Pergulatan Mental Yahudi dalam Bisnis

Seorang pedagang berdarah Yahudi sedang berada dalam kereta api yang akan membawanya ke Moskow. Seorang tentara Rusia duduk persis di samping sang pedagang, tentara itu sedang membuka kotak bekal makanannya, roti dan daging asap. Mengamati hal itu sang Yahudi pun mengeluarkan bekal makan siangnya, sepotong ikan haring.

Di saat mereka siap menyantap bekal masing-masing, si tentara yang dihinggapi rasa penasaran tentang kepandaian Bangsa Yahudi dalam berbisnis, mencoba membuka percakapan.

“Saya masih belum mengerti dari mana kalian orang Yahudi bisa begitu pintar berbisnis” katanya, “Tentu bukan karena makanan kalian yang membosankan itu kan?” tambahnya sedikit mencemooh.

Mendengar cemoohan ini sang yahudi berukjar, “Anda tak akan pernah tahu sebelum mencobanya Tuan, justru di situlah terletak rahasia yang sebenarnya” pungkas pedagang Yahudi tersebut dengan mimik sedikit tersinggung.

“Apakah Anda serius?” tanya si tentara Rusia yang mulai tertarik. “Untuk membuktikannya, saya rela kita bertukar makan siang ini” kata si Yahudi, yang segera disambut antusias oleh sang tentara Rusia itu.

Setelah keduanya menyantap habis makan siang mereka, si tentara Rusia mulai mengeluh, “Rasanya sama sekali tidak enak, tidak kenyang, dan tidak sepadan dengan roti dan daging asap yang saya tukar. Jangan-jangan ini hanya sekedar tipuan Anda?”.

“Nah Tuan, lihatlah efek ikan tadi. Sekarang Anda sudah bertambah pintar bukan…?”, jawab si Yahudi sambil tersenyum.

Bangsa yang Dicemooh

Cerita di atas adalah satu dari banyak gurauan seputar kaum Yahudi, yang merupakan akibat dari stigma kuat yang melekat pada bangsa minoritas ini–-sejak 3.500 tahun yang lalu hingga sekarang– yaitu sifatnya yang dianggap selalu licik dan curang. Dan sifat itulah yang sering diyakini menjadi biang keladi keberhasilan mereka dalam berbagai hal, termasuk dalam berbisnis.

Rasa penasaran menghinggapi dunia atas keunggulan dan keberhasilan kaum Yahudi dalam banyak hal, terutama dalam berbisnis. Jika ditilik dari pencapaian kaum Yahudi maka rasa penasaran tersebut sangatlah wajar.

Betapa tidak – jumlah kaum Yahudi hanya dua permil dari populasi dunia – namun 40 dari orang terkaya di dunia versi Forbes 400 adalah Yahudi, lebih dari 10 persen CEO perusahaan terbesar di dunia versi Fortune 500 juga yahudi, dan hampir 30 persen dari seluruh penerima hadiah Nobel pun orang Yahudi.

Di lain pihak, bangsa kontroversial ini menjadi semacam public enemy di seluruh penjuru dunia dan mendapatkan berbagai cemoohan dari berbagai kalangan.

Di era modern, cemoohan pun sempat dimotori oleh pembesar seperti Henry Ford yang menuliskan dalam bukunya The International Jew: The Worlds’ Foremost Problem, hingga Adolf Hitler dengan Mein Kampf. Sejarah kelam pun dialami oleh kaum ini sejak jaman perbudakan di Mesir ribuan tahun lalu hingga era holocaust.

Di era modern setelah Perang Dunia II, isu utama yang berkaitan erat dengan keberadaan kaum Yahudi adalah polah tingkah negara Israel yang notabene sebagian besar penghuni dan pelaku pemerintahannya adalah orang Yahudi.

Komunitas yang melembaga menjadi sebuah negara dengan segala kontroversinya ini telah menuai tumpukan kecaman dari seluruh dunia dan lagi-lagi menambah panjang daftar cemoohan terhadap kaum Yahudi. Meski tidak selalu kaum Yahudi identik dengan Israel, namun asosiasi citra dan peran antara keduanya amatlah sulit dipisahkan.

