Keadilan Berkelanjutan

Keadilan berkelanjutan (AHP) Sindo 1400513Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Tanah Air konsisten berada di atas level 6% per tahun. Namun, realitas tersebut bukan secara otomatis memberikan apresiasi positif pada hasil-hasil pembangunan nasional. Ketimpangan ekonomi antar­daerah kini masih terjadi.

Kontributor pertumbuhan ekonomi masih didominasi oleh wilayah Jawa. Tak hanya  itu, carut marut pengelolaan  bahan bakar minyak nasional yang belum  tertata secara  baik diperkirakan menyumbang pelemahan laju pertumbuhan ekonomi di 2013. Setidaknya, lembaga pemeringkat internasional seperti  Moody’s telah mengingatkan konsekuensi  tersebut.

Satu hal yang cukup memprihatinkan adalah pola penanganan pembengkakan dana subsidi bahan bakar minyak. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kebutuhan dana subsidi telah berujung pada peningkatan defisit anggaran pemerintah.

Padahal defisit itu akan ditutup dengan utang. Terbayang  nilai  penerimaan pemerintah jauh lebih rendah dari pengeluarannya maka aktivitas pendanaