Era Kolaborasi Kompetitif

Kata ‘kolaborasi’ nampaknya akan semakin bergaung di masa mendatang. ‘Kolaborasi’ mungkin akan menjadi tren sekaligus senjata perusahaan untuk tumbuh berkali lipat di tengah persaingan yang semakin ketat.

Pernyataan di atas didukung oleh survei yang dilakukan oleh McKinsey (2012) dengan melibatkan 1.283 eksekutif dari penjuru dunia yang setuju bahwa collaborative network adalah cara terbaik perusahaan untuk mencapai tujuan.

Survei ini juga mengidentifikasi bahwa high-performing innovator (perusahaan dengan organic growth dan new-product sales lebih tinggi dari kompetitor) memiliki tiga keunggulan yaitu kolaborasi, alokasi talenta, dan platform produk yang cepat ke pasar.

Kolaborasi menjadi tren dalam masa dimana teknologi informasi semakin berkembang dan peran konsumen semakin besar. Jika dulu proses inovasi berpusat pada design thinking yang dilakukan oleh tim multidisipliner internal perusahaan, dan kemudian berkembang dengan melibatkan konsumen (co-creation), maka saat ini proses inovasi dapat berpusat pada konsumen saja, era ini oleh Erick Von Hippel, Profesor Sloan MIT disebut The Age of Consumer-Innovator.

Secara umum, kolaborasi dapat berarti bekerja bersama-sama dan mengharuskan adanya penyatuan tujuan bersama. Kolaborasi lebih dari sekedar kontrak kerjasama seperti yang terjadi pada kooperasi ataupun aliansi. Kolaborasi dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Karenanya, jenisnya pun beragam.

Ada kolaborasi dengan suplier seperti yang dilakukan Boeing dalam menciptakan Dreamliner. Ada juga kolaborasi kemitraan seperti Nokia dan Microsoft atau GM dan Toyota. Ada juga kolaborasi industri seperti yang dilakukan oleh para pemain dalam industri penerbangan. Kemudian kolaborasi komunitas Blade.org hasil kerjasama IBM, Intel, dan puluhan perusahaan lainnya. Dan tentunya bentuk kolaborasi yang lebih luas seperti yang diterapkan Dow Chemical dalam proyek Dow’s Methane Challenge.

Berbagai bentuk kolaborasi dilakukan sebagai tanggapan atas dinamika pasar dan upaya untuk melakukan leveraging pada saat perusahaan tidak mampu melakukannya sendiri.

Yaarit Silverstone dari Accenture membaginya ke dalam enam hal yaitu upaya penghematan (cost cutting), upaya pemberdayaan baru (new sourcing strategies), ekspansi global (expansion into global market), tantangan kecepatan produk diluncurkan (speed to market), tantangan kompleksitas produk (complexity of products), dan juga tantangan inovasi (innovation).

Tekanan dinamika pasar di atas sungguh kuat dirasakan oleh perusahaan global sedemikian hingga mereka pun harus berkolaborasi kompetitif dengan kompetitor.

“Kompetisi diantara dua perusahaan kurang penting dibandingkan dengan tantangan untuk meluncurkan produk baru secepatnya ke pasar”, ungkap Peter Savagian Direktur Teknik Sistem Hibrida GM.

Partnernya dari Chrysler Group Ridenour menambahkan, ”Usaha joint ini me-leverage talenta teknik dan sumberdaya teknologi kami sebagai dua perusahaan global besar.”

Tak disangkal berkolaborasi dengan kompetitor merupakan hal yang sangat sulit dilakukan. Terdapat hambatan dari segi sumberdaya, kepemimpinan, budaya, dan organisasi untuk mewujudkannya. Morten Hansen dari Harvard Business Review menjelaskan kolaborasi yang gagal dapat berwujud under-collaboration yaitu kolaborasi dengan performa yang jauh di bawah potensinya.

Under-collaboration dapat terjadi karena perusahaan-perusahaan under-estimated terhadap situasi pasar atau perusahaan tidak mampu melakukan cross-synergy. Ketidakmampuan Sony meluncurkan produk pengganti Walkman sebagai pesaing iPod atau kegagalan Microsoft meluncurkan produk tabletnya padahal telah memiliki prototipe terlebih dahulu daripada Apple adalah contoh dari under-collaboration.

Pada sisi lain, over-collaboration juga dapat terjadi–jika perusahaan-perusahaan terjebak dalam diskusi tak berujung, pengambilan keputusan yang tidak akuntabel, atau eksekusi yang lemah. Seperti yang terjadi pada Nokia dan menyebabkan perusahaan ini tertinggal dalam revolusi smartphone.

Charles Snow bersama tim mempublikasikan riset pada jurnal terbitan PDMA “Journal of Product Innovation Management” edisi Januari 2011: ”Tak dapat dipungkiri bahwa perusahaan yang paling sukses adalah mereka yang belajar bagaimana mengaitkan diri dengan jaringan yang mereka miliki dalam sebuah bentuk organisasi baru – suatu komunitas perusahaan terdesain untuk sharing knowledge dan terlibat dalam hubungan kolaborasi dengan partner atau kompetitor untuk mengembangkan dan mengkomersialisasikan produk baru.”

*Tulisan dimuat di Majalah Marketing No.05/XIII/Mei 2013. h. 88.

M. AKHSANUR ROFIM. Akhsanur Rofi, MM. Manajer Umum PDMA Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s