Akuntan dan Bisnis Berkelanjutan

Bisnis yang berkelanjutan (sustainable business) adalah bisnis yang memastikan bahwa semua aktivitasnya telah mempertimbangkan semua dampaknya terhadap aspek sosial dan lingkungan, namun tetap memperoleh keuntungan. Dengan kata lain, bisnis yang  berkelanjutan identik dengan 3P – people, planet dan profit.

Organisasi yang bertindak sesuai dengan sikap keberlanjutan, tidak hanya membantu menjaga kesejahteraan dan keberlanjutan people dan planet, namun juga menciptakan bisnis yang mampu bertahan (profit) dalam berbagai kondisi dan berjaya dalam jangka panjang.

Keberhasilan bisnis jangka panjang membutuhkan praktik keberlanjutan yang benar-benar merasuk dalam sel terkecil organisasi, ibarat DNA pada manusia.

Banyak orang yang belum menyadari  bahwa profesi akuntan memainkan peranan yang sangat penting dalam hal ini. Akuntan bisa berperan sebagai ‘the leading agents’ untuk melakukan perubahan dengan menggunakan keahlian dan kompetensinya dalam mengembangkan strategi keberlanjutan, memfasilitasi implementasi yang efektif, melakukan pengukuran yang akurat dan pelaporan bisnis yang kredibel.

Faktor–faktor  pendorong perusahaan untuk mengimplementasikan bisnis yang berkelanjutan

Secara internasional, kesadaran akan pentingnya komitmen bersama untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan menyelamatkan dunia dari kerusakan yang lebih parah dimulai dari Protokol Kyoto.

Kesepakatan yang ditandatangani 11 Desember 1997 dan diberlakukan sejak 16 Februari 2005 ini diratifikasi oleh 181 negara di dunia. Setiap negara, terutama negara-negara industri yang menjadi penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca, mempunyai target penurunan emisi. Dan target-target tersebut diturunkan pada setiap perusahaan di negara-negara tersebut.

AICPA, CICA dan CIMA ketiganya adalah asosiasi akuntan di Amerika Serikat, Kanada dan asosiasi akuntan manajemen secara berurutan – melakukan survei mengenai faktor apakah yang paling utama dalam mendorong perusahaan untuk mengimplementasikan bisnis yang berkelanjutan, dan diperoleh hasil sebagai berikut:

•    Kepatuhan terhadap regulasi
•    Pengelolaan  risiko atas reputasi internasional dan,
•    Pengurangan biaya dan efisiensi

Di Indonesia, regulasi terkait dengan penerapan dan pengungkapan bisnis yang berkelanjutan antara lain:

  1. Regulasi Bappepam yang mewajibkan pengungkapan aktivitas CSR dalam laporan tahunan sejak tahun 2005
  2. UU PT no 40 tahun 2007
  3. Semua BUMN diwajibkan mengalokasikan 1-3% dari laba bersih  untuk membiayai program pengembangan masyarakat dan menyerahkan laporan terpisah yang sudah diaudit.

Menjadi bisnis yang berkelanjutan

Berikut ini ada 10 langkah, yang dibagi dalam 3 (tiga) kelompok besar yang bisa dijadikan pedoman untuk mencapai bisnis yang berkelanjutan:

Dari sisi Strategi dan Pengawasan berarti menuntut adanya (1) komitmen dari Dewan Direksi dan manajemen senior, (2) memahami dan menganalisis key sustainability drivers organisasi dan (3) mengintegrasikan key sustainability drivers kedalam strategi organisasi.

Dari sisi Eksekusi dan Asosiasi berarti (4) memastikan bahwa keberlanjutan adalah tanggungjawab setiap orang dalam organisasi (jadi, bukan hanya departemen tertentu), (5) menjabarkan target dan tujuan keberlanjutan organisasi menjadi target dan tujuan yang bermakna untuk divisi, departemen atau anak perusahaan, (6) melakukan proses yang memastikan bahwa isu keberlanjutan ini dipertimbangkan secara tegas dan konsisten dalam pengambilan keputusan sehari-hari, (7) mengikuti pelatihan terkait dengan effective dan extensive sustainability, sehingga implementasinya bisa lebih terarah, bukan hanya common sense.

