagia? Apakah ke 300 prajurit Spartan yang gagah berani tersebut bisa menghormati orang yang merupakan tiruan Leonidas? Rasanya sulit menghargai dan menghormati orang yang merupakan tiruan orang lain.  Tidak otentik. Tidak asli.

Menurut Albrecht (2006), penulis buku Social Intelligence, otentik menunjukkan seberapa jujur dan tulus seseorang pada diri sendiri dan pada orang lain. Kepemimpinan sarat dengan muatan kepercayaan (trust). Seorang pemimpin yang layak dipercaya adalah ia yang berani menjadi dirinya sendiri. Seorang pemimpin yang otentik.

Studi yang dilakukan Bill George, profesor di Harvard, menemukan bahwa kepemimpinan otentik harus dikembangkan oleh masing-masing calon berdasarkan pada kehidupannya sendiri. Hasil studi yang diterbitkannya  dalam buku True North: Discover Your Authentic Leadership (Jossey-Bass) pada bulan Maret lalu menunjukkan bahwa kepemimpinan seseorang berkembang sejalan dengan peristiwa-peristiwa yang dialaminya dalam hidup.

Salah satu tokoh yang dijadikan contoh oleh George adalah Daniel Vasella, pimpinan dan CEO  perusahaan farmasi dunia Novartis. Masa kecil Vasella adalah masa sulit karena penyakit TBC dan radang otak yang dideritanya. Ia tinggal di sanatorium, kesepian dan dihantui oleh rasa takut oleh pemeriksaan rutin cairan sumsum tulang belakang.

Penyakit itu membuatnya tidak dapat bermain bebas. Tinggal di sanatorium membuatnya tidak mempunyai teman dan kesepian.  Belum lagi rasa takut akibat tusukan jarum suntik ke tulang belakang dan perlakuan suster yang selalu menekan tubuhnya agak tidak berontak.

Namun Vasella  tidak menjadi pribadi lemah, ia  mengatasi kesulitannya lewat  pertemanan dengan sesama pasien, suster, dan dokter. Setiap kali cairan sumsum tulang belakangnya  diperiksa, ia meminta suster menggenggam tangannya dengan hangat.  Ia merasa sakitnya berkurang banyak.

Kesulitan yang dihadapi Vasella tidak berhenti pada saat ia sembuh. Ketika berusia 10 tahun, saudara perempuannya meninggal karena kanker. Tiga tahun kemudian ayahnya meninggal di meja operasi. Akibatnya ibu Vasella harus mencari nafkah di kota lain, pulang tiga minggu sekali.

Pada usia 20 tahun, Vasella masuk ke sekolah kedokteran. Setelah lulus–dengan pujian–ia membuka praktek. Reputasi cemerlang membawanya menjadi salah satu kandidat chief physician di universitas Zurich. Namun ia ditolak karena dianggap masih terlalu muda.

Tidak larut dalam kekecewaan, Vasella kemudian berkarier di perusahaan farmasi Sandoz. Ketika Sandoz merger dengan Ciba-Geigy – membentuk Novartis – pada tahun 1999, Vasella diangkat menjadi CEO.

Melalui Novartis, Vasella mewujudkan visi untuk menemukan dan mengembangkan obat-obatan  guna menolong sebanyak mungkin manusia. Salah satu obat legendaris adalah Gleevec yang membantu penderita  kanker myeloid leukemia.

Di bawah kepemimpinannya Novartis mengembangkan budaya organisasi yang bertumpu pada rasa kasih terhadap sesama, kompetensi unggul, dan persaingan sehat (compassion, competence, dan competition). Semua ini membawa Novartis menjadi perusahaan farmasi global yang disegani dan Vasella sebagai CEO yang welas asih dan dihormati.

Walaupun  hanya dalam film, Leonidas juga mengembangkan kepemimpinan melalui peristiwa-peristiwa dalam hidupnya. Ia adalah putera raja yang dididik secara militer sejak  kecil dan ketika remaja ia diharuskan hidup mandiri di alam terbuka yang ganas tanpa teman. Pengalaman hidup membentuk Leonidas sebagai pemimpin kaum Spartan yang gagah berani.

Kisah di atas adalah  tentang Leonidas dan Vasella, bagaimana dengan Anda?

George, dan kawan-kawan (2007) menyarankan agar kita  sadar nilai-nilai apa yang melandasi keputusan-keputusan yang kita ambil. Bahwa uang adalah segala-galanya atau keluarga nomor satu atau menang merupakan kata kunci untuk semua bidang yang Anda terjuni atau…apa? Seringkali kita tidak begitu menyadari nilai-nilai ini karena tidak memberi waktu untuk memahaminya.

Cobalah kembali memutar waktu kehidupan dan memikirkan kembali keputusan-keputusan yang telah diambil dan nilai-nilai apa yang melandasinya. Nilai-nilai ini sangat mempengaruhi apa yang menurut kita penting atau kurang penting.

*Tulisan ini pernah dimuat di majalah Pelangi, Oktober 2007.

Ningky Risfan Munir blogNingky Sasanti Munir. Dosen dan peneliti pada Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Manajemen PPM–Jakarta
NKY@ppm-manajemen.ac.id

One thought on “Kepemimpinan Otentik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s