“Bullying” Dalam Krisis

Krisis global semua orang sudah tahu, namun tidak semua orang tahu bagaimana menghadapinya.  Mereka yang paling stres dalam situasi sekarang ini adalah para pemimpin organisasi.

Sebagai penentu perubahan dalam organisasi, perilaku mereka dalam mengelola tekanan emosi akan sangat berpengaruh terhadap suasana kerja secara keseluruhan. Sementara itu, pada saat yang sama, anggota organisasi mereka juga sedang mengalami tekanan emosi yang tidak kalah besarnya. Tidak lah mengherankan jika suasana organisasi menjadi tidak nyaman.

Pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang harus bertanggung jawab untuk menciptakan suasana nyaman di tempat kerja? Hampir semua orang menjawab “Itu tugas pimpinan.” Sayangnya, praktik organisasi lebih sering tidak selaras dengan teori.

Sering kita menjumpai Ayah marah-marah di rumah. Lebih sering lagi, mendapati atasan marah-marah di kantor. Marah itu sebenarnya tidak begitu menjadi persoalan, namun bagaimana rasa marah itu diekspresikan  itu yang lebih berbahaya. Disebut berbahaya bila bentuk kemarahan adalah bullying. Terlebih lagi, bullying yang mewujud dalam kata-kata yang melecehkan atau merendahkan.

Kata-kata itu sendiri tidak berbahaya bila tidak disertai labelling. Krisis identitas biasanya bermula dari labelling. Pendekatan Six Thinking Logic dari Robert Dilt (Pakar NLP) menyatakan, ada 6 logika berpikir yang saling memengaruhi, berturut-turut dari level tertinggi ke terendah adalah: Purpose, Identity, Values and Belief, Capability, Behavior, dan terakhir Environment.

Semakin  tinggi maka makin kuat pengaruhnya terhadap orang yang di bawahnya. Ini berarti Identity akan berdampak pada Values and Belief, Capability, Behavior, dan terakhir berdampak pada Environment.

Masuk akal bila seseorang merasa dirinya bodoh (Identity) maka perilaku dan kemampuannya akan merefleksikan kebodohannya. Pada akhirnya, yang bersangkutan akan semakin tidak yakin bahwa mereka sebenarnya pintar.

Dalam kisruh krisis 10 tahun terakhir ini, organisasi pesaing bisa saja akan meniupkan negative labelling melalui berbagai saluran informasi. Kadang-kadang bukan hanya perang informasi, bahkan sampai perang pemaknaan.

Misalnya saja, penurunan penjualan dalam krisis sebenarnya hal biasa, tetapi oleh pesaing organisasi ditiupkan sebagai penurunan kualitas produk organisasi dengan akibat penurunan penjualan.

Perang ini, lebih sering tidak disadari oleh yang diserang karena menggunakan alur berpikir yang logis dan/atau melalui saluran informasi internal organisasi yang diserang. Hal ini menyebabkan pimpinan organisasi sering tidak sadar terseret arus permainan pesaing. Menjadi ikut percaya kalau negative labelling yang ditiupkan oleh pesaing itu merupakan sesuatu yang logis dan benar adanya.

Kisah Pygmalion menunjukkan sesuatu yang berbeda. Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, sering kali hasilnya betul-betul menjadi positif.

Terlepas dari kenyataan bahwa krisis global ini akibat perilaku buruk Amerika, masuk akal jika tetap saja Obama dengan percaya dirinya  berpidato: “…dan kini seluruh mata dunia menatap pada Amerika, menunggu kepemimpinan kita, yang akan membawa mereka semua ke arah dunia baru yang lebih menjanjikan….”

Dunia pun terpesona. Dunia lupa bahwa sampai sekarang, krisis tetap belum menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah yang konsisten dan benar. Jadi, mulai sekarang, kenapa kita tidak mencoba cara yang sama di organisasi Anda: Besarkan hati semua anak buah Anda!

*Tulisan ini dimuat di Harian Sinar Harapan, 16 Maret 2009.

Bambang Adi SubagiyoBambang Adi Subagiyo. Staf Profesional PPM Manajemen
BAS@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s