Jadi Pegawai Negeri atau Pegawai Swasta? Jadi Ahli Fisika atau Ahli Pemasaran?

Ada sebuah pertanyaan yang diajukan oleh murid saya di program MM fresh graduate. Mengapa yang bersangkutan ‘ngeri’ melayangkan surat lamaran pada perusahaan multinasional yang iklannya selalu tampak mentereng di surat kabar. Sementara rekannya, yang dipandang mempunyai kemampuan sama, tetap optimis melamar.

Kemudian ketika masih sering menulis di koran Republika, saya menerima dua e-mail berasal dari dua orang sarjana yang masih menganggur. Yang pertama merasa menyesal mengapa dulu tidak memilih perguruan tinggi terkemuka untuk menjadi almamaternya.

Menurut teman kita ini, kalau dulu ia lebih berani maka saat ini ia pasti tidak menganggur. Seperti teman-teman masa kecilnya yang lulus dari perguruan tinggi yang ‘lebih’ terkemuka dibandingkan almamaternya. Tentu saja saya kurang setuju. Keberhasilan untuk mendapat pekerjaan tidak seratus persen ditentukan oleh almamater, atau bahkan gelar kesarjanaan sekalipun.

E-mail kedua memuat penyesalan mengenai bidang studi yang dipilihnya (fisika murni), dibandingkan kebutuhan akan mereka yang mengambil studi di bidang teknik fisika atau teknologi informasi. Kalau saja ia lebih berani memilih jurusan teknik yang–menurut si penulis–lebih sulit dimasuki. Ini juga saya tidak setuju. Pasti banyak yang protes dengan pemikiran ‘sesat’ seperti itu.

Namun yang ingin saya tanggapi melalui tulisan ini adalah adanya pernyataan dan pertanyaan pembaca mengenai: mengapa saya kurang berani? Tentunya dalam memilih karier, mencari pekerjaan, dan dalam memilih bidang pekerjaan.

Faktor yang Mempengaruhi Pilihan Karier

Ada paling sedikit lima faktor yang dapat mempengaruhi seseorang untuk memilih karier. Kelompok faktor yang pertama adalah sikap dan nilai-nilai yang dianut oleh orang tua. Orang tua dapat mempengaruhi pilihan karier anak-anaknya melalui dua cara. Pertama dengan mempengaruhi tingkat aspirasi karier anak-anaknya.

Sebagai contoh, orang tua sering berkata pada anak-anaknya, “Belajar yang rajin, supaya pintar, dan jadi orang terkenal!” Pernyataan ini bakal memacu anak untuk belajar dan belajar, supaya jadi pintar dan nantinya ya jadi orang terkenal. Apalagi orang tua yang suka memperhatikan pergerakan peringkat anak di kelas bak mengawasi pergerakan harga saham di bursa.

Terlepas dari baik atau buruknya pendekatan orang tua tersebut, hal ini berbeda dengan orang tua yang sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan pasrah. Ingat, bahwa pasrah itu BUKAN berarti menerima nasib atau sabar.

Pasrah disini lebih pada refleksi dari perasaan kalah. Misalnya: “Sudahlah, buat apa sekolah tinggi-tinggi, yang jadi manajer itu cuma anak orang kaya!” Saya pribadi paling tidak setuju dengan model pernyataan yang kedua tersebut.

Sebagai orang tua mungkin saja kita telah mengalami getirnya hidup. Namun apakah adil mematahkan harapan anak tanpa memberinya kesempatan untuk bertarung?

Cara lain orang tua mempengaruhi aspirasi anak mengenai pilihan kariernya, adalah melalui pasokan informasi. Penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang berpendidikan tinggi dan dari kalangan ekonomi menengah akan memasok banyak informasi kongkrit mengenai pilihan karier pada anak-anaknya.

Menjadi orang kaya, orang terkenal, atau orang sukses bukanlah informasi pilihan karier yang kongkrit dibandingkan informasi mengenai ahli biologi kedokteran yang seperti James Watson pemimpin proyek human genome atau ahli komputer, seperti Bill Gates.

