Mari Rayakan Kegagalan!

“If you don’t make mistakes, you’re not working on hard enough problems. And that’s a big mistake.” –  F. Wilezek

Orang bijak berkata, “Kegagalan adalah setengah dari perjalanan menuju sukses” dan semua orang  menganggukkan kepala tanda setuju. Sebagian lainnya langsung melanjutkan perjalanannya meretas sukses, sebagian lainnya beristirahat sebentar, menimbang-nimbang untuk melanjutkan perjalanan atau berhenti.

Dan hanya segelintir yang menghela napas, lalu mencoba mengevaluasi jalan yang telah ditempuhnya, dan mencoba mencari jawaban atas kegagalan tersebut, agar sebagian perjalanan selanjutnya adalah benar-benar perjalanan menuju kesuksesan.

Malcom Forbes lebih dari dua dasawarsa silam sudah mengatakan, “Jika ada yang paling takut akan risiko yang dapat ditimbulkan oleh bahaya nuklir adalah Jepang, pengeboman Horoshima dan Nagasaki telah memapar mereka dengan pengalaman perang yang maha mengerikan. Namun lihatlah sekarang (pada tahun 80’an) Jepang setidaknya memiliki 16 fasilitas pembangkit listrik bertenaga nuklir dan telah mengumumkan untuk membangun 19 fasilitas nuklir lainnya.”

Kenyataan bahwa Jepang adalah negara yang hampir setiap waktu diguncang gempa, yang juga kadang mengundang gelombang Tsunami, tidak membuat para ahli nuklir Jepang menyurutkan niatnya, penulis berkeyakinan risiko itu telah dengan baik mereka perhitungkan, dan tampaknya risiko itu tidak sebanding dengan risiko yang ditimbulkan jika Jepang kekurangan sumber energi.

Demikian pula yang terjadi dengan Garuda, penulis sangat yakin manajemen Garuda telah memperhitungkan segala risiko yang ditimbulkan oleh upaya mereka melepas saham ke tengah masyarakat. Dan pastinya risikonya lebih kecil jika dibandingkan dengan kurangnya resources yang dibutuhkan Garuda untuk dapat mengepakan sayapnya lebih tinggi dan lebih jauh lagi.

Seperti yang terjadi beberapa hari belakangan ini banyak yang membicarakan tentang penawaran saham Garuda, yang oleh beberapa kalangan dinilai sebagai sebuah kegagalan.

Pada hari perdana saja harga saham yang semula dilepas dengan harga Rp. 750 mengalami koreksi hingga pada penutupan menyentuh angka Rp.630 per lembar saham atau turun 120 poin, dan cenderung terus mengalami penurunan.

Saat artikel ini ditulis ada secercah harapan harga saham akan terkoreksi positif, seiring rencana Grup Djarum dan Group Rajawali memborong saham di pasar.

Terlepas dari kenyataan di atas, banyak pakar keuangan yang melihat kegagalan ini diakibatkan oleh tidak tepatnya waktu pelepasan saham ke publik, atau ada juga yang menuding kegagalan ini lantaran harga awal saham yang kurang tepat, ada yang mengatakan terlalu murah atau bahkan ada yang menganggap terlalu mahal.

Meneg BUMN misalnya pernah mengatakan di sebuah kesempatan yang berharap saham Garuda dilepas dengan harga Rp.1000.  Penulis sendiri yakin penetapan angka Rp.750 merupakan buah dari pemikiran dan analisa yang panjang, dan tentunya juga telah memperhitungkan segala potensi risiko yang mungkin akan terjadi.

Belajar dari Kegagalan

Penulis tidak akan mengulas mengapa terjadi ‘kegagalan’ tersebut, penulis justru akan mencoba melihat apa yang harus dilakukan Garuda demi menyikapi kegagalan ini.

Melepas saham ke publik tak ubahnya seperti seorang jejaka yang hendak melamar gadis pujaannya. Terkadang sang gadis tidak langsung menerima lamaran, ia harus terlebih dahulu ‘mengenal’ sang jejaka.

Mungkin saja sang jejaka memang gagah rupawan, namun belum tentu baik isi hatinya. Itulah mungkin yang juga terjadi dengan saham Garuda, pasar masih menunggu kinerja positif lanjutan yang ditunjukan oleh Manajemen Garuda.

