Strategic Thinking

Salah satu komponen yang dibayar perusahaan dari seorang direktur adalah mimpi. Dalam beberapa kesempatan menjadi asesor calon direksi, pertanyaan pertama yang biasanya saya ajukan adalah,  “Jika Anda menjadi pimpinan tertinggi perusahaan ini, apa yang akan berbeda tiga tahun mendatang?”

Jawaban pertanyaan ini memerlukan kemampuan calon direksi untuk merangkai mimpi.  Ketepatan mengubah mimpi menjadi visi dan strategi masa depan, akan menghasilkan kisah sukses yang membanggakan, demikian pula sebaliknya.

Jadi, memang benar, jika salah satu komponen gaji direktur adalah Mimpi. Namun mimpi seorang direktur memiliki nilai tinggi dan dampaknya bisa sangat mahal. Kualitas mimpi sangat ditentukan oleh kemampuan berpikir dalam jangka panjang, inilah yang disebut dengan Strategic Thinking.

Terdapat empat ciri strategic thinking yang berkualitas. Pertama, adalah tajam dan sistematis dalam melihat sesuatu hal yang bersifat abstrak. Masa depan selalu abstrak, memikirkan masa depan ibarat melihat keluar  jendela dengan pandangan jauh ke depan, maka bisa jadi yang tampak hanya bayangan samar.

Untuk itu diperlukan beberapa asumsi sebagai alat bantu  untuk merangkai dan mewujudkannya agar lebih terlihat jelas dan nyata. Kecerdasan dalam melihat hasil riset dan analisa tren akan sangat membantu.

Berpikir secara tajam berarti mengembangkan analisa  secara mendalam pada setiap fenomena sebab-akibat. Sedangkan sistematis berarti logis mengikuti urutan pola pikir yang rasional, tidak melompat-lompat atau terburu-buru menyimpulkan sebelum proses analisa lengkap dan selesai.

Ciri kedua adalah sudut pandang selalu lengkap dan tuntas. Ketika berpikir stratejik, maka perusahaan selalu dilihat secara utuh pada semua produk dan jasanya, tidak abai pada pada satu pun unit yang terlibat, dan lengkap menata semua rangkaian “value chain” yang ada, mulai dari pemasok hilir sampai ke pengguna hilir.

Seluruhnya diamati dan dievaluasi secara faktual. Bahwa, nantinya ada yang dilihat lebih mendalam, pertimbangannya adalah hukum  prioritas. Prioritas nantinya diperlukan dalam konteks implementasi dikarenakan adanya keterbatasan sumberdaya.

Pada saat merancang strategi jangka panjang,  organisasi seolah dilihat dari helikopter sehingga tidak hanya organisasi yang terlihat utuh, tetapi juga pesaing, pelanggan, para pemangku kepentingan, pemasok, distributor, calon pesaing serta  produk substitusi.

Demikian pula dengan semua faktor makro seperti politik, ekonomi, sosial, teknologi, regulasi dan lingkungan juga menjadi masukan ketika mempertimbangkan rencana.

Dengan demikian dalam merancang rencana masa depan, rencana tidak akan hanya selesai pada satu keputusan terbaik yang dipilih, tetapi juga dilengkapi rencana antisipasinya dalam bentuk  analisa risiko dan analisa potensi persoalan.

Ciri ketiga adalah dapat berpikir di luar paradigma yang sedang terjadi. Masa depan bukan saja berbeda karena dasar asumsi yang berbeda, namun juga bisa berbeda karena perbedaan paradigma, bahkan kejadian sebab-akibat yang nyata terlihat sekarang, bisa jadi di masa yang akan datang tidak  sesuai  lagi.

Itu sebabnya, dalam strategic thinking perlu selalu berpandangan kritis, keluar dari kebiasaan (think outside of the box). Bahkan sampai pada ide paling ekstrim sekalipun tetap berguna untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan, disini kreativitas yang mendorong inovasi menjadi sangat diperlukan.

Keempat adalah dapat menganalisa secara efektif meskipun informasi tidak lengkap. Dengan demikian  melihat masa depan haruslah seperti menyusun puzzle yang hilang satu atau 2 keping. Ketajaman dalam mengembangkan asumsi-asumsi memiliki arti penting demi menutup kurangnya informasi dan  akan menjadi sangat penting dan menentukan keberhasilan dalam merancang rencana masa depan.

Dengan berbekal strategic thinking, direktur menuangkan mimpinya dalam bentuk Visi dan Misi yang kemudian diturunkan menjadi rencana stratejik yang diaplikasikan dalam Arah, Sasaran, dan Program Kerja. Sehingga dapat dibenarkan jika mimpi seorang direktur dinilai tinggi, karena hal inilah yang akan menjadi faktor pembeda.

Andi Ilham SaidIr. Andi Ilham Said, Ph,D. Direktur Utama PPM Manajemen
ais@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s