Orientasi karier seseorang untuk menjadi pegawai pemerintah atau pegawai swasta juga sering dipengaruhi oleh orang tua. Misalnya dengan pernyataan: “Jadi pegawai negeri saja, tenang.” Atau dengan memasok informasi bahwa pegawai negeri tidak bakal dipecat dan pensiun lebih terjamin dibandingkan jadi karyawan swasta. Walaupun kini pernyataan tersebut tidak lagi benar.

Kelompok faktor yang kedua adalah latar belakang pendidikan dan pelatihan. Sebagai contoh, ingin jadi ahli hukum yang perlu pendidikan formal di bidang hukum. Demikian pula bila ingin berkarier sebagai seorang dokter. Sedangkan karier di bidang bursa membutuhkan pelatihan khusus. Sementara bila ingin bekerja di bidang public relations sebaiknya punya keterampilan berbahasa minimal bahasa Inggris plus pendidikan atau pelatihan dalam hal yang relevan.

Kelompok faktor yang ketiga adalah faktor ekonomi. Umumnya, bila Anda datang dari keluarga dengan tingkat ekonomi yang baik, maka kemungkinan untuk berkarier di bidang-bidang yang tidak komersial sangatlah besar. Misalnya menjadi ahli antropologi atau arkeologi. Mungkin juga menjadi sastrawan atau mengambil S3 di bidang fisika nuklir.

Faktor keempat adalah kemampuan individu. Banyak yang mengatakan bahwa kemampuan itu cuma soal persepsi. Misalnya: “Saya paling tidak bisa bila disuruh bicara di depan orang banyak.” Apakah pernah mencoba? Jangan-jangan belum pernah. Bak orang belum berlayar sudah takut ombak. Mungkin juga baru gagal satu-dua kali tapi sudah men-cap bahwa dirinya tidak bisa bicara di depan umum. Atau cuma masalah tidak tahu caranya saja, sehingga perlu kursus, kemudian praktek, dan tidak ada masalah lagi dengan bicara di depan umum.

Namun tidak bisa disangkal bahwa kemampuan seseorang berbeda dengan orang lain. Misalnya ada orang yang senang dan mahir betul dengan angka sehingga kemudian jadi ahli fisika, sementara orang lain sungguh memikat bila bicara di depan orang banyak dan menjadi MC (Master of Ceremony – ini bukan gelar kesarjanaan lho!). Perbedaan kemampuan ini sedikit banyak mempengaruhi pilihan karier seseorang.

Terakhir adalah minat dan kebutuhan. Orang yang suka berinteraksi dengan orang lain atau people-oriented akan mencari pekerjaan yang sesuai dengan minatnya tersebut. Misalnya di bidang pemasaran, sumber daya manusia, atau public relations.

Demikian pula orang dengan kesukaan akan hal-hal yang indah atau memiliki artistic personality kemungkinan besar akan memilih bekerja di bidang periklanan, di jalur musik, fashion, dan sebagainya. Sementara yang suka hal-hal yang analitis dan rasional akan memilih berkiprah di bidang keuangan, produksi, atau strategik.

Bagi Anda yang menyesal karena memilih jurusan fisika murni, coba saja dibayangkan bagaimana bila beralih bidang karier ke public relations. Sesuaikah dengan minat Anda? Terpenuhikah kebutuhan Anda?

Nah, bagaimana dengan Anda yang merasa kurang berani dalam mengirim lamaran ke perusahaan multinasional? Penyebab perasaan kurang berani tersebut kemungkinan besar bisa berasal dari faktor-faktor yang telah dijelaskan di atas. Misalnya pengaruh orang tua, faktor ekonomi, minat Anda, atau persepsi atas kemampuan Anda.

Namun yang lebih penting sekarang adalah menjelajahi berbagai kemungkinan untuk mencari pekerjaan (yang halal). Jangan terlalu terpengaruhi dengan iklan mentereng, jurusan yang kurang komersial, atau almamater yang kurang beken. Yang penting adalah, seberapa besarkah kemampuan Anda untuk belajar. Go and get the job, now!

*Tulisan ini dimuat di harian Republika, 25 Mei 2010.

Ningky Risfan Munir blogDr. Ningky Sasanti Munir, Senior Core Faculty PPM School of Management
NKY@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s