Saatnya Mendongkrak Kualitas Aset Manusia

Berita akhir tahun 2008 dan awal tahun 2009 memberikan pesan yang cukup jelas terkait dengan respons terhadap krisis global, yaitu fokus menggarap dan melindungi pasar domestik dengan mengutamakan produk domestik, investasi pada infrastruktur, penyerapan tenaga kerja sebanyak mungkin, penurunan suku bunga, dorongan kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah, serta peningkatan daya saing sektor usaha.

Masalah penting yang banyak terluput dalam berbagai forum diskusi dan pesan di atas adalah masalah aset manusia. Negara maju menunjukkan perhatian mereka tertumpah untuk mengembangkan kualitas manusia pada saat krisis atau penurunan ekonomi.

Negara berkembang, yang pada awalnya lebih terbelakang dari Indonesia, juga memberikan fokus pada pengembangan kualitas manusia sehingga mereka bisa berlari lebih cepat dalam pengembangan ekonomi dibandingkan Indonesia.

Dalam literatur, ada dua faktor penting untuk meningkatkan akselerasi pertumbuhan ekonomi, yaitu teknologi dan manusia. Teknologi yang tepat dapat melipatgandakan produktivitas. Keputusan strategisnya adalah teknologi mana yang paling tepat sesuai dengan strata ekonomi Indonesia.

Mengandalkan teknologi semata sebagai akselerator pertumbuhan bukan jaminan bahwa Indonesia dapat bersaing, apalagi mendahului, perkembangan negara lain, seperti Malaysia, Thailand, dan RRC. Hal tersebut disebabkan teknologi mudah ditiru dan dibeli, kecuali teknologi buatan sendiri yang dapat diproteksi dengan baik.

Sumber akselerator yang sulit atau tidak dapat ditiru adalah kualitas manusia. Semua hal-hal di atas dapat dijalankan dengan baik hanya dengan manusia yang berkualitas. Bahkan lebih dari itu, kualitas manusia yang baik mampu berinovasi untuk meningkatkan daya saing, bukan saja keunggulan komparatif, tetapi juga keunggulan kompetitif.

Kondisi manusia Indonesia, yang diukur berdasarkan indeks pembangunan manusia atau human development index (HDI), masih memprihatinkan. Paling tidak, itulah hasil survei lembaga dunia selama ini dengan membandingkan HDI berbagai negara, termasuk Indonesia.

Perbaikan HDI mungkin bisa terwujud dengan picuan (striger) berupa anggaran sektor pendidikan yang mencapai 20 persen dalam APBN. Catatan penting terkait dengan anggaran tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, pos-pos apa saja yang mendominasi anggaran tersebut. Bila lebih banyak untuk pos yang sifatnya administratif, sasaran peningkatan HDI sulit dicapai.

Kedua, seberapa jauh perbaikan birokrasi untuk memperlancar peningkatan kualitas manusia sehingga penyimpangan anggaran dapat diminimalisasi, sekaligus dana yang teralokasikan dapat dimanfaatkan oleh publik dengan baik.

Perhatian pada kualitas manusia bukan saja terletak pada sektor pendidikan formal melalui APBN dan APBD, tetapi juga di dalam dunia bisnis dan sektor informal. Untuk itulah, saat ini sedang terjadi pergeseran istilah dan sebagian orang tidak lagi menyukai istilah SDM atau sumber daya manusia.

Penggunaan istilah ”sumber daya” pada manusia seolah menyetarakan manusia dengan bahan baku, biji mineral, dan lainnya, seperti tercermin pada istilah SDA atau sumber daya alam. Hal tersebut menjadi alasan untuk memunculkan istilah baru. Salah satu yang kemudian terkenal adalah istilah human capital.

Sebagian orang menerjemahkan istilah tersebut dengan kapital manusia atau aset manusia. Sebagai aset, manusia jelas-jelas diperlakukan sebagai kekayaan yang dapat menghasilkan sesuatu.

Aset manusia, yang merupakan salah satu aset jangka panjang, mampu menjalankan peran-peran ekonomis bila mendapat perhatian dan pengembangan yang memadai. Kualitas aset manusia yang baik, melampaui kemampuan aset-aset yang lain dalam perusahaan karena kemampuan daya kreasi dan inovasinya.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan dalam masa ketidakjelasan semester pertama tahun 2009? Sambil menanti perkembangan pemulihan ekonomi dunia, pengembangan aset manusia tetap perlu mendapat prioritas.

Pengembangan tersebut akan memberi dampak jangka panjang bila fokusnya bukan sekadar peningkatan teknis, tetapi lebih pada pengembangan karakter dan kompetensi lunak atau soft competencies.

Pengalaman selama ini menunjukkan, kemampuan teknis dan intelegensia masyarakat kita tidak kalah dibandingkan dengan orang-orang lain. Tetapi dalam hal kompetensi lunak, kita memiliki masalah besar. Hal ini yang menyebabkan banyak keputusan, baik pada tingkat nasional maupun tingkat lembaga, banyak tidak berjalan.

Tahun 2009 akan ramai dengan hiruk-pikuk pemilu, baik untuk tingkat nasional maupun daerah, baik untuk memilih legislatif maupun eksekutif. Mudah-mudahan masyarakat tidak terlena dengan pesta-pesta demokrasi dan lupa persaingan sedang mengadang.

Selamat berkarya di tahun 2009.

*Tulisan ini dimuat di harian Sinar Harapan, 5 januari 2009.

Bramantyo DjohanputroBramantyo Djohanputro, Ph.D. Dosen Corporate Finance, Risk, dan Governance di PPM School of Management, Jakarta
BRM@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s