Mantra Baru: Human Capital

“Karyawan merupakan asset  perusahaan. Tetapi, pada prakteknya lebih sering menjadi keset para majikan” kata almarhum Purnomosidi, Menteri Pekerjaan Umum masa Orde Baru.

Orang Indonesia memang punya cara sendiri untuk menciptakan lelucon bagi penderitaannya. Bangsa ini, dengan cara yang sama, juga tidak kapok untuk terus terpancing ikut mode–jurus manajemen terbaru.

Entah tahun berapa, kita semua mengenal istilah personalia:  satu bagian dari perusahaan yang tugasnya mengurus yang segala hal hal yang berkaitan dengan administrasi karyawan.

Karena aturan perburuhan kala itu masih belum sejelas sekarang, kesan kuat per dari kata personalia terasa jadi olok olok. Per, bisa memanjang atau  memendek sesuai situasi.

Zaman bergeser, bagian personalia  berubah menjadi bagian SDM (Sumber daya Manusia). Slogan yang nyaring waktu itu adalah “Karyawan bukan lagi faktor produksi tetapi merupakan asset  perusahaan” Lagi lagi, bangsa ini mampu menemukan plesetan  baru. Dari asset  di plesetkan menjadi keset.

Kemudian muncul mantra baru: Human Capital. Perubahan apa yang akan terjadi, masih belum begitu terasa bagi sebagian besar karyawan. Bagi yang mengenal pendekatan neraca perusahaan, posisi asset  berseberangan dengan posisi capital.

Adalah layak jika karyawan mengharapkan perubahan asset  menjadi  capital  akan berdampak radikal dalam hal posisi dan perlakuan terhadap perusahaan terhadap karyawab di tempat kerjanya.

Sebagai karyawan, dengan posisi Capital,  saya bermimpi–suatu waktu–bisa menjadi bagian dari pemilik. Setelah sekian lama bekerja dengan setia, perusahaan secara otomatis akan memberikan ESOP (Employee Stock Option Programe)–program pemberian saham secara otomatis kepada karyawan.

Posisi saya berubah menjadi karyawan yang merangkap pemilik,  dengan konsekwensi (menyenangkan) terima gaji merangkap deviden. Kebijakan perusahaan, suka atau tidak,  akan ditetapkan melalui musyawarah dan mufakat dengan karyawan– dalam kedudukan sebagai bagian dari Capital.

Arah perusahaan, bukan ditentukan pemilik saham mayoritas atau orang yang memiliki  kedudukan menentukan, tetapi oleh suara mayoritas karyawan yang setuju dengan kebijakan perusahaan tersebut.

Yang lebih menyenangkan lagi, jabatan apapun akan dilelang mirip pemilu, dan tiap orang hanya boleh menjabat dua kali masa jabatan.

Setiap pemimpin baru akan memulai masa kepemimpinannya dengan melakukan survey kepuasan karyawan, dan akan diukur ulang tiap tahun untuk mengetahui keberhasilannya dalam memimpin perusahaan.

Tiba tiba, gubrak habis, saya terbangun dengan perasaan cemas. Perusahaan tempat saya bekerja, laporan RUGI LABA nya menyatakan–tertulis dengan bold tebal dan merah–RUGI BERSIH sekian ratus milyar.

Sebagai karyawan yang Capital, kedudukan saya sama dengan pemilik: TANGGUNG RENTENG atas semua kerugian perusahaan. Untunglah itu semua cuma mimpi!

Bambang Adi SubagiyoBambang Adi Subagiyo. Staf Profesional PPM Manajemen
BAS@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s