Mengintip Olah Pemikiran Yahudi

Lepas dari semua itu, sejarah dunia membuktikan segala cemoohan dan tekanan tidak juga membuat kaum ini terhambat, dan yang lebih buruk hal itu justru membuat kita terlena dan lupa untuk mencari tahu apa yang sebenarnya menjadi penyebab keunggulan mereka.

Salah satu cara jitu untuk melepaskan rasa penasaran dan mungkin untuk sekaligus mendasari upaya dalam menyaingi keberhasilan kaum Yahudi, adalah dengan memahami cara berpikir dan olah mental kaum minoritas ini.

Buku dengan judul asli “Jewish Wisdom of Business Success” ini ditulis oleh seorang rabi Yahudi bernama Levi Brackman, yang merumuskan olah pemikiran dan mental kaum Yahudi berdasarkan syariat kehidupan dari Taurat (kitab suci Bangsa Yahudi) dan berbagai tradisi kuno, antara lain Talmud, Midrash, dan Kabbalah.

Pelajaran-pelajaran berharga tentang olah mental berbisnis yang ditemukan tersembunyi di dalam ayat dan hikayat dari kitab-kitab tersebut yang dirangkum serta dimodelkan dengan anekdot bisnis masa kini.

Beberapa permodelan mental yang dialami oleh perusahaan-perusahaan besar seperti General Motors, Targeted Genetics, Countrywide Financial, Cisco Systems, Citigroup, Cerberus Capital, MDC Holdings, Google, dan lain-lain juga diungkapkan untuk menjelaskan berbagai pemahaman religius dalam fenomena bisnis nyata.

Menaklukkan Rasa Takut

Rasa takut sering menjadi musuh utama dalam keberhasilan di dunia bisnis. Stereotype dari rasa takut ini dialami oleh kaum Yahudi tatkala terjepit di satu sisi oleh lautan yang dalam yaitu Sea of Reeds (sering disebut Red Sea) dan di sisi lain oleh bala tentara Firaun yang datang hendak mengambil mereka kembali sebagai budak belian.

Kaum Yahudi pada saat itu terbagi menjadi empat kelompok yang masing-masing menampilkan empat wajah dari rasa takut mereka, yaitu munculnya keinginan untuk : Penghancuran Diri (self sabotage), Melawan (fight), Mundur (retreat), dan Menyerah pada nasib (learned helplessness).

Musa lalu menyebutkan suatu kalimat di dalam Taurat (Exodus 14:13-14) sebagai jawaban dan penyembuh rasa takut yang mereka alami, sekaligus memberikan instruksi alternatif untuk “Jalan Maju!” melangkah menembus lautan dalam.

Masing-masing model dari rasa takut tersebut dialami oleh berbagai perusahaan besar. Salah satunya adalah General Motor yang cenderung memilih mundur (retreat) dengan tetap mempertahankan model mobil besar dan mahal yang boros bahan bakar, sementara industri mobil Jepang sudah merangsek pasar dengan produk mobil murah dan irit bahan bakar.

Rasa takut menyebabkan perusahaan ini memilih fokus dengan wilayah yang sudah mereka kenal dan enggan melangkah ke wilayah baru yang masih asing yaitu industri mobil dengan CC rendah, murah dan hemat bahan bakar.

Jalan Rendah Hati

Sikap angkuh menjadi hambatan besar dalam keberhasilan bisnis. Orang yang tinggi hati digambarkan di Taurat dalam bahasa Ibrani sebagai gas ruach, yaitu manusia angkuh yang membanggakan diri sendiri berlandaskan kekosongan dan kehampaan.

Model tersohor dari gas ruach adalah Firaun dengan pernyataan dingin yang dikeluarkannya saat menghadapi firman Tuhan, yaitu ‘siapakah Tuhan yang pantas aku dengarkan suaranya?’. Kebalikan dari gas ruach adalah sikap rendah hati yang ditunjukkan oleh Musa.

