Manajemen Risiko dan Peringkat Perusahaan Model Baru

“First say to yourself what you would be; and then do what you have to do.”
– Epictetus (55-135 AD) Greek Philosopher

Penerapan Manajemen risiko di perbankan sudah biasa, dan wajib hukumnya. Untuk perusahaan asuransi sedang menuju ke awah “kewajiban”, terutama pada aspek pengelolaan risiko terkait bisnis mereka, seperti risiko kredit, risiko treasury, dan lainnya. Juga sudah mulai mengarah ke risiko operasional, termasuk hal-hal terkait dengan gagal teknologi, pembobolan keuangan perusahaan, dan lainnya.

Sebagian perusahaan di sektor keuangan, termasuk bank, sudah menerapkan ERM, atau lebih maju lagi dengan ICRM (integrated corporate risk management). Perusahaan bukan sekedar menerapkan pengelolaan risiko untuk semua aspek tetapi melalukannya secara menyeluruh dan terintegrasi.

Menyeluruh berarti tidak  terpisah untuk dan oleh masing-masing unit, atau yang dikenal dengan istilah system silo, tetapi bersama-sama dalam kesatuan, lintas unit atau lintas direktorat, bahkan bila perlu lintas SBU. Tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivitas – efektifitas dan efisiensi, sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan.

Untuk sektor non lembaga keuangan secara umum, kecuali BUMN dan perusahan tbk, penerapan Manajemen risiko berstatus setengah wajib atau pilihan. Pilihan berarti boleh menerapkan boleh tidak, tergantung pada kepentingan perusahaan itu.

Tidak ada satu pun lembaga yang mewajibkan penerapannya. Penerapan ERM atau ICRM menjadi penting bila perusahaan mengharapkan pendanaan dari pihak kreditur maupun melalui penjualan obligasi di pasar modal.

Dalam kaitannya dengan bank, perusahaan peminjam harus melewati proses scoring atau rating sebagai bagian penting bank untuk memutuskan kelayakan nasabah mendapat pinjaman. Demikian juga dengan penjualan obligasi, perusahaan pemeringkat akan menilai seberapa aman para pembeli obligasi terkait dengan dana yang dipinjamkannya ke perusahaan tersebut. Secara konvensional, pemeringkatan berdasarkan atas 5C, yaitu character, capacity, capital, collateral, dan condition.

Untuk ke depan, evaluasi berdasarkan 5C tidak cukup. Perusahaan pemeringkat ancang-ancang untuk memasukkan faktor pengelolaan risiko, ERM maupun ICRM, sebagai bagian dari penilaian. Salah satu perusahaan pemeringkat yang sudah siap menerapkannya adalah Standard & Poor’s, atau S&P, sebuah perusahaan pemeringkat yang sudah dikenal luas.

S&P mengkategorikan penerapan ERM atau ICRM ke dalam empat tingkat: Excellent, Strong, Adequate, dan Weak.

Perusahaan mendapat nilai “Excellent” bila memenuhi kriteria berikut.

  • Pertama, pengelolaan risiko terbukti menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan bisnis.
  • Kedua, ditetapkannya risiko toleransi dan menggunakan toleransi tersebut untuk pengelolaan risiko.
  • Ketiga, dijalankannya pengelolaan risiko, mulai dari identifikasi, pengukuran, penanganan, monitoring, dan control risiko baik terhadap probabilitas maupun dampaknya.
  • Keempat, penerapan pengukuran kinerja berdasarkan risk-adjusted return.

Perusahaan mendapat predikat “Strong” bila menunjukkan penerapan ERM seperti untuk mereka yang mendapat predikat “Excellent” dengan dua catatan penyimpangan.

  • Pertama, ada kemungkinan bahwa perusahaan dapat mengalami kerugian tidak terduga (unexpected losses) yang melebihi toleransi yang sudah ditetapkan sebagai pegangan perusahaan.
  • Kedua, perusahaan sudah menerapkan pengukuran kinerja berbasis risk-adjusted return namun belum terlalu maju.

Predikat “Adequate” diberikan kepada perusahaan yang memiliki kekurangan dalam penerapan ERM atau ICRM, selain dua kekurangan yang dihadapi perusahaan dengan predikat “strong” tersebut.

  • Pertama, toleransi risiko belum dikembangkan dengan baik.
  • Kedua, penerapan ERM belum sepenuhnya dilakukan, dan hal tersebut dapat dilihat dari risiko yang berhasil diidentifikasi, diukur, dan ditangani.
  • Ketiga, akibat dari penerapan seperti itu, kerugian tidak terduga kemungkinan besar akan terjadi.
  • Keempat, keterlibatan Manajemen risiko dalam pengambilan keputusan menjadi pertimbangan yang cukup penting.

Predikat terendah, yaitu “weak”, diberikan kepada perusahaan yang mengindikasikan berbagai kelemahan, mulai dari penetapan toleransi, penerapan ERM, pengukuran kinerja berbasis risiko, dan penggunaan manajemen risiko dalam pengambilan keputusan.

Semakin rendah penilaian penerapan manajemen risiko tentunya menurunkan peringkat perusahaan. Anda tentunya sudah tahu akibatnya terkait dengan pencarian dana ke pihak eksternal, yaitu makin mahal, makin sulit, dan makin ketat persyaratan.

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 26 Januari 2011

Bramantyo DjohanputroBramantyo Djohanputro, Ph.D. Dosen Corporate Finance, Risk, dan Governance di PPM School of Management

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s