Menyoal Idealisme Aliansi

Esensi dari pepatah ”bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” ternyata tak hanya efektif diterapkan saat perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dalam kancah perekonomian nasional saat ini, kehadiran semangat tersebut mutlak dibutuhkan. Betapa tidak, maraknya kerja sama (baca: aliansi) produsen domestik dengan asing telah membawa perubahan cukup besar dalam dunia bisnis di Tanah Air.

Munculnya sifat individualisme dalam berbisnis hingga bergesernya pandangan kesejahteraan bersama sering dipandang sebagai salah satu bukti nyata perubahan tersebut. Tak ayal, realitas ini pulalah yang membuat kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin besar. Jika tak segera ditemukan solusinya, maka kondisi tersebut berpotensi menjauhkan negara kita dari cita-cita nasionalnya.

Dari sudut pandang pengelolaan bisnis, tak ada yang salah dengan proses aliansi produsen domestik dengan pihak asing. Kenyataan tersebut senantiasa dipahami sebagai konsekuensi dari keterbatasan sumber daya serta tuntutan era perdagangan bebas.

Di satu sisi ketersediaan sumber daya alam yang melimpah di Nusantara tidak dibarengi dengan kemampuan dalam mengolah menjadi produk bernilai tambah. Di sisi lain, produsen asing memiliki kemampuan baik di bidang keuangan maupun teknis dalam mengelola sumber daya tersebut untuk menjadi produk-produk bernilai jual tinggi. Alhasil, daya magnetik ekonomilah yang turut menciptakan aliansi tersebut. Meski demikian, ada beberapa hal yang seharusnya menjadi catatan kita dalam konteks aliansi.

Pertama, apakah aliansi hanya terjadi pada tataran transaksi bisnis, atau hingga menyentuh cara pandang dalam berbisnis? Meski terkesan sederhana, harus disadari bahwa banyak produsen domestik yang dulunya dikenal sebagai salah satu penopang perekonomian wilayah, kini tiba-tiba berubah menjadi penguras kekayaan daerah pascaaliansi dengan produsen asing.

Perusahaan-perusahaan dalam negeri hendaknya secara konsisten mengingat maksud dan tujuan dari keberadaan perusahaan dalam menciptakan kesejahteraan bagi para stakeholder, termasuk masyarakat setempat.

Artinya, perlu adanya hierarki pihak-pihak dari kelompok stakeholderyang menjadi tujuan keberadaan perusahaan. Apakah investor semata atau masyarakat sekitar? Jika jawabannya adalah investor semata,maka bukan hal yang aneh jika kekayaan daerah lekas terbang ke luar negeri.

Namun jika masyarakat sekitar, mulai dari konteks wilayah sampai dengan nasional yang menempati urutan pertama,  maka proses produksi perusahaan akan mampu meningkatkan kemakmuran di Indonesia.

Tak hanya itu, mekanisme yang timbul dari cara pandang tersebut di lapangan telah membentuk sebuah siklus aliansi domestik antara perusahaan sebagai produsen dengan segenap pelaku pasar.

Sebagai contoh, aksi positif yang dilakukan perusahaan kepada masyarakat sekitar baik melalui produk yang diciptakan maupun aktivitas-aktivitas sosial, telah berhasil menumbuh kembangkan loyalitas di kalangan konsumen.

Ini merupakan modal yang sangat penting bagi perusahaan dalam memperpanjang usia operasionalnya. Semakin loyal konsumen maka produsen dapat menancapkan produknya di pasar domestik. Nah, dalam kondisi itu secara tidak langsung terdapat upaya proteksi yang dilakukan pasar terhadap perusahaan.

Kedua, yang perlu dicermati dari aliansi adalah potensi terciptanya sinergi dalam jangka panjang. Beberapa literatur manajemen memaknai sinergi sebagai sebuah kombinasi yang menghasilkan daya saing di atas kemampuan daya saing individunya.

Tak ada yang salah dengan konsep tersebut,namun realitas menunjukkan bahwa dinamika bisnis telah membawa perubahan dalam pemaknaan sinergi. Terminologi sinergi yang dulunya selalu identik dengan daya saing jangka panjang, kini telah berubah menjadi jangka pendek.

Perhatikan proses aliansi yang tiba-tiba putus di tengah jalan karena salah satu pihak telah mengantongi sejumlah keuntungan dari sinergi dengan pemain domestik. Sebagian kalangan bahkan memandang aliansi dengan kacamata pesimistis, pihak asing melakukan aliansi hanya untuk mengenal lebih jauh pasar domestik. Setelah itu, mereka akan mampu berdiri sendiri bahkan menggeser posisi pemain lokal. Kealpaan regulasi sering disebut-sebut sebagai faktor pencipta peluang tersebut.

Oleh karenanya, produsen lokal tak hanya perlu jeli dalam menjajaki aliansi namun juga harus menyusun strategi agar proses tersebut mampu membuka peluang transfer daya saing kompetitif seperti kemampuan di bidang inovasi, pendanaan hingga teknologi.

Sedapat mungkin proses transfer pengetahuan dan kemampuan tersebut diduplikasi oleh segenap jejaring pemain lokal. Untuk itu, ke depan persatuan dalam komunitas pemain setiap industri harus semakin kokoh agar aliansi yang dilakukan benar-benar mampu meningkatkan daya saing domestik.

Sukses menyertai Anda!

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 26 June 2012

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s