Pembelajaran Mandiri untuk Meningkatkan Prestasi Kerja

Pernah menyaksikan atau mendengar seseorang berkomentar, “Nggak kompeten amat tuh orang!” atau “Payah, orangnya nggak kompeten.”  Mungkin kalau mau, kita bisa menambah deretan yang lebih panjang tentang komentar (baca: keluhan), baik yang kita dengar atau  kita lontarkan sendiri mengenai orang dalam melakukan suatu pekerjaan.

Di proyek pembangunan gedung, mungkin orang mengeluh atas prestasi kerja seorang mandor lapangan ataupun tukangnya; di kantor sebuah bank mungkin nasabah mengeluh atas pelayanan petugas customer service atau teller (frontliners); di sebuah perusahaan seorang manajer mengeluh atas prestasi bawahannya atau justru sebaliknya karyawan mengeluhkan kompetensi atasan mereka.

Dalam perbincangan saya dengan beberapa eksekutif yang lulus sarjananya sekitar tahun 70-an  dan kebanyakan dari mereka menyandang gelar insinyur (sarjana teknik) bahkan sebagian tanpa menyandang gelar apa pun sering mengeluhkan kompetensi karyawan (khususnya karyawan baru) mereka.

Keluhannya, “Lulusan universitas sekarang kok tidak sepintar atau seterampil lulusan dulu ya?, dengan yang cuma lulusan akademi (jaman dulu) saja kalah.” Biasanya saya bertanya, “Apakah mereka bodoh?” dan umumnya jawaban mereka relatif serupa, yaitu “Mereka sebenarnya tidak bodoh bahkan memiliki pengetahuan yang baik.  Cuma… itu lho, mereka tidak bisa menerapkan  pengetahuan  atau teori yang mereka pelajari di sekolah dalam pekerjaan.”

Saya bertanya pada diri sendiri, jadi …. kalau keadaan ini benar terus apanya ya yang keliru?  Sistem pendidikannyakah?  Intelegensia generasi muda yang lahir belakangankah?  Sikap atau perilaku anak-anak sekarang atas pengetahuan dan pekerjaan yang berbeda dengan generasi terdahulukah?  atau ada sebab lain?

Pada saat Sekolah Tinggi Manajemen PPM akan membuka program pendidikan strata 1 (S-1) manajemen bisnis, kami juga memperhatikan isu yang disampaikan di atas.  Sebenarnya, kompetensi macam apa sih yang dibutuhkan oleh perusahaan? Dengan demikian kami dapat merancang kurikulum yang memang mampu membangun kompetensi lulusan sesuai yang dibutuhkan oleh perusahaan.

Untuk memastikan hal tersebut ST Manajemen PPM melakukan penelitian.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk berprestasi seorang karyawan tidak cukup hanya memiliki pengetahuan (ilmu atau teori) dan keterampilan yang baik melainkan juga sikap atau perilaku pribadi yang baik juga.  Hard dan soft-competencies sekaligus.

Lima urutan tertinggi soft-competencies yang dibutuhkan adalah: kerjasama, motivasi berprestasi, komunikasi, integritas, dan inisiatif.  Karyawan untuk berprestasi perlu memiliki pengetahuan, dan keterampilan dibutuhkan untuk menerapkan pengetahuan.

Dalam penerapan di lapangan, seorang karyawan tidak bisa bekerja sendiri dengan demikian keberhasilannya juga akan sangat ditentukan oleh perilaku pribadinya (soft-skills atau soft-competencies).

Bagaimana seseorang dapat memiliki kedua kompetensi ini agar mampu berprestasi?  Perolehan kedua kompetensi ini tergantung pada faktor internal dan eksternal (lingkungan) orang tersebut.  Dalam tulisan ini akan disoroti secara khusus bagaimana kompetensi berhubungan erat dengan pendidikan dan motivasi.

Menurut Competency Causal Flow Model (Spencer and Spencer dalam buku Competence at Work – Models for Superior Performance, 1993) digambarkan bahwa tinggi rendahnya prestasi kerja ditentukan oleh perilaku; dan bagaimana perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh karakter pribadi orang tersebut.

Dengan demikian niatan atau kehendak kuat, sifat dan bakat, konsep diri, dan pengetahuan seseorang akan menentukan prestasi kerja orang tersebut.   Inilah sebenarnya yang merupakan kompetensi seseorang, artinya bahwa seseorang akan berprestasi atau tidak tergantung dari kompetensi yang dia miliki dalam menjalankan aktivitas pekerjaannya.