Dari sisi Kinerja dan Pelaporan membutuhkan perusahaan untuk (8) memasukkan target dan tujuan keberlanjutan dalam penilaian kinerja, (9) menjadi yang terdepan dalam mempromosikan keberlanjutan dan merayakan setiap keberhasilan dan (10) memonitor dan melaporkan kinerja keberlanjutan.

Menentukan faktor  pendorong keberlanjutan

Setiap perusahaan memiliki alasan yang berbeda dalam mengimplementasikan bisnis yang berkelanjutan. Berikut adalah  faktor-faktor yang mendorong implementasi strategi  keberlanjutan perusahaan  masih merupakan hasil  Survei AICPA,CICA dan CIMA.

  1. Kepatuhan terhadap regulasi dan hukum
  2. Pengelolaan risiko terhadap merk atau reputasi perusahaan
  3. Mencapai keunggulan bersaing dan profitabilitas jangka panjang
  4. Efisiensi dan penghematan biaya
  5. Nilai-nilai perusahaan
  6. Permintaan pelanggan akan produk yang ‘hijau’ alias peduli lingkungan
  7. Pengawasan publik terhadap praktik ketenagakerjaan, dan praktik bisnis lainnya
  8. Faktor-faktor yang mendorong karyawan bergabung dan bertahan
  9. Persyaratan dari vendor
  10. Bantuan pemerintah, atau insentif lainnya, seperti keringanan pajak atau bunga pinjaman

Peran akuntan dalam mendukung praktik bisnis yang berkelanjutan

Penggunaan ilmu akuntansi untuk melaporkan kinerja aspek keuangan perusahaan merupakan suatu hal yang mutlak dan tentunya sudah tidak asing lagi. Namun akuntansi untuk pelaporan keberlanjutan saat ini belum banyak diketahui publik dan sementara ini penggunaannya hanya bersifat voluntarily atau sukarela.

Kabar baiknya adalah, makin banyak perusahaan di seluruh dunia yang melaporkan aktivitas sosial dan lingkungannya, termasuk Indonesia. Tahun 2005 tercatat hanya ada 1 (satu) perusahaan yang mengikuti ISRA (Indonesia Sustainability Reporting Awards) dan kemudian meningkat menjadi 25 perusahaan (listing dan non listing) pada tahun 2010.

Walaupun dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya kita masih kalah dari sisi kuantitas dan kualitas, namun kita boleh berharap peningkatan tren pelaporan ini merupakan sinyal yang positif.

Akuntansi keberlanjutan memberikan tools yang bermanfaat dalam mengidentikasi, mengevaluasi dan mengelola risiko sosial dan lingkungan. Peningkatan kinerja sosial dan lingkungan tersebut kemudian dikaitkan dengan kinerja keuangan.

Akuntan sangat berperan dalam proses penyusunan dan pelaporan  bisnis yang berkelanjutan ini. Dengan kompetensi yang dimilikinya, akuntan bisa mengukur dampak penerapan strategi keberlanjutan pada kinerja ekonomi, sosial dan lingkungan perusahaan dari tahun ke tahun.

Secara ekonomis, bisa dilihat bahwa penerapan strategi keberlanjutan akan berdampak pada penghematan biaya, dan tentunya akan bermuara pada meningkatnya kinerja ekonomi perusahaan.

Sampai saat ini di Indonesia hanya terdapat dua perusahaan yang menyediakan jasa ‘assurance’ untuk menilai kelayakan Laporan Keberlanjutan yang dihasilkan perusahaan, seperti halnya jasa auditor eksternal untuk menilai laporan keuangan.

Tentunya jasa assurance ini tidak terlepas dari peranan akuntan. Dengan makin meningkatnya kesadaran perusahaan akan pentingnya laporan keberlanjutan, peranan jasa assurance   dan akuntan tentunya, akan semakin dibutuhkan.

NoraNora Sri Hendriyeni. S.E., M.M., Ketua Program Sarjana Akuntansi Bisnis Sekolah Tinggi Manajemen PPM, Board member of NCSR (National Center for Sustainability Reporting) dan pemegang CSRS (Certified Sustainability Reporting Specialist)
NOR@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s