Paradoks Visi – Misi

Sejak dipahami sebagai motor perusahaan dalam meraih kinerja yang lebih baik di masa depan, konsep visi dan misi kini makin banyak diperdebatkan. Pertanyaan mana yang pertama, visi atau misi, kini menjadi topik diskusi yang hangat baik di kalangan akademisi maupun praktisi.

Sebagian kalangan menilai visi merupakan hal yang harus disusun terlebih dahulu, baru misi. Sebagian lagi meyakini bahwa misi merupakan hal yang seharusnya disusun terlebih dahulu, baru menentukan visi.

Masing-masing kelompok-pun menyiapkan argumen yang tepat bagi premisnya sehingga tanpa berusaha untuk menilai mana pandangan yang tepat, satu hal yang perlu dicermati adalah peran keduanya dalam konteks pengelolaan perusahaan.

Visi dipahami sebagai cita-cita masa depan yang ingin diraih perusahaan. Pertanyaan dasar seperti; ingin menjadi apa perusahaan di masa depan (baca; what do we want to be) sering digunakan sebagai pemicu terciptanya sebuah visi yang kuat. Selanjutnya kekuatan visi ini pulalah yang diharapkan mampu memberikan semangat bagi manajemen dalam melakoni sisi operasional sehari-hari.

Senada dengan visi, misi dipahami sebagai penegasan tujuan eksistensi perusahaan, baik bagi pemilik, karyawan maupun stakeholder. Selain itu, ada pula pandangan yang menyatakan bahwa misi merupakan cara yang dipilih perusahaan dalam menggapai visi masa depannya.

Itulah mengapa dalam setiap pernyataan misi, manajemen senantiasa menggunakan lebih dari satu point dalam menjelaskan arahan operasional dasar perusahaan. Alhasil dalam realitasnya, misi sering diturunkan sebagai indicator kinerja perusahaan selama periode tertentu.

Nah dari paparan tersebut dapat dilihat betapa pentingnya visi dan misi dalam memberikan arahan bagi penentuan strategy operasional perusahaan baik yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang. Namun kini sejenak kita cermati peran durasi waktu dalam visi dan misi.

Sebagian besar literature manajemen menyebutkan bahwa visi disusun untuk jangka waktu yang panjang. Beberapa di antaranya bahkan menegaskan bahwa visi bersifat abstrak dan belum terestimasi durasi waktu pencapaiannya. Kini pandangan itu mulai mendapat sejumlah kritikan.

Dimensi operasional dari strategi sering menempatkan perusahaan pada kondisi lingkungan yang menuntut perubahan misi. Tak hanya itu, dinamika perubahan lingkungan baik dari segi politik, ekonomi, sosial, budaya dan teknologi terkadang menuntut manajemen untuk meninjau ulang visi perusahaan. Satu bahan refleksi yang dapat digunakan adalah keputusan pemerintah dalam menerapkan perjanjian perdagangan bebas (baca; ACFTA) di awal 2010 lalu.

Visi menjadi pemain nomor satu di pasar domestik kini saatnya untuk mulai dipertimbangkan. Bukan karena ‘takut’ dengan masuknya pemain dan produk asing, namun menempatkan peluang ‘go international’ pada pernyataan visi perusahaan diyakini mampu menciptakan komitmen tersendiri bagi kinerja yang jauh lebih baik di masa depan.

Alhasil melalui cara pandang inilah nilai ‘ever-lasting’ dari visi perlahan sirna karena dimensi waktu. Semakin cepat perubahan lingkungan, maka makin pendek pula waktu bagi manajemen dalam mewujudkan visi perusahaan.

Realitas ini pulalah yang kemudian mengarahkan sejumlah perusahaan global untuk menggunakan periode sepuluh tahunan bagi pencapaian satu visi, bukan dua puluh lima tahunan seperti yang dipahami selama ini.

Hal berikutnya dari paradoks visi dan misi adalah unsur ‘abstrak’ dari pernyataan. Keyakinan bahwa semakin abstrak visi perusahaan maka makin tinggi nilai visionernya kini mulai mendapat tanggapan negatif.

Banyak kalangan yang menilai bahwa di balik abstraknya pernyataan visi, seharusnya ada hal-hal yang terukur, sehingga dapat digunakan sebagai evaluator, sejauh mana manajemen telah berhasil mencapai visi yang telah ditentukan. Artinya bila pada suatu periode disimpulkan bahwa visi perusahaan telah tercapai, maka manajemen dapat mulai merumuskan visi-misi yang baru bagi kurun waktu berikutnya.

Dengan demikian akan terbentuk siklus baru yang menandai fase baru dalam kehidupan perusahaan. Maka bukan mana yang lebih dulu, melainkan sejauh mana manajemen mampu merespon perubahan lingkungan melalui pernyataan visi misinya. Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan ini dimuat di Harian Kontan, 10 April 2013.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s