Tarik Ulur Manajemen Modern-Konvensional

Bila ditanya apa yang menjadi prinsip dasar dari sebuah bisnis, maka jawaban yang umum diperoleh adalah misi, visi, dan falsafah hidup perusahaan. Sebenarnya tak ada yang salah dengan pandangan tersebut. Setidaknya ketiga hal itu pulalah yang dikumandangkan oleh sejumlah literatur manajemen modern.

Namun menilik pada sektor UMKM (usaha mikro kecil menengah) di pesisir pantai utara Jawa, di mana toko-toko dikelola dengan cara-cara ‘konvensional’ selama puluhan tahun, tanpa memiliki misi, visi, maupun falsafah hidup, mungkin anda akan cukup terperanjak. Tak hanya itu, sektor itulah yang sejatinya menjadi donator tetap bagi pendapatan daerah, baik melalui pajak maupun langkah penciptaan lapangan kerja.

Mencermati bisnis yang dikelola secara tradisional di sejumlah daerah di tanah air memang sangat menarik. Anda dapat menemukan berbagai konsep manajemen baru yang dikembangkan dari hal yang sangat sederhana. Sebagai contohnya, ‘komitmen’ yang menjadi nilai dasar bagi pengembangan bisnis selama puluhan tahun.

Pada fase awal bisa jadi seseorang memutuskan untuk menjadi pebisnis karena adanya desakan pemenuhan kebutuhan ekonomi (baca: terpaksa). Namun dipenuhi dengan pemahaman bahwa untuk dapat menjalani kehidupannya (terlebih hidup berkeluarga) seorang kepala keluarga berkewajiban memberikan nafkah bagi istri dan anak-anaknya maka keterpaksaan tersebut secara otomatis akan berubah menjadi sebuah komitmen.

Pada sebuah studi terkait pengelolaan usaha di pesisir pantai utara Jawa (baca: Pantura), diperoleh fakta bahwa keterlibatan seorang istri dan anak-anak dalam pengelolaan bisnis keluarga umumnya dipicu karena adanya komitmen yang kuat terhadap kelangsungan hidup keluarga di masa depan.

Hal yang sama juga akan berlanjut dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Langkah ‘melestarikan’ usaha yang telah diwariskan oleh sang kakek-nenek pun kini dipahami sebagai sebuah wasiat dalam menjalani kehidupan.

Alhasil tak jarang meski bisnis tersebut telah dipenuhi dengan generasi muda lulusan sekolah manajemen dan bisnis ternama di dunia, namun nilai-nilai kehidupan sang kakek-nenek terus dipahami sebagai nilai fundamental dalam mengelola perusahaan. Realitas tersebut sekaligus membuktikan kekuatan nilai-nilai lokal dalam penentuan umur bisnis. Lalu bagaimana dengan prinsip manajemen modern?

Sinergi antara keduanya akan memantapkan jejak langkah bisnis di masa depan. Di satu sisi komitmen untuk meneruskan keberlanjutan warisan dari satu generasi ke generasi selanjutnya dibutuhkan sebagai semangat dalam mengembangkan bisnis. Di sisi lain, kemajuan metode pengelolaan perusahaan seperti prinsip pencatatan akuntansi yang mengacu pada standard pelaporan, atau mungkin adanya tuntutan pendanaan melalui penawaran publik merupakan konsekuensi dari perjalanan umur sang bisnis.

Tidak hanya itu, bisnis konvensional kini mulai diperhadapkan pada tuntutan untuk menjalankan teknik-teknik pemasaran yang tepat agar tetap dikenal oleh pasar. Artinya tanpa adanya perpaduan dengan konsep modern, niscaya bisnis keluarga akan berjalan lebih lambat, bahkan berpotensi lekang oleh waktu.

Menerima perubahan, terlebih jika kita berbicara tentang pola pikir atau cara pandang dalam proses seseorang mengais rezeki memang bukanlah hal yang sederhana. Kekhawatiran bahwa konsep modern tak selalu cocok dengan karakteristik usaha, atau adanya persepsi bahwa pengelolaan modern identik dengan pengeluaran yang lebih besar pada dasarnya merupakan hal yang perlu dilihat secara lebih bijaksana.

Pada fase lanjutan, manajemen mungkin tak perlu lagi dipandang dalam dimensi waktu. Artinya segregasi antara manajemen modern dengan tradisional sudah tak lagi perlu dipergunjingkan. Satu hal yang kini perlu diinisiasi bersama adalah bagaimana ‘meramu’ pola pengelolaan perusahaan dari dimensi praktis maupun konsep.

Di satu sisi pebisnis dapat memperkaya ide bisnis melalui pengayaan konsep, di sisi lain pebisnis juga dapat membangun sebuah konsep dari pengalaman praktik bisnisnya di lapangan, dari masa ke masa. Dengan cara inilah pebisnis dapat merumuskan nilai-nilai fundamental yang spesifik bagi perusahaanya, sekaligus menjadi pembeda dengan pesaing yang ada. Sungguh nilai-nilai yang dapat diwariskan bukan?

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 15 Mei 2013. h.15

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s