Pebisnis Bakery Perlu Berani Mengambil Risiko

Risiko dalam bisnis memang sering menjadi salah satu pertimbangan yang membuat pemula menjadi gamang dan takut untuk memulai atau berjalan lebih jauh.

Definisi risiko adalah akibat yang kurang menyenangkan, bisa merugikan atau membahayakan, dari suatu perbuatan atau tindakan. Mengapa pebisnis bakery perlu berani mengambil risiko? Apa manfaatnya dan apa kerugiannya?

Bisnis merupakan bidang usaha yang dijalankan oleh perorangan untuk mendapatkan keuntungan.  Bisnis sangat dipengaruhi oleh keadaan eksternal dari pebisnis tersebut. Misalnya, makroekonomi yang sering berganti-ganti kebijakan akan membuat bidang usaha yang dijalankan menjadi maju mundur, keuntungan pun tidak dapat diprediksi.

Faktor sosial juga bisa mempengaruhi bisnis sang pengusaha. Masyarakat Indonesia dikenal ramah tamah dan memiliki semangat gotong royong. Semakin meningkatnya persaingan untuk hidup di kota besar, maka ciri khas tersebut semakin tergerus dan digantikan dengan gaya hidup individual, tidak mengenal tetangga kanan-kirinya. Perubahan yang menuntut pebisnis untuk merubah strategi bisnisnya.

Pada artikel saya di beberapa edisi sebelumnya pebisnis perlu lebih sering berinteraksi dengan pasar agar mampu memahami kebutuhan dan keinginan pasar secepatnya. Proses ini mampu mengasah intuisi menjadi lebih tajam yang menambah keyakinan diri untuk mengambil keputusan beresiko sekalipun. Terutama dalam kondisi keterbatasan waktu (Gambar 1).

bakery

Gambar 1: Alur terbentuknya intuisi dalam pembuatan keputusan

Gambar 1 menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang didukung dengan pengalaman menghasilkan pola dan keyakinan untuk memutuskan suatu tindakan secara cepat. Semakin berulang proses pembelajaran dan pengalaman yang diperoleh dari setiap masalah yang dihadapi dalam keseharian, maka semakin tinggi keyakinan untuk melakukan keputusan.

Dalam menghadapi perubahan pasar dan semakin meningkatnya persaingan maka pebisnis bakery perlu berani mengambil resiko berlandaskan intuisi yang dibentuk oleh pengalaman disertai kalkulasi perhitungan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Intuisi saja tidak cukup perlu didukung dengan analisis rasional saperti yang diungkapkan oleh Folino (2000) bahwa pembuat keputusan terbaik menggunakan keduanya untuk mengatasi masalah.

Keberanian mengambil resiko merupakan salah satu ciri khas perilaku seorang entrepreneur. Pebisnis bakery di Indonesia pada umumnya merupakan entrepreneur, terutama yang berada dalam kategori butik bakery dan home industry untuk industri roti di Indonesia.

Ciri khas lainnya adalah mampu mengkalkulasi/mengelola resiko, ada kebutuhan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan secara jelas, penuh inisiatif dan tanggung jawab, kreatif, mandiri dan memiliki kejujuran serta integritas yang tinggi (Thompson, 2000).

Untuk mampu mengelola resiko yang dihadapi dalam bisnis, seorang entreprener mengandalkan keyakinan dalam dirinya untuk membuat keputusan yang kadang harus dilakukan saat terdesak. Keyakinannya membuat ia berani untuk bertindak.

Apa manfaatnya bila pebisnis bakery berani mengambil resiko? Tentu keberanian mengambil resiko yang berlandaskan kalkulasi matang akan menghasilkan kecepatan dalam pembuatan keputusan sehingga mampu menangkap peluang pasar lebih cepat dari pesaing.

Kecepatan (speed) menjadi kebutuhan yang semakin dituntut dalam persaingan bisnis dewasa ini. Kecepatan meluncurkan produk baru ke pasar lebih dahulu dari pesaing akan menambah keunggulan daya saing (first mover advantage).

Bagaimana dengan kerugian dari berani mengambil risiko? Kerugian akan muncul kalau keberanian tersebut hanya nekad saja, tidak didasari perhitungan matang. Artinya, kecenderungan untuk gagal berbisnis akan jauh lebih besar.

Keberanian mengambil risiko untuk mendapatkan manfaat lebih besar dilakukan pula oleh CEO Starbucks, Howard Schultz, dengan mengubah cara beroperasi dari Starbucks menjadi lebih membumi, karena bersaing dengan McDonald’s dan Dunkin’ Donuts, dua jaringan yang lebih tertarik menjual sebanyak mungkin kopi ketimbang menjadi bagian dari kehidupan orang (Businessweek, 2009).

Ia mengurangi biaya, menutup 800 toko di AS dan memecat lebih dari 4000 pegawai, lebih menawarkan diskon dan beriklan.  Cara berbisnis yang biasa dan tidak istimewa sekarang dilakukannya agar produk Starbucks dapat lebih terjangkau harganya. Apakah kita berani seperti Schultz?

Pepey RiawatiDr. Pepey Riawati Kurnia. Staf profesional Sekolah Tinggi PPM-Manajemen
prk@ppm-manajemen.ac.id, kurniapepey@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s