Pelajaran dari ‘Kepatuhan’ China

Kompleksitas dunia usaha domestik pasca pemberlakuan ekonomi bebas harus diakui meninggalkan sejumlah teka-teki yang harus dijawab, terutama terkait dengan perlu tidaknya perusahaan menerapkan prinsip-prinsip kepatuhan (baca; good corporate governance).

Secara konseptual dan logika, kepatuhan manajemen pada aturan seharusnya memberikan dampak positif pada nilai perusahaannya. Namun kini hal itu ternyata tidak cukup. Kepatuhan terhadap aturan mutlak harus diikuti dengan kepatuhan pada norma-norma dan etika bisnis yang dianut.

Premis yang kini berkembang mengatakan bahwa bila manajemen suatu perusahaan berhasil menaati aturan sesuai norma dan nilai-nilai etika yang santun, maka pasar akan memberikan apresiasi lebih tinggi. Tak ayal nilai pengembalian atas asset (baca; return on assets) perusahaan akan mengalami peningkatan yang signifikan dari waktu ke waktu.

Meski terkesan sangat wajar, namun dalam perkembangannya, cukup banyak kalangan yang mempertanyakan kembali premis tersebut. Salah satu fondasi pandangannya adalah sebuah hasil penelitian tentang corporate governance di China yang menyimpulkan bahwa perusahaan milik pemerintah cenderung memiliki nilai pengembalian atas asset yang jauh lebih tinggi dibandingkan perusahaan swasta.

Temuan tersebut didukung oleh fakta bahwa sentralisasi manajemen dalam ekonomi berbasis komunis terbukti lebih efektif dalam ‘menyeragamkan’ aktivitas sehingga pemerintah bebas menentukan portfolio bisnis di negara tirai bambu tersebut. Alhasil melalui penyatuan langkah ini pulalah peningkatan ROA dapat terjadi.

Namun di lain sisi, berita-berita global banyak mengkaitkan issue etika dalam bisnis di China. Mulai dari rumor pekerja di bawah umur serta langkah-langkah manajemen non etis lainnya seperti pemberian upah di bawah nilai minimum.

Semua seakan-akan memberikan peluang yang cukup besar bagi terciptanya cost leadership strategy di hampir semua lini produk. Tak berhenti di situ, realitas pasar juga menunjukkan bahwa dengan strategi tersebut produk-produk China berhasil menguasai dunia, termasuk pasar Indonesia. Nah dengan kondisi ini, masihkah premise yang mengkaitkan corporate governance dengan etika bisnis itu berlaku?

Cukup sulit memang mencari jawaban yang tepat terlebih bila rumor global itu benar-benar terjadi. Namun terlepas dari esensi negatif yang ditimbulkan melalui pemberitaan sejumlah media massa tersebut, proses penciptaan biaya rendah di China harus diakui sebagai sebuah produk dari serangkaian mekanisme berlabel ‘inovasi’.

Produsen China harus diapresiasi karena keberhasilannya menciptakan harmonisasi antara kekuatan inovasi dengan pola pengaturan ekonomi berbasis ideologi komunis. Di mana pada pola tersebut Negara memegang peranan penting dalam menentukan kapasitas faktor produksi yang akan digunakan maupun dalam hal perpajakan. Sehingga upaya proteksi industri domestik dapat dilakukan dengan lebih mudah.

Tidak berhenti di situ, prinsip jejaring berbasis kekeluargaan yang kuat cenderung menciptakan nilai-nilai etika tersendiri. Mulai dari upaya mempertajam peran kejujuran dalam berbisnis, prinsip saling menolong hingga menciptakan kesejahteraan bersama. Sehingga etika ini pulalah yang dalam perkembangannya mampu menepis rumor negatif yang muncul.

Sekarang bagaimana halnya dengan Negara-negara yang berprinsip ekonomi liberal dan demokratis? Satu pelajaran yang dapat ditarik dari realitas di China adalah bahwa untuk mencapai efektivitas penerapan corporate governance harus diawali dengan adanya kesamaan visi.

Corporate governance harus dipahami tidak hanya sebatas unsur kepemilikan. Baik pemerintah maupun swasta harus sama-sama menumbuh kembangkan motivasi yang tulus dalam menerapkan prinsip kepatuhan ini. Bukan hanya untuk menjaga kepentingan stakeholder, namun juga internal perusahaan.

Tak hanya itu, penerapan prinsip kepatuhan juga menuntut kesesuaian dengan etika bisnis yang ada. Maka dengan nilai-nilai khas bangsa, manajemen perlu mengembangkan komitmen terhadap bisnis yang beretika. Mulai dari kejujuran dalam berdagang hingga motivasi tulus dalam membantu konsumen meraih kualitas hidup lebih baik.

Karenanya dengan modal ini perusahaan berpeluang untuk mendapat ‘tempat’ di hati konsumen dalam jangka panjang. Alhasil tingkat pengembalian atas asset perusahaanpun akan meningkat. Selamat berefleksi, sukses menyertai anda!

*Tulisan ini dimuat di Harian Kontan, 20 Februari 2013

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s