Keputusan Untuk Meninggalkan Perusahaan

Melalui e-mail, seorang pembaca bercerita bahwa dalam 18 tahun masa kerjanya, ia pernah  meninggalkan tiga perusahaan, sebelum akhirnya betah di perusahaan yang sekarang.

Pada perusahaan pertama, usianya 24 tahun, baru bekerja selama satu tahun dan keluar dengan alasan sebal dengan sepak terjang perusahaan yang tidak etis. Pada perusahaan kedua, setelah bekerja selama tiga tahun, ia pun cabut dengan alasan sudah cukup belajar dan ingin gaji lebih tinggi. Pada perusahaan ketiga, dengan usia di atas 35 tahun, pembaca ini hengkang dengan alasan ingin karier yang lebih baik.

Apakah dengan demikian di perusahaannya kini ia sudah happy dengan etika perusahaan, gaji, dan karier? Katanya sih demikian. Paling tidak sampai detik e-mailnya dilayangkan pada saya.

Pembaca lain sebetulnya menanggapi artikel terdahulu mengenai budaya organisasi, tetapi menurut saya kasusnya cukup relevan untuk topik tulisan kali ini. Pembaca tersebut, seorang sarjana seni rupa dari sebuah perguruan tinggi terkemuka di Bandung, bercerita bahwa ia baru saja berhenti bekerja dari sebuah biro iklan.

Biro iklan itu tidak besar, namun terkenal kreatif. Hal itu dibuktikan dengan beberapa penghargaan yang diterima perusahaan karena iklan-iklannya yang menarik. Ketika baru diterima, “rasanya selangit”, begitu ekspresi sarjana seni rupa ini. Sebab ia sudah lama bercita-cita untuk bekerja di biro iklan ternama.

Namun baru bekerja 6 bulan, ia merasa risih. “Ada  dua orang profesional perempuannya yang berpakaian dan bertingkah laku seperti pria,” bukan itu saja, tampaknya kedua profesional ini juga membawa gaya hidup dan prinsip-prinsipnya ke tempat kerja.

Setelah mencoba bertahan untuk ‘pura-pura tidak melihat’, akhirnya sarjana seni rupa kita memutuskan untuk pergi. “Saya suka sekali dengan pekerjaannya, tapi saya muak melihat dua orang itu,” katanya.

Dari dua kasus di atas, ada beberapa hal yang bisa dipelajari. Oleh sebab itu, tulisan ini akan membahas dua di antaranya, yaitu alasan karyawan atau eksekutif meninggalkan perusahaannya, dan kedua, hal yang perlu dipertimbangkan saat kita memutuskan untuk keluar.

Mengapa Meninggalkan Perusahaan?

Setidaknya ada empat kategori alasan yang memicu karyawan atau eksekutif untuk keluar dari perusahaannya. Pertama, adalah faktor demografi seperti usia, masa kerja, dan status pernikahan. Kalau masih muda inginnya banyak belajar, tidak apa gajinya cuma cukup buat transpor dan hidup tiga minggu sebulan.

Kalau sudah menikah, mulai menghadapi tuntutan ekonomi yang lebih nyata, gaji pun terasa tidak manusiawi. Masa kerja yang meningkat juga membuat seseorang mulai berpikir: what next? Selanjutnya apa, masa begini-begini saja.

Kedua adalah faktor sikap kerja, misalnya kepuasan kerja, harapan yang tidak terpenuhi, dan komitmen. Seperti pembaca tersebut, ia ingin bekerja di perusahaan yang etis, tidak yang model menghalalkan segala cara demi profit. Pekerjaan yang kurang menantang juga masuk kelompok alasan yang satu ini.

Pergeseran komitmen menjadi penyebab seseorang meninggalkan perusahannya. Misalnya, teman-teman yang awalnya ingin bekerja sebagai peneliti yang tekun dan berdedikasi, menjadi kecewa dengan tingkat imbalan dan penghargaan lain yang diberikan pada kelompok peneliti, dibandingkan kelompok wiraniaga.