Padahal jika merujuk pada fundemantal Garuda sudah bisa dikatagorikan sangat baik, beberapa penghargaan dalam skala internasional sudah banyak yang dikantongi Garuda, tidak terhitung lagi penghargaan dalam skala nasional.

Keuntungan dalam arti laba bersih juga cukup baik, walaupun keuntungan bersih tahun 2010 mengalami penurunan hingga 49,41 % jika dibandingkan keuntungan tahun sebelumnya (tahun 2009 Garuda berhasil membukukan keuntungan hingga Rp 1,018 triliun sedangkan pada tutup buku tahun 2010 Garuda hanya membukan keuntungan Rp 515,521 miliar).

Penurunan ini diantaranya dipicu oleh beban operasi penerbangan selama tahun 2010 yang meningkat hingga hampir mencapai 10 triliun rupiah, diantaranya untuk membeli beberapa unit pesawat baru.

Hal positif lainnya dari perubahan yang terjadi di Garuda adalah kenyataan bahwa Garuda justru membukukan keuntungan yang signifikan ketika Garuda melakoni pasar bebas, kenyataan ini dapat diartikan Garuda banyak mengadakan perubahan kinerja dan telah tampil sebagai institusi bisnis yang profesional.

Menurut Emirsyah, Direktur Utama Garuda Indonesia hal tersebut dapat terwujud lewat berbagai pembenahan program aspek komersial,  operasional, keuangan, peningkatan produktivitas karyawan, serta beragam program efisiensi yang dilaksanakan, yang sekaligus mendung praktik bisnis yang berwawasan lingkungan.

Salah satu hal yang tidak boleh terlupakan adalah aspek pengemasan komunikasi pemasaran  yang dilakukan Garuda, jika manajemen telah banyak melakukan perubahan dan perbaikan, divisi komunikasi Garuda harus kerja lebih keras lagi agar informasi positif itu ’didengar’ dengan baik oleh pasar.

Transparansi adalah kata kuncinya. Karena sekali institusi bisnis membuka diri di bursa saham itu sama artinya mereka membuka pintu dapur mereka lebar-lebar. Ketika kepercayaan telah terbangun yang didukung oleh peningkatan kinerja yang berkesinambungan maka kesuksesan hanya masalah waktu saja.

Garuda seperti institusi bisnis lainnya yang bermain di sektor yang memang sangat sengit persaingannnya, harus terus menerus mengasah diri, dan jangan pernah puas pada pencapaian di titik tertentu.

Emirsyah dalam suatu kesempatan mengatakan bahwa saat ini Garuda menghadapi beberapa persoalan baik di sektor organisasi dan manejemen, sektor keuangan dan sektor operasional.

Kesamaan visi dan berupaya secara bersama-sama mewujudkan visi tersebut merupakan salah satu upaya agar organisasi terus berada pada jalur yang tepat menuju kesuksesan, dan secara langsung meretas semua persoalan-persoalan tersebut.

“Untuk menjadi a strong distinguished airline dengan menyediakan layanan terbaik bagi para penumpang di seluruh dunia dengan sentuhan keramahan  Indonesia” tampaknya memang patut diberi kesempatan.

Meredupnya perkembangan harga saham Garuda juga dapat dimanfaatkan  untuk mengintropeksi diri Garuda agar tidak terkesan jumawa, dan berusaha menerima persepsi pasar terhadap Garuda yang sebenarnya. Karena pasar adalah konsultan yang paling jujur, tidak terlalu banyak kepentingan, dan cenderung berbicara apa adanya.

Saat dimana Garuda mendapat banyak masukan adalah kesempatan Garuda untuk menangkap informasi tersebut, dan melakukan upaya konkrit untuk mengentaskannya. Jika Garuda berhasil, maka pasar akan semakin loyal dan tidak menutup kemungkinan Garuda akan semakin memperlebar jarak dengan para pesaingnya, dan memperbesar pangsa pasar yang sekarang berada pada kisaran 32 %.

Seorang sahabat yang pada saat IPO sempat membeli 10.000 unit lembar saham Garuda pun yakin, bahwa ada perubahan signifikan yang akan mengkoreksi harga saham, sehingga alih-alih menjualnya ia lebih memilih menunggu. “Badai pasti berlalu” ujarnya yakin. Semoga.

Awal Mei 2011

Andi Ilham SaidIr. Andi Ilham Said, Ph.D. Direktur Utama PPM Manajemen
ais@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s