Sedikit berbeda dengan gas ruach ada jenis keangkuhan lain yang dinamakan ba’al ga’ava, yaitu manusia angkuh yang memiliki alasan kuat untuk berbangga diri, yaitu kemampuan yang memang ada pada dirinya.

Baik gas ruach maupun ba’al ga’ava memiliki daya rusak tinggi pada organisasi atau bisnis. Salah satunya adalah karena sulitnya mereka menerima usulan, masukan, atau peringatan dari pihak lain akibat rasa bangga diri telah menutup kemampuan mereka untuk membuka pikiran terhadap hal-hal dari luar dirinya.

Teknik Negosiasi

Peristiwa besar yang dijalani oleh Yakub saat situasi mengharuskan dirinya mendapatkan hak kesulungan dari kakak kembarnya Esau. Hal itu dilakukan dengan cara menukar hak kesulungan kakaknya dengan semangkuk sup miju-miju. Situasi tersebut terjadi pada saat Esau seakan tidak peduli dengan hak kesulungannya, yang akhirnya ia jual demi semangkuk sup pada saat dirinya sangat lapar.

Teknik negosiasi dalam bisnis menekankan hal yang serupa, yaitu mengetahui konsesi atau korbanan apa yang bisa diberikan oleh mitra dan resource apa yang bisa kita sediakan untuk memenuhi kebutuhan mitra pada saat itu.

Keberhasilan teknik negosiasi tersebut didemonstrasikan oleh Cerberus Capital saat membeli Chrysler dari Daimler. Cerberus Capital mampu memenangkan pembelian Chrysler dengan harga sangat rendah karena mengerti benar apa yang sebenarnya menjadi motivasi dari pihak Daimler.

Pada saat itu Daimler sebenarnya menganggap Chrysler adalah beban yang harus dilepas, dan justru takut penjualannya akan gagal. Ada pihak yang bisa menggagalkan penjualan tersebut yaitu serikat pekerja Chrysler, jika persyaratan jual beli tidak menguntungkan posisi mereka.

Cerberus mengerti posisi Daimler ini untuk kemudian melakukan lobby ke serikat pekerja Chrysler, dan atas rekomendasi dari serikat pekerja, Cerberus menjadi satu-satunya pembeli yang masuk hitungan sehingga akhirnya memenangkan pembeliannya.

Masih banyak teknik olah pikiran dan mental yang ditawarkan oleh “Sukses Bisnis Cara Yahudi” yaitu antara lain menggapai bisnis atau karir yang sesuai dengan jati diri, pentingnya berpikir-berkata-bertindak positif, mengatasi kegagalan, kewirausahaan spiritual, mencapai jalan keseimbangan, hingga teknik meditasi ala Yahudi untuk melakukan perubahan diri, yang bisa diterapkan baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam bisnis.

Kehadiran buku ini penting untuk dipandang dan digunakan tentunya bukan sebagai propaganda pemikiran Yahudi, melainkan sebagai sarana untuk bisa memahami pola berpikir sebuah kaum yang sukses, dan mungkin sebagai modal untuk bisa menyaingi kaum ini, setidaknya dalam hal bisnis.

Widyarso RoswinantoWidyarso Roswinanto. Konsultan dan Pengajar di PPM Manajemen, memperoleh gelar Master in International Business di Tel Aviv.

2 thoughts on “Pergulatan Mental Yahudi dalam Bisnis

  1. Mohon info apakah buku ini masih terbit, kalaupun sdh tdk terbit, toko buku mana di Solo dan Jogja yg masih ada. Terima kasih.

  2. Menurut saya tidak spt itu….Mereka sukses karena komunitas mereka mendukung untuk lebih baik dan kesuksesan bangsa mereka. Juga dengan sokongan dana yang besar. Org Indonesia tidak kalah dengan org yahudi…namun bangsa kita benar-benar terlalu…mereka tidak ingin org lain menjadi besar..dan bahkan saling menjatuhkan satu sama lainnya!
    itulah bangsa yang sulit sekali menjadi maju…mudah sekali dipengaruhi dan ditunggangi oleh kepentingan lain!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s