Ketiga adalah faktor kinerja. Para karyawan dan eksekutif yang kinerjanya buruk, umumnya akan meninggalkan perusahaan, dan pindah ke perusahaan lain dimana ia bisa memulai membangun reputasi baru. Kinerja yang buruk ini bisa disebabkan oleh kemampuan orang itu yang tidak sesuai dengan tuntutan pekerjaan, bisa pula dipengaruhi oleh faktor perusahaan.

Keempat adalah faktor keamanan dalam bekerja yang sangat erat hubungannya dengan faktor ketiga, atau kinerja. Contohnya, seorang staf bagian pemasaran merasa atasannya tidak adil dalam memberikan pembagian tugas meliput pasar. Daerah yang diliputnya selalu daerah-daerah bermasalah, padahal ia tidak punya banyak pengalaman dan tidak ada supervisi dari atasan. Kinerjanya dianggap buruk. Hingga saat ini tidak ada seorang pun yang mengancam bakal memecat staf tersebut, namun ia memutuskan untuk mengundurkan diri. Toh (tampaknya) nanti akan dipecat juga.

Cari Alternatif  Lain atau Keluar

Empat kelompok kategori alasan di atas akan memicu karyawan atau eksekutif untuk mencari alterantif lain atau keluar. Misalnya, karyawan yang membutuhkan pendapatan lebih tinggi akan mencari jalan untuk bekerja sampingan, tanpa meninggalkan pekerjaan utamanya.

Jangan dikira cuma pegawai negeri yang punya hobby cari sabetan sehingga sulit ditemukan di kantornya, karyawan perusahaan swasta pun bisa demikian. Bahkan kadang-kadang menjurus sampai keterlaluan karena menggunakan fasilitas kantor (foto copy, mesin fax, telepon) untuk menjalankan bisnis sampaingannya itu.

Contoh lain, karena merasa tidak bisa berpretasi di bagian pemasaran, maka seorang karyawan minta dipindahkan ke bagian lain. Atau karena tidak cocok dengan atasan, minta pindah ke bagian yang jauh dari atasannya itu, bahkan pindah unit kerja supaya tidak ketemu si boss yang bikin senewen tersebut. Nah, kalau berbagai alternatif sudah tidak mungkin, ya cuma ada satu jalan, keluar. Itu juga kalau berani!.

Pertimbangan Sebelum Memutuskan

Sebelum memutuskan untuk keluar, sebaiknya kita perlu menimbangnya masak-masak. Karena ini adalah satu keputusan yang besar. Saya pribadi juga pernah memutuskan untuk keluar dari kantor-kantor yang terdahulu. Kata orang, yang petama kali pasti sangat berat, selanjutnya gampang. Ternyata tidak juga.

Kalau mau keluar masuk perusahaan sebaiknya dengan RENCANA. Jangan asal tidak suka sedikit lalu keluar. Perusahaan-perusahaan yang baik selalu memperhatikan catatan karier kita. Kalau pada usia 35 tahun sudah pindah dari tujuh perusahaan, kening para pengambil keputusan di rekrutmen dan seleksi pasti berkerut. Apalagi kalau catatan karier itu tidak berpola. Artinya tidak menunjukkan pertambahan keahlian dalam satu bidang secara mendalam, atau tidak menunjukkan  semakin lengkapnya bidang-bidang keahlian yang dikuasai.

Jangan pernah mengambil keputusan pada saat sedang marah atau emosi tinggi. Nanti menyesal lho! Pertimbangkan apakah perilaku atasan itu sebenarnya wajar atau memang tidak dapat diterima. Pertimbangkan apakah kenaikan gaji yang 150 persen itu setimpal dengan kewajiban harus sering melakukan perjalanan keluar kota sehingga Anda sering berpisah dengan keluarga. Jangan pernah pindah sembarang pindah, bisa-bisa dari mulut buaya, kita masuk mulut singa. Mati juga kan?

*Tulisan ini dimuat di harian Republika, 22 Juni 2010.

Ningky Risfan Munir blogDr. Ningky Sasanti Munir, Senior Core Faculty PPM School of Management
NKY@ppm-manajemen.ac.id

2 thoughts on “Keputusan Untuk Meninggalkan Perusahaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s