Susahnya (Tidak) Memimpin

A man should never be ashamed to own that he has been in the wrong, which is but saying that he is wiser today than he was yesterday. — Alexander Pope (1688-1744)

Apa kabar pengurus PSSI? Apa kabar para pemimpin yang berkuasa bertahun-tahun di kawasan Timur Tengah? Apa kabar para pemimpin pemerintahan yang sedang menyiapkan istri, anak, handai taulan untuk menjadi penerus tahta?

Tidak lupa tampaknya juga perlu disapa, kabar para CEO yang sekaligus pendiri dan pemilik perusahaan yang sudah mapan dengan posisinya? Bagaimana kabar CEO profesional, merangkap presiden perusahaan, yang ogah lengser dan berjuang habis-habisan dengan berbagai cara untuk mempertahankan posisinya?

Pertanyaan, atau lebih tepatnya sapaan, di atas perlu menjadi perenungan bagi para pemimpin, manajer puncak, baik di lingkungan pemerintahan, organisasi masyarakat termasuk SRO (Self Regulated Organization), dan korporasi.

Banyak organisasi yang melakukan suksesi kepemimpinan dengan mulus, tetapi banyak juga yang mengalami tahapan gejolak besar sebelum sampai pada tahap kepemimpinan yang mapan.

Setiap pergantian kepemimpinan menimbulkan riak sekaligus harapan. Riak-riak tersebut bisa kecil, tetapi juga bisa besar bahkan menimbulkan korban, baik material, kehilangan orang kunci, korban manusia, sampai terancamnya eksistensi organisasi tersebut.

Oleh karena itu, pemimpin baru harus bisa melampaui empat tahap, meminjam istilah dalam dinamika organisasi, yaitu forming, storming, norming, dan performing.

Pada tahap forming, seorang pemimpin muncul ke tampuk pimpinan melalui berbagai cara. Kasus yang banyak terjadi di negara berkembang, apalagi yang sedang dalam proses transisi dari monarki ke republik, umumnya melalui cara kekerasan dan tidak bersahabat. Tahap ini diharapkan berjalan cepat dan berakhir saat pemimpin diterima sebagai pemimpin baru.

Pada tahap storming, terjadi gejolak antara pemimpin dengan yang dipimpin dan masyarakat luas karena munculnya aturan baru, perundangan baru, mekanisme tata kelola yang baru, dan orientasi baru. Ada berbagai gaya kepemimpinan dalam menjalani tahap ini. Ada yang tetap menggunakan jalan kekerasan, ada yang berusaha merangkul sebanyak mungkin pihak dengan bijak.

Keberhasilan melalui tahap ini diukur dari kemampuan si pemimpin meletakkan dasar-dasar kesepakatan dan kesepahaman mengenai cara dia memimpin, cara dia menjalankan pemerintahan dan organisasi. Selain itu, tahap ini harus mampu membawa organisasi mencapai kesepakatan tentang bagaimana tim atau bawahan harus bersikap dan bertindak, bagaimana proses regenerasi, dan bagaimana masyarakat yang dipimpin seharusnya bersikap. Tahap ini adalah norming.

Tahap performing, pencapaian kinerja, bisa berhasil dengan baik bila pemimpin mampu mengajak segenap tim, partainya, kelompoknya, koalisinya, dan apapun namanya, melewati tahap norming dengan baik. Jadi tahap norming merupakan prasyarat yang perlu, namun bukan prasyarat yang mencukupi. Faktor lain yang perlu disepakati adalah bagaimana kinerja tersebut dinilai.

Perlu diakui, pemimpin-pemimpin yang bercokol lama di kursi kepemimpinannya telah mencapai hasil tertentu. Sebut saja Margareth Thatcher dan Hetmul Kohl yang mewakili Negara maju, dan Sukarno, Suharto, Muamar Khadafy, Saddam Husein, Kim Jong Il, Fidel Castro, dan masih banyak lainnya, mewakili negara berkembang.

Namun muncullah paradoks bahwa keberhasilan mereka ternyata menjadi awal kegagalan. Pelajaran sejarah menunjukkan, keempat tahap di atas ternyata efektif untuk mengelola faktor eksternal, tetapi tidak ampuh untuk mengelola faktor internal.

Pemimpin, sebagai pengambil keputusan, lama-lama tidak dapat membedakan dirinya dengan posisinya, dan antara dirinya sebagai individu dengan dirinya sebagai anggota keluarga atau klan.

Kuncinya terletak pada tiga komponen; integritas, responsibilitas, dan akuntabilitas. Integritas terkait dengan konsistensi si pemimpin mengenai kata, perbuatan, sikap, tata nilai, dan prinsip yang dipegang dan dijalankan.

Responsibilitas tekait dengan komitmen untuk taat pada aturan yang berlaku tanpa upaya penyimpangan. Akuntabulitas terkait dengan komitmen untuk mencapai hasil terbaik untuk kepentingan pihak-pihak berkepentingan.

Pemimpin yag berhasil memasuki tahap performing, namun gagal memegang integritas, responsibilitas, dan akuntabilitas, terjerumus ke dalam perangkap demokrasi kelompok (clan democracy).

Untuk tingkat negara, banyak pemimpin yang terjerumus ke dalam sistem yang disebut oleh sebagian orang: Republik Monarki. Maksudnya, negaranya berbentuk republik tetapi pemimpin bertindak seperti halnya mengelola sebuah monarki: menyiapkan penggantinya dari kalangan dekat, terutama keluarga.

Tantangan terberat seorang pemimpin untuk memimpin terletak pada faktor eksternal, baik lingkungan maupun pihak yang dipimpin. Tantangan terberat seorang pemimpin untuk bersedia tidak lagi memimpin terletak pada faktor internal, yang mencakup integritas, responsibilitas, akuntabilitas. Kedua faktor harus selaras sehingga perpaduannya memberi kinerja jangka pendek dan jangka panjang yang sehat.

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 5 April 2011

Bramantyo DjohanputroBramantyo Djohanputro, Ph.D. Dosen Corporate Finance, Risk, dan Governance di PPM School of Management
BRM@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s