Belajar dari Bangsa Vietnam

Saat menyusuri Sungai Saigon, di tengah rimbunan dedaunan dan lumpur yang memadati kiri kanan sungai, nampak meluncur perahu nelayan yang dikemudikan para wanita yang tampak gesit dan ceria, tak tampak kelelahan di wajah mereka.

Tidak jauh berbeda, Kota Ho Chi Minch (dulu disebut Saigon), sarat dengan denyut nadi perekonomian. Sangat kentara kesibukan yang terjadi. Jalanan di kota ‘dikuasai’ sepeda motor. Pusat kota dipenuhi dengan toko-toko yang menjual produk dengan merek-merek terkenal di dunia, beberapa pinggiran kota dipenuhi dengan barisan toko-toko tradisional yang menjual berbagai barang kebutuhan sehari-hari.

Hal berbeda dirasakan bila memandangi foto-foto mencekam yang menceritakan sejarah perang yang dialami oleh Bangsa Vietnam di era tahun 60-an sampai 70-an. Vietnam luluh lantak akibat hantaman bom. Perang memang menyisakan kesengsaraan dan kemiskinan bahkan cacat fisik dan luka psikologis seumur hidup.

Sebenarnya, banyak alasan bisa diungkapkan oleh Vietnam untuk memilih tidak bangkit dan membangun kembali negerinya pasca perang. Namun, ternyata kenyataannya saat ini terlihat sangatlah berbeda.

Kemajuan yang dihasilkan Vietnam merupakan buah semangat karena pernah mengalami kesengsaraan dan penderitaan yang begitu dasyat akibat perang. Seperti pepatah lama Bangsa Indonesia, “Rajin pangkai pandai, hemat pangkal kaya,” yang telah dipraktikkan dan terbukti berhasil dengan baik.

Penulis berkeyakinan negara anggota ASEAN harus siap bahu-membahu dalam membangun perekonomian. Demikian pula Vietnam dan Indonesia. Presiden SBY meminta Bangsa Indonesia harus siap dalam menghadapi  Komunitas Ekonomi ASEAN 2015 dan Kerja Sama  Ekonomi Regional Komprehensif (Regional Comprehensive Economic Partnership).

Jangan sampai Bangsa Indonesia tidak siap menghadapinya, seperti pengalaman dalam pakta perdagangan bebas ASEAN-China tahun 2003, sehingga Indonesia menempuh negosiasi ulang di beberapa sektor karena ketiaksiapan tersebut.

Permintaan Presiden SBY ini tidak berlebihan. Indonesia sudah merdeka sejak tahun 1945, sudah seharusnya  lebih siap dibandingkan Vietnam. Indonesia juga memiliki sejarah melawan penjajahan dari bangsa lain, ada pertumpahan darah dan perjuangan para pahlawan sehingga akhirnya dapat merebut kemerdekaan yang didambakan.

Namun, mengapa proses kemajuan membangun negeri ini dirasakan demikian lambat sehingga berbuah ketidaksiapan yang  pada akhirnya menumbuhkan sikap saling menyalahkan.

Ada baiknya jika kita merenungkan apa yang menjadi penyebab ketidaksiapan ini. Mengacu kepada kearifan nenek moyang kita dahulu, pepatah “Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya,” masih relevan untuk dipikirkan bersama dengan kondisi sekarang.

Apakah semangat dan rajin itu masih ada? Ataukah sudah tergerus oleh kenikmatan akibat mudahnya melakukan korupsi untuk memperkaya diri sendiri, keluarga dan kerabat?  Apakah perilaku hemat masih ada? Misalnya, hemat energi.

Sempat terlihat iklan pemerintah yang meminta rakyat Indonesia untuk menghemat  bahan bakar dan listrik. Pesan iklan sudah cukup jelas, pakailah energi sesuai kebutuhannya atau matikanlah listrik jika tidak digunakan.

Apakah perilaku hemat telah ada dalam sikap hidup Bangsa Indonesia ini? Kita perlu merefleksikan hal ini bersama-sama untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Perlu juga kita ketahui bahwa perilaku hidup rajin dan hemat akan menjadi fondasi yang kuat untuk membangun negeri dengan menggunakan sumberdaya yang sebaik mungkin.

Untuk itu nurani sangat berperan penting dalam menuntun berperilaku yang baik. Nurani dibentuk oleh nilai-nilai yang kita pelajari, seperti nilai agama, ajaran-ajaran moral, dan perilaku-perilaku yang pantas.

Nurani menjadi pengawas yang akan meminta pertanggungjawaban kita jika kita melanggar nilai-nilai atau tidak bekerja untuk mencapai ego ideal kita. Pengawas yang menghakimi ini menimbulkan perasaan bersalah (Handoyo, A. 2005).

Menjadi harapan kita semua agar Indonesia terus maju bersama dengan negara-negara ASEAN lainnya dan siap menghadapi kerja sama yang akan datang di tahun 2015. Jangan sampai kita kembali tidak siap dan tertinggal. Namun, kemajuan ini perlu diupayakan dengan semangat, rajin, perilaku hemat serta ketajaman hati nurani. Semoga.

November 2012

Pepey RiawatiDr. Pepey Riawati Kurnia. Staf profesional Sekolah Tinggi PPM-Manajemen
prk@ppm-manajemen.ac.id, kurniapepey@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s