Bila Karier Sudah Mentok

Seorang eksekutif yang dulu optimistis, dinamis, kreatif, luwes dalam berkomunikasi, dan mudah bekerja sama, berubah menjadi kusut, kata-katanya pendek, enggan berkomunikasi, pikiran dan idenya tidak lagi segar bahkan seringkali tidak relevan dengan topik yang dibahas. Perubahan perilaku tersebut boleh jadi adalah gejala dari seorang eksekutif yang merasa kariernya mentok, atau kariernya tidak bisa naik lagi.

Struktur organisasi perusahaan konvensional berbentuk piramid, menyempit di atas, sehingga makin ke atas makin sedikit posisi yang dibutuhkan. Setelah bekerja sekitar sepuluh tahun, seorang akan menyadari setinggi apa lagi ia bisa naik, atau sudah mentok di tingkat ini saja hingga pensiun.

Seorang perwira yang menyandang pangkat mayor lebih dari 6 tahun, tentu tahu bagaimana kemungkinannya untuk bisa jadi jenderal. Dalam hal ini “perasaan mentok” inilah yang menjadi masalah, bukan kenyataan tentang karier sendiri.

Perasaan mentok ini dapat meliputi kehidupan profesional dan kehidupan pribadi. Pada kehidupan profesional, bila ia menyadari bahwa dari perusahaan ia tidak dapat lagi mendapat tanggung-jawab lebih dari yang ditanganinya beberapa tahun ini. Pada kehidupan pribadi, bila ia tiba-tiba menyadari bahwa ia tidak mungkin lagi menjangkau ambisinya dalam hidup ini lebih tinggi lagi, dan harus menjalaninya hingga pensiun nanti.

Eksekutif yang mengalami masalah ini merasa bahwa seberapapun ia bekerja keras untuk perusahaan, apa yang akan didapatnya tidak akan lebih dari yang sudah-sudah, pengakuan juga seolah tidak ada lagi. Ia lalu merasa tidak ada harapan-harapan baru lagi, kalau ini kian akut ia menjadi sinis dan tertekan.

Sebenarnya menajemen perusahaan harus mengenali gejala ini sejak dini, karena sifatnya cukup umum, dan kemudian mencarikan jalan keluarnya, karena walaupun struktur perusahaan mungkin tidak bisa dikembangkan lagi, eksekutif  yang cukup senior tentu dapat dimanfaatkan pengalamannya secara lebih baik.

Banyak perusahaan besar yang mengantisipasi masalah tersebut dengan menciptakan unit-unit usaha baru, agar potensi energi dan kemampuan dari para eksekutif tersebut bisa dimanfaatkan untuk  ekspansi perusahaan, atau dengan menambah tanggung-jawab mereka dengan mewadahinya dalam  tim-tim  (think tank) pengembangan bisnis, atau kelompok kerja tertentu.

Namun harus diwaspadai bila yang terkena sindrom tersebut justru kita sendiri. Setidaknya kita perlu mengantisipasi manakala usia kerja dan posisi kita di perusahaan sampai pada titik tersebut. Untuk itu di bawah ini beberapa saran yang dapat diterapkan untuk menghadapi dan mengatasi masalah-masalah yang ditimbulkannya, yaitu:

Dengar dan tanyakan pada diri sendiri. Apa yang telah membawa kepuasan dalam hidup anda selama ini? Apa-apa yang ingin anda capai dalam pekerjaan selama lima atau sepuluh tahun ke depan? Ubah dan perluas struktur pendapatan dan harapan-harapan pribadi anda, sehingga tidak terbatas pada imbalan dan penghargaan dari pekerjaan utama, atasan atau perusahaan.

Jangan memandang diri sendiri sebagai korban atau menganggap kondisi ini sebagai kegagalan. Dalam hal ini perlu adil dalam membuat kalkulasi keberhasilan-keberhasilan dan ketidak-berhasilan dalam karier dan kehidupan pribadi. Telusuri kembali dari mana dulu anda datang, keberhasilan-keberhasilan dan jenjang yang anda capai.

Dalam perspektif ini tentunya tiap orang, teman atau pesaing anda, masing-masing menempuh jalan yang berbeda sehingga tidak selalu bisa dibandingkan begitu saja. Bila hal ini sulit dilakukan sendiri, maka tidak ada salahnya dibicarakan dengan teman atau orang yang dapat dipercaya, kalau tidak ada mungkin perlu bicara dengan seorang profesional.

Bicarakan secara terbuka dengan atasan. Jika anda merasa bahwa hal ini sulit anda lakukan, atau anda merasa bahwa atasan tidak akan mungkin mau membantu, ada baiknya anda mengambil insiatif dengan membuat rencana  “menolong diri-sendiri”.

Kembangkan suatu proyek, atau partisipasi dalam kegiatan pemecahan masalah, yang anda perkirakan dapat anda kendalikan secara penuh. Bawa hasilnya kepada atasan, bagaimana anda telah meringankan beban atasan, mudah-mudahan atasan anda akan menjadi terbuka pikirannya dan memberi kepercayaan atau kewenangan-kewenangan yang lebih luas kepada anda.

Kembangkan respon-respon baru. Hal ini termasuk menciptakan prestasi atau kepuasan pribadi dan imbalan dari kegiatan-kegiatan di luar pekerjaan kantor. Gali kemungkinan-kemungkinan pengembangan diri untuk meningkatkan kematangan profesional dan hidup. Kalau hal ini dikerjakan dengan baik, maka anda akan merasa lebih baik secara  pribadi, keluarga, pekerjaan, dan kehidupan secara keseluruhan.

Tingkatkan terus dan pelihara rasa percaya diri berbuat untuk orang lain. Ciptakan keberhasilan-keberhasilan di bidang yang lebih luas melalui aktivitas dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan kompleks perumahan, kelompok nir-laba, mengajar paro-waktu di kampus atau kursus-kursus profesional.

*Tulisan ini dimuat di harian Republika, 20 Juli 2010.

Ningky Risfan Munir blogDr. Ningky Sasanti Munir, Senior Core Faculty PPM School of Management
NKY@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s