(Masih) Amankah COC Anda?

cost of capital at manajemenppm wordpress comJika ditanya faktor apa yang dicinta sekaligus dibenci di dalam pengelolaan keuangan perusahaan, sebagian besar manajer menjawab: keputusan pendanaan jangka panjang.

Bertahun-tahun fenomena ini berhasil menghantui para pengelola perusahaan. Betapa tidak, salah menentukan pendanaan jangka panjang akan berakibat buruk pada peningkatan beban yang harus ditanggung perusahaan. Bisa-bisa perusahaan hanya bekerja untuk membayar tagihan bunga atas pinjamannya selama ini.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa salah satu faktor pemicu kompleksitas dala penentuan pendanaan jangka panjang adalah minimnya pertimbangan yang matang akan masa depan sesaat setelah jenis dana ditentukan.

Mayoritas responden menyebutkan bahwa tingginya ketidakpastian yang harus dihadapi manajemen telah membuat asumsi mereka menjadi begitu absurd. Tak hanya itu, dengan ketidakpastian yang tinggi mereka cenderung untuk melebihkan beberapa persen komponen biaya modal dari yang semestinya.

Harapannya adalah bila trend ekonomi secara spontan berubah, mereka tak perlu lagi khawatir karena sudah memberikan ‘kelonggaran’ sekian persen dalam biaya modalnya (baca: cost of capital).

Hal senada ternyata juga terjadi di dunia bisnis dalam negeri. Di sana sini masih dapat ditemui paradigma yang menyatakan perlunya bagi manajemen untuk meningkatkan nilai biaya modalnya sedikit di atas yang sebenarnya.

Ini dilakukan semata-mata untuk motif ‘jaga-jaga’, bila terjadi penurunan atau gejolak dalam ekonomi. Krisis keuangan yang masih menghantui Amerika serta Eropa sering dijadikan kambing hitam pada keputusan tersebut.

Terlepas dari pro kontra langkah ini, hasil penelitian tersebut mengingatkan kita akan perlunya bagi manajemen untuk menilai kembali apakah besaran biaya modal perusahaan masih dalam ‘batas-batas’ kewajaran? Artinya apakah dengan besaran tersebut perusahaan masih mampu menghasilkan sisa arus kas bersih yang sangat berpotensi dalam pertumbuhan organisasi di masa depan.

Menentukan titik bawah dan atas dari kewajaran sebuah biaya modal harus diakui bukanlah hal yang sederhana. Terlebih di era di mana sumber pendanaan dalam bentuk utang terlihat begitu potensial dibandingkan pendanaan ekuitas.

Rendahnya suku bunga pinjaman serta mudahnya akses perbankan telah membuka ‘celah’ bagi penentuan pendanaan jangka panjang yang ‘tidak disiplin’. Alih-alih ingin menjaga stabilitas modal dalam jangka panjang seringkali manajemen malah mempunyai sisa kas yang ‘menganggur’. Padahal di satu sisi timbul kewajiban pembayaran bunga atas kas tersebut.

Pandangan bahwa ‘yang penting perusahaan mempunyai kas yang berlebih pasca investasi, jadi bisa digunakan untuk kepentingan lainnya’ mutlak perlu dikaji ulang. Terlebih jika yang dimaksud dengan ‘kepentingan lainnya’ itu belum jelas.

Pada konteks tersebut dana yang ‘menggangur’ tak hanya membebani manajemen melainkan juga menimbulkan opportunity cost yang besar bagi perusahaan. Selain itu, sejumlah studi menunjukkan bahwa kelebihan kas sering disebut-sebut sebagai cikal bakal keputusan investasi yang salah bagi perusahaan. Tak jarang bahkan seperti mengarahkan kemudi perusahaan pada lembah kerugian.

Tekanan pada manajemen untuk memanfaatkan dana ‘idle’ itulah yang diestimasi menjadi penyebab keputusan investasi yang tidak tepat.
Satu premis yang paling ideal dalam kondisi saat ini sebenarnya adalah memadukan antara kebutuhan dana dengan model pendanaan.

Untuk setiap kebutuhan dana jangka pendek hendaknya dicukupi melalui sumber pendanaan jangka pendek pula. Demikian sebaliknya, untuk setiap kebutuhan jangka panjang dapat dicukupi dengan sumber dana berdurasi lebih dari satu tahun. Melalui pola tersebut manajemen akan terhindar dari jebakan pendanaan jangka panjang.

Hal yang sama juga berlaku pada proses pemilihan antara utang dengan ekuitas. Premis tersebut menekankan manajemen untuk menentukan terlebih dahulu posisi utang maksimum yang masih dapat ditanggung perusahaan.

Dengan demikian jika manajemen merasa perlu pendanaan di atas nilai tersebut maka pendanaan ekuitas dapat menjadi alternatif terbaik. Sebab setiap tambahan utang di atas nilai maksimum tak hanya akan menambah biaya modal secara signifikan, melainkan juga mengarahkan perusahaan pada kebangkrutan dan ilikuiditas.

Nah dalam konteks tersebut dapat dilihat bahwa memilih pendanaan dalam bentuk utang tak selamanya menurunkan beban perusahaan (baik sebagai akibat efek pengurangan pajak maupun biaya yang lebih rendah dari penggunaan ekuitas). Rambu-rambu ini diharapkan membantu manajemen dalam menjaga biaya modalnya.

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 2012.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s