Mengelola Risiko Sebagai Dasar Bertindak

take risk“To every Action there is always opposed an equal Reaction” – Isaac Newton.

Ada yang menganalogikan risiko sebagai bayangan. Namun bagaimana bila kita berada di ruangan yang sangat gelap sehingga tidak membentuk bayangan apakah itu sama artinya jika berada dalam suatu kondisi yang serba sulit untuk mengumpulkan data maka berarti tidak ada risiko? Apakah mungkin aspek risiko dihilangkan? Berdasarkan uraian di atas semestinya risiko tidak akan pernah hilang.

Sepertinya akan lebih tepat jika kita katakan setiap ada pergerakan baik eksternal maupun internal maka akan timbul risiko. Berhubungan dengan keuangan maka risiko akan timbul berdasarkan pergerakan harga saham, kurs mata uang, komoditi dan lain sebagainya. Jadi pada dasarnya risiko timbul karena ada pergerakan.

Ada beberapa pengertian mengenai risiko. Pada umumnya melihat risiko sebagai suatu bahaya, akibat, atau konsekuensi yang dapat terjadi akibat sebuah proses yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan datang.

Ketidakpastian karena kejadian tersebut belum terjadi dan mungkin juga tidak akan terjadi. Timbulnya suatu kerugian bila kejadian yang tidak pasti tersebut betul-betul terjadi. Sehingga kalau suatu kejadian bila dikemudian hari diprediksikan terjadi namun bila benar terjadi akan menimbulkan keuntungan maka hal tersebut diluar konteks risiko.

Ternyata kita perlu jeli melihat risiko karena ibarat tokoh dalam cerita Harry Potter yakni Dementor, risiko dapat hadir dalam beragam bentuk. Risiko yang umum diperhatikan adalah risiko strategis, keuangan, operasional, hukum, dan risiko eksternal.

Dengan demikian banyak risiko yang mungkin terjadi lantas bagaimana sikap kita dalam menghadapi risiko, apakah semua risiko perlu dipertimbangkan atau ada yang perlu menjadi prioritas? Bagaimana memprioritaskan satu risiko dengan risiko yang lain. Semua permasalahan tersebut bisa dijawab bila kita dapat mengelola risiko atau menerapkan manajemen risiko.

Sama seperti yang dikenal umum di dunia manajemen, mengelola risiko pun menggunakan cara yang sama, yakni dengan pendekatan Planning, Organizing, Actuating and Controlling (POAC).

Pada langkah awal tentunya harus mempunyai suatu perencaan. Langkah awal berupa mengidentifikasi sebanyak mungkin potensial permasalahan yang mungkin muncul. Kita bisa berkaca pada permasalahan yang pernah terjadi di masa lalu baik permasalahan yang pernah kita alami sendiri maupun dari cerita, berita, artikel, maupun nara sumber.

Begitu banyak informasi permasalahan yang didapat harus dipilah sehingga menjadi suatu data yang tepat. Informasi bisa menjadi data tentunya bila ditemukan hubungan aksi dan reaksi di dalamnya.

Langkah berikutnya tentukan batasan untuk mengukur risiko. Bila risiko adalah suatu ketidakpastian artinya kita harus mengukur suatu ketidakpastian. Mungkin kita masih ingat dengan pelajaran matematika.

Suatu ketidakpastian berhubungan dengan seberapa sering atau frekuensi pemunculan sesuatu. Demikian juga dengan risiko, setelah mendapatkan data risiko, kita perlu sekali lagi mengidentifikasi seberapa sering data tersebut muncul dengan menggunakan pengalaman masa lalu.

Kemudian dalam mengaktualisasikan dua langkah sebelumnya, kita lakukan pemetaan risiko dari data yang terindentifikasi. Pemetaan dilakukan dengan melihat tingkat kemunculan dari peristiwa tersebut dengan dampak yang dihasilkan bila persitiwa tersebut muncul.

Prioritas untuk mewaspadai risiko adalah bila kita menemukan suatu peristiwa dengan tingkat kemunculan sering dan membawa dampak yang besar. Setelah tahu mengenai prioritasnya selanjutnya perlu mengendalikan risiko tersebut.

Risiko perlu ditekan sehingga tingkat kemunculannya menjadi rendah atau dampak bila terjadi dikurangi. Pertimbangannya cara mana yang sesuai dengan kondisi kita dan bisa berdasarkan mana cara yang paling mudah, cara yang membutuhkan biaya rendah, ataupun cara yang paling mungkin untuk dilakukan.

Bila kita lihat dari awal bahwa setiap ada aksi akan menimbulkan reaksi maka hukum ini pun berlaku disini. Saat kita melakukan reaksi dalam meminimalisasi baik dampak maupun frekuensi risiko dari suatu peristiwa maka akan timbul aksi baru dan membutuhkan reaksi yang baru lagi. Sehingga pengelolaan risiko sebaiknya dilakukan secara terus menerus untuk dapat mengidentifikasi risiko baru yang muncul, tentunya dengan dukungan data terkini (up-date).

“Mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai lah dari sekarang.”

*Tulisan ini dimuat di Harian Kontan, September 2011

Alain WidjanarkaAlain Widjanarka, ST., MM. Kepala Divisi Konsultansi PPM Manajemen
ALW@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s