Kembali pada Kekuatan Dasar Ekonomi

orang orangan sawahMemasuki bulan Mei setidaknya  ada dua momen besar tahunan, hari buruh dan peringatan hari kebangkitan nasional. Meski berbeda, namun keduanya memiliki makna yang sama yakni sebuah perjuangan.

Di satu  sisi kaum buruh memperingati hari tersebut sebagai  momen  untuk menyampaikan jeritan hati terkait  isu  kesejahteraan. Sedangkan di sisi lain, kebangkitan nasional dimaknai sebagai awal perjuangan bangsa secara sistematis untuk  lepas dari  kolonialisme.

Realitas tersebut menunjukkan bahwa bangsa ini masih berjuang dalam mencapai cita-cita nasional, mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan sosial.

Berbicara tentang tujuan tersebut memang tak semudah yang dibayangkan. Ketika bangsa kita tengah berbenah demi satu langkah maju dalam meningkatkan kesejahteraan, di saat itu pulalah dunia sedang berbenah dengan mekanisme perdagangan bebas, mulai dari yang bersifat regional hingga global.

Munculnya sejumlah kelompok kekuatan ekonomi seperti Uni Eropa menunjukkan bahwa negara­-negara lain juga menghadapi isu peningkatan kesejahteraan yang sama. Tak jarang bahkan regulasi perdagangan bebas yang ditandai dengan tarif nihil bagi sejumlah komoditas ataupun bahan baku terkesan bak upaya menciptakan keadilan atas ketersediaan faktor-faktor produksi.

Pada fase awal, mekanisme perdagangan bebas harus diakui memberikan keuntungan yang sangat signifikan bagi negara-negara yang memiliki kekuatan di bidang permodalan. Dengan modal yang kuat, disertai kelebihan di bidang inovasi dan kreativitas, negara-negara yang minim dengan sumber daya alam berhasil memperoleh bahan baku kualitas terbaik berharga rendah. Alhasil dengan kemampuannya di bidang produksi, terciptalah produk-produk ekspor dengan harga kompetitif.

Lalu bagaimana halnya dengan negara pemasok bahan baku mereka? Tanpa kekuatan modal dan minimnya daya inovasi, maka negara-negara tersebut hanya berposisi sebagai pemasok serta pasar atas produk-produk tersebut. Cukup miris memang ketika tak hanya kekayaan alamnya yang dikuras namun juga kekayaan konsumennya.

Tanpa menilai di mana posisi Indonesia dalam konteks tersebut, satu hal yang perlu didiskusikan adalah bagaimana strategi yang tepat agar bangsa kita dapat menikmati peluang yang tercipta dari mekanisme perdagangan bebas maupun kelompok kekuatan ekonomi ASEAN. Satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan mengarahkan perekonomian nasional kembali pada kekuatan dasar ekonomi Indonesia.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Nusantara dikenal karena kekayaan alamnya khususnya yang terbarukan. Iklim yang mendukung, serta tekstur tanah yang ideal telah membuat ada begitu banyak ragam komoditas yang harus dikembangkan agar menjadi daya saing lokal.

Sejenak saya ingin mengajak Anda untuk memahami era lumbung desa di awal tahun 1980-an. Kala itu Indonesia telah berhasil berswasembada pangan, khususnya beras. Sebagai bahan makanan pokok sebagian besar masyarakat domestik, beras Indonesia kala itu telah berhasil tak hanya dalam mencukupi kebutuhan pasar lokal, namun  juga merambah pasar ekspor ke sejumlah negara tetangga.

Namun kini prestasi itu kian tenggelam. Beras-beras impor pun kini mulai menguasai pangsa pasar lokal. Pertanyaannya adalah mengapa kita tak mengulang kembali kisah sukses itu di zaman modern ini?

Secara sederhana pola ekonomi lumbung desa pada dasarnya mempunyai makna yang cukup dalam. Diawali dengan ajakan untuk berhemat, menggunakan segala sesuatunya dengan bijaksana, tak kurang dan tak lebih hingga pemahaman pola pengelolaan persediaan pangan untuk menghadapi musim paceklik.

Namun di sisi lain, sadarkah kita bahwa pola ekonomi tersebut ternyata berpotensi memberikan dampak sistemik yang sangat signifikan pada pertumbuhan sektor­-sektor lain termasuk manufaktur. Ketika kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi secara mudah maka pikiran mereka dapat teralokasi pada pengembangan bidang-bidang lainnya.

Jepang merupakan salah satu negara yang hingga kini terus mempertahankan serta mengembangkan kekuatan agraris demi menopang sektor unggulan lainnya. Terlihat jelas bagaimana hasil pertanian modem Jepang telah berhasil memosisikan produk­produknya sebagai barang impor yang mewah.

Satu pelajaran yang bisa dipetik adalah bahwa proteksi dan keberpihakan pengelola negara pada sektor dasar tersebut mutlak dibutuhkan. Artinya bila sektor pertanian dan sumber daya laut dipahami sebagai cikal bakal pencipta efek sistemik dalam perekonomian nasional, niscaya perhatian kecil seperti subsidi dan proteksi juga akan dapat menjaga seluruh sendi-sendi ekonomi yang ada.

Sukses menyertai Anda!

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 7 Mei 2013. h. 18

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s