Teka-teki Berlabel Inovasi

Dewasa ini sudah menjadi rahasia umum bahwa kunci dalam memenangkan persaingan terletak pada kekuatan inovasi perusahaan. Di beberapa perusahaan bahkan ditemukan bahwa inovasi telah dibungkus menjadi sebuah budaya. Artinya setiap daya upaya yang dilakukan merujuk pada terciptanya ide-ide inovasi yang akan memperpanjang usia perusahaan.

Diskusi tentang inovasi memang tak kan ada habisnya. Sebagian kalangan menilai bahwa gerakan inovasi berasal dari dunia barat, namun sebagian lagi mempercayai bahwa ada begitu banyak nilai lokal yang dapat menjadi ide dasar bagi inovasi.

Tak hanya itu, aktivitas inovasi-pun terasa bak tak berujung. Ketika manajemen selesai dengan satu konsep inovasi, maka itu merupakan awal bagi inovasi yang baru. Demikianlah pola itu terjadi hingga sebuah inovasi membentuk siklus.

Realitas tersebut mengundang tanya sejumlah analis. Mulai dari ‘berapa lama siklus itu akan bertahan’, hingga ‘faktor apa yang membuat manajemen ‘sedikit bernafas lega’ sebelum siap dengan inovasi yang baru.

Satu faktor yang dulunya sukses menghantar perusahaan sebagai pioneer dalam sebuah inovasi, dalam waktu singkat mungkin tidak berguna lagi. Demikian pula terkadang ada fenomena klasik yang dibungkus dengan kemasan baru, kini diterima sebagai sebuah produk inovasi. Alhasil realitas inilah yang membuat inovasi masih meninggalkan teka-teki hingga kini.

Dari sekian banyak pendekatan dalam manajemen inovasi, satu paradigma yang mungkin cocok untuk iklim bisnis di Indonesia adalah memandang produk sebagai sistem yang hidup.

Ada kalanya sistem dilahirkan, lalu butuh semacam ‘treatment’ khusus agar ia dapat terus bertumbuh baik dalam skala pasar maupun kedewasaan sang konsumen dalam menggunakannya. Lalu dibutuhkan ide-ide baru untuk menyegarkan kehidupan produk agar terus diterima oleh pasar. Hingga akhirnya manajemen harus rela ‘melepas’ produk dan menggantinya dengan bayi produk yang baru lahir.

Kunci sukses dalam paradigma ini ada pada kedekatan hubungan antara perusahaan dengan konsumen dan calon konsumen di pasar. Beberapa di antaranya bahkan secara radikal berpandangan bahwa untuk sukses mengelola produk selama siklus hidupnya, perusahaan harus hidup dengan konsumennya. Sehingga ketika kita berbicara inovasi produk, maka di titik itu pulalah manajemen yang menjadi obyeknya.

Selama ini banyak perusahaan berupaya mendayagunakan setiap media untuk berkomunikasi secara intens dengan sang pelanggan baik dalam konteks menerima kritik maupun saran, namun lupa untuk menggunakan dirinya sebagai bagian dari konsumen.

Fakta ini yang secara serius ditekankan sebagai poin perubahan dalam paradigma produk sebagai benda hidup yang bersiklus. Bagaimana mungkin manajemen dapat dengan mudah percaya pada akurasi pendapat konsumen jika ia sendiri tidak menjadi bagian dalam konteks pelaku pasar.

Coba tengok bagaimana setiap anggota perusahaan dari raksasa teknologi informasi dan telekomunikasi ‘Apple’ dan ‘Samsung’ memegang peran sebagai duta atas produk besutannya.

Demi memenangkan persaingan, fungsi duta diarahkan pada dua komponen; satu bersifat eksternal, dan yang lain lagi bersifat internal. Dari sisi eksternal, duta berarti bahwa mereka mengatasnamakan dirinya sebagai representatif produk kepada pasar.Sedangkan dari sisi internal mereka berlaku sebagai konsumen dengan hak bicara atas kinerja produk yang dihasilkan. Dalam konteks inilah kritik dan saran yang membangun demi inovasi ke depan akan tercipta.

Menjadi fanatik terhadap produk besutan tempat kerja kita sebenarnya hal yang wajar. Namun akan menjadi efektif bila fanatisme tersebut tidak hanya bertujuan untuk memperbanyak jumlah pengguna produk, melainkan untuk menstimulus bagi terciptanya ide-ide inovasi terbaik di masa mendatang.

Meski gambaran di atas terlihat begitu sempurna, namun sama dengan ‘seniornya’, paradigma ini juga masih meninggalkan sebuah teka-teki khususnya yang terkait dengan perilaku sumber daya manusia. Masihkah tercipta ide inovasi yang orisinil bila sumber daya manusia perusahaan berpindah ke pesaing melalui proses ‘hijacking?’ Selamat berefleksi.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s