Urgensi Nasionalisme Produk

“Bila ingin sukses  hadapi AEC (ASEAN Economic Community) maka tirulah China.” Sepintas tak ada yang istimewa dari pemyataan ter­sebut. Selain karena tersirat makna retoris, sebagian  kalangan  memandang  bahwa langkah itu terlalu kompleks untuk dilakukan.

Namun, rasional ekonomi seakan sepakat dengan wacana tersebut. Betapa tidak, perubahan terencana dari ekonomi tertutup menjadi berbasis pasar hingga keberhasilan menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia kiranya merupakan satu pembelajaran terbaik bagi Indonesia saat ini.

Tengoklah betapa besar­nya gelombang produk impor dari Negara Tirai Bambu itu pascapemberlakuan ASEAN China Free Trade Area (ACFTA). Di pasar domestik sendiri, tingginya inflasi di bulan Februari lalu yang men­capai 0,75% temyata juga dipi­cu oleh besarnya nilai impor dari negara tersebut.

Tak ha­nya itu, data statistik menunjukkan bahwa 0,12% di antaranya disumbangkan oleh ko­moditas holtikultura. Cukup miris  memang, mengingat Bumi Pertiwi dikenal memiliki kekayaan alam yang luar biasa.

Tingginya ketergantungan pasar domestik pada produk impor yang terjadi beberapa waktu terakhir menyiratkan le­mahnya rencana strategis dalam menghadapi pola pertum­buhan permintaan pasar.

Mes­ki alam seringkali diposisikan sebagai faktor pemicu utama, dengan sistem ‘lumbung” mes tinya hal tersebut dapat dianti­sipasi. Tak hanya itu, realitas pasar diperburuk dengan rendahnya loyalitas konsumen domes­tik pada produk-produk lokal.

Nah, dalam mengantisipa­si merebaknya kecenderung­an tersebut di masa depan, sejenak mari kita melihat bagai­mana rakyat China memper­siapkan diri menghadapi era ekonomi pasamya. Di antara sejumlah pilar ekonomi yang dibangun,  satu  pilar utama yang diperkuat adalah loyali­tas konsumen setempat pada produk-produk lokal.

Dengan kekuatan  jumlah penduduk yang besar niscaya produk-produk lokal akan terserap pa­da pasar domestik, sehingga setidaknya produsen telah mengantongi stabilitas arus kas daripasar lokal. Setelah bermodal keberpi­hakan pasar, pilar kedua yang turut diperkokoh adalah du­kungan pemerintah, khusus­nya dalam segi pembiayaan serta kebijakan proteksi.

Mes­ki hingga kini kebijakan pro­teksi pemerintah China masih menjadi bahan perdebatan se­rius, terutama yang terkait de­ngan penanganan hak atas ke­kayaan intelektual, namun ke­beranian pemerintah dalam memberikan subsidi yang sangat besar bagi pengem­bangan industri domestik me­rupakan contoh terbaik saat ini.

Alhasil, setiap pemain da­pat merumuskan strategi ke­pemimpinan biayanya secara efisien. Dengan label murah pulalah, produsen China ber­hasil menguasai pasar yang berorientasi pada harga.

Tak berhenti disitu, redefi­nisi proses inovasi pun dilaku kan. Inovasi yang dulunya se­nantiasa dikaitkan dengan biaya tinggi diubah dengan menempatkan biaya rendah sebagai driver utamanya. Pa­ham kesetaraan antara inova­si, kualitas, dan harga secara tak langsung telah berhasil diajarkan kepada pasar interna­sional. Maka melalui cara itu pulalah, produk-produk Chi­na memperoleh tempat di be­nak konsumen Indonesia.

Kini dengan bermodal jumlah penduduk yang lebih dari 250 juta, Indonesia sebe narnya merupakan pangsa pasar yang sangat besar bagi pemain domestik. Semangat na­sionalisme berlandaskan Bhinneka Tunggal Ika seharusnya menjadi fondasi terkuat bagi peningkatan loyalitas pasar di masa depan.

Kini produsen harus meramu strategi guna merebut kembali hati konsu­men. Produk-produk lokal ha­rus identik dengan kualitas tinggi, bila perlu melebihi kua­litas ekspor. Hal ini bertujuan agar pasokan produk bagi masyarakat kelas premium di Ta­nah Air dapat bersumber dari pemain lokal.

Selain berman­faat dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, langkah ter­sebut dipercaya mampu men­ciptakan efek sistemik pada kelas masyarakat lainnya.
Mekanisme  diskriminasi harga mungkin sudah saatnya menjadi pilihan terbaik saat ini.

Dapat dibayangkan betapa be­sar nasionalisme produk yang terjadi bila konsumen lokal bisa menikmati produk-produk ekspor dengan harga lebih rendah dari harga yang dikenakan pada konsumen di negara lain. Di satu sisi produsen diuntung­kan, di sisi lain konsumen di­puaskan, bersama keduanya akan mampu bersaing di era AEC.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 30 April 2013. h. 18

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s