Formula Awet Muda

Ada banyak faktor yang berdampak pada pertambahan usia perusahaan. Beberapa diantaranya seperti penerapan tata kelola yang baik, pengelolaan risiko yang tepat serta strategi yang sesuai dengan karakteristik sumber daya yang dimiliki perusahaan.

Namun di antara itu semua ada satu hal yang kini mulai dipahami sebagai faktor kunci dalam menjadikan perusahaan ‘awet muda’ di mata konsumen; kesesuian antara value proposition dengan harapan pasar.

Meski terkesan begitu kompleks, namun menyamakan persepsi antara produsen dengan konsumen di era perdagangan bebas sebenarnya bukanlah hal yang mustahil. Kita dapat menggunakan contoh taktik jitu dua produsen IT papan atas: Apple dan Samsung.

Hampir semua segmen konsumen kini berupaya untuk menikmati sejumlah layanan yang diberikan produk. Alhasil dengan kekuatan inovasinya, kedua perusahaan tersebut berhasil menempati top of mind pasar, baik di kawasan Amerika maupun Asia.

Keberhasilan Samsung dan Apple merebut pangsa pasar Asia sebenarnya bukan hanya dipicu oleh daya inovasi yang cepat, namun lebih didasarkan pada ketepatan pemahaman akan inovasi itu sendiri.

Sejumlah buku manajemen menegaskan bahwa inovasi merupakan penambahan nilai lebih pada produk untuk dapat melayani konsumen lebih baik. Artinya semakin tinggi nilai tambah produk, maka makin efektif pulalah proses inovasi dalam menciptakan penjualan. Nah dalam konteks tersebut tampak bahwa tantangan inovasi kini ada pada bagaimana menciptakan nilai tambah tinggi pada produk besutan perusahaan.

Anda mungkin mengatakan bahwa produk yang dihasilkan perusahaan sudah terbaik, tetapi mengapa tidak mampu meningkatkan penjualan, padahal sudah ‘dilepas’ dengan harga yang super kompetitif dari pesaing.

Alhasil setelah bertengger sebagai pemain utama, tak jarang perusahaan ‘turun tingkat’. Tak hanya itu, aksi berpaling konsumen juga turut berdampak negatif pada produk yang ditawarkan. Sehingga perusahaan mulai menampakkan tanda-tanda ‘ketuaannya’.

Artikel ini mencoba memaparkan solusi yang berbeda. Diawali dengan pemahaman mendasar tentang aktivitas inovasi itu sendiri. Sebagian kalangan menilai bahwa inovasi ‘is a game for two (produsen dan konsumen).

Kekalahan perusahaan-perusahaan besar dalam inovasi adalah karena sifat egois-nya. Manajemen lebih percaya diri mengatakan bahwa ini merupakan produk terbaik. Padahal bisa jadi produk tersebut memang terbaik, namun hanya dari sudut pandang internal dan bukan terbaik di mata konsumen.

Jika itu terjadi, dapatkah strategi komunikasi menjadi solusi terbaik?. Jawabannya jelas; tak selalu. Perusahaan sudah tak dapat mendikte pasar dengan mudah. Nah dari realitas tersebut, kini saya mengajak anda untuk memahami inovasi sebagai ‘a game for three (produsen, pelanggan dan pasar)’. Sehingga dapat dipahami bahwa ada dimensi kekinian serta masa depan dalam inovasi.

Tak hanya itu, keberhasilan inovasi ditentukan oleh kuatnya jembatan antara nilai yang ditawarkan oleh perusahaan dengan segmen pasar yang menjadi target perusahaan. Membangun jembatan itu memang bukanlah hal yang mudah. Di titik ini manajemen harus mampu mengestimasi nilai-nilai apa yang dibutuhkan pasar dalam jangka menengah maupun panjang.

Dimensi siklus produk, pergeseran gaya hidup serta peningkatan daya beli dapat digunakan sebagai variabel utama dalam setiap pertimbangan. Mulailah dengan membangun database dan hubungan yang kuat dengan pelanggan perusahaan. Ke depan, pelanggan ini pulalah yang akan mendatangkan profit bagi perusahaan, bukan dari konsumen baru.

Kedekatan hubungan antara perusahaan dengan pelanggan akan mempermudah bagi studi tentang estimasi fantasy pasar dalam jangka menengah. Dari hasil tersebut manajemen akan lebih mudah dalam menyusun strategi untuk memperkuat posisi perusahaan sebagai top of mind dalam beberapa waktu ke depan.

Tidak hanya itu, upaya perbaikan saluran yang digunakan dalam mengantar nilai-nilai kepada segmen konsumen pilihan akan dapat dilakukan. Dengan demikian delivery value proposition kepada segmen pasar akan berjalan secara lebih efektif.

Semakin efektif proses tersebut dilakukan, maka lahirlah duta-duta perusahaan yang baru. Nah peran duta-duta itulah yang memperluas pangsa pasar anda. Sehingga melalui pola ini maka perusahaan akan tetap bertumbuh dengan ke-mudaannya.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan ini dimuat di harian Kontan, Juli 2012

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s