Kehendak, sifat dan bakat, dan konsep diri yang kuat akan mendorong seseorang untuk menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya dalam melakukan suatu pekerjaan.

Sebaliknya bila seseorang tidak memiliki motivasi yang kuat untuk berprestasi, konsep diri yang lemah, pengetahuan yang cetek, dan/atau keterampilan yang rendah (dengan kata lain orang tersebut tidak kompeten dalam melakukan pekerjaannya) maka dapat dipastikan prestasi kerjanyapun akan rendah.

Teori ekspektansi dari Victor Vroom menyatakan bahwa tinggi rendahnya motivasi seseorang dalam melakukan suatu tugas/pekerjaan dipengaruhi oleh ekspektasi atau harapan akan hasil yang akan dia peroleh.  Artinya: pertama, kalau dia meyakini dirinya tidak mampu melakukan suatu  pekerjaan maka dia tidak termotivasi  untuk melakukan pekerjaan tersebut.

Kedua, seandainya dia mampu mengerjakan suatu pekerjaan, tetapi dia meyakini bahwa prestasinya tidak akan mendapat imbalan atau penghargaan yang berarti baginya maka dia juga tidak akan termotivasi melakukan pekerjaan tersebut.

Jadi seseorang hanya akan termotivasi melakukan suatu pekerjaan dengan baik bila dia yakin bahwa: 1) dia mampu menyelesaikan pekerjaan tersebut, 2) dari hasil kerjannya dia akan mendapatkan imbalan yang sepadan menurutnya.

Dari model kompetensi Spencer & Spencer dan teori ekspektasi, kita tahu bahwa ada kaitan yang erat antara motivasi (soft competency), pengetahuan dan keterampilan (hard competency) dan prestasi kerja (work performance).

gambar 1

Yang menarik buat kita adalah apa yang dapat meningkatkan motivasi dan kompetensi seseorang?  Yang sering dilakukan oleh perusahaan adalah memberikan pendidikan dan pelatihan bagi karyawannya, hal ini dapat kita cermati dari sasaran program pendidikan dan pelatihan mereka.

Sebenarnya yang penting adalah bukan pendidikan dan pelatihannya, tetapi bagaimana proses pembelajarannya.  Dengan demikian peningkatan prestasi kerja melalui pengembangan kompetensi dan motivasi tidak harus melalui pendidikan atau pelatihan formal (ada bimbingan dan pengarahan dari pendidik atau pelatih) melainkan pendidikan dan pelatihan yang sifatnya mandiri pun bisa.

Bagaimana  pendidikan mandiri dapat berhasil?  Kita dapat menggunakan pendekatan seperti tergambar dalam Gambar 2 berikut ini.

gambar 2

Dalam Gambar 2, terlihat bahwa antara pembelajaran, motivasi, dan kompetensi saling berhubungan timbale balik.  Apa arti hubungan timbal balik ini?  Di atas sudah disampaikan hubungan timbal balik antara motivasi dan kompetensi.

Bagaimana hubungan timbal balik antara motivasi dengan pembelajaran (mandiri) dan antara kompetensi dan pembelajaran? Melalui pembelajaran, orang mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang akan mendorong motivasi seseorang dalam bekerja karena orang tahu dan yakin bahwa dia akan mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Sebaliknya,  pembelajaran (mandiri) akan efektif bila orang mempunyai motivasi yang kuat untuk belajar sesuatu.  Pembelajaran mandiri memerlukan disiplin yang tinggi; tanpa motivasi yang kuat orang cenderung tidak disiplin.

Hal lain yang dapat menunjang efektivitas pembelajaran adalah bakat. Dengan bakat yang sesuai, perkembangan pembelajaran akan terlihat nyata hasilnya  dan hal ini akan mendorong seseorang untuk terus belajar dengan senang hati.

Melalui proses pembelajaran juga diharapkan kompetensi (soft dan hard)  seseorang akan meningkat.  Dan sebaliknya untuk dapat belajar mandiri secara efektif diperlukan kompetensi pada tingkat tertentu.  Contoh sederhana adalah untuk mempelajari buku, orang harus mampu membaca.

Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin menyampaikan.  Kalau Anda ingin mempunyai prestasi tinggi, tunjukkanlah semangat Anda dalam melakukan pembelajaran mandiri.

*Tulisan ini dimuat di majalah Info BCA No. 154, edisi April 2006.

M. Sulistio RusliMartinus Sulistio Rusli, Ph.D, Direktur Program Sarjana Manajemen Bisnis, Sekolah Tinggi Manajemen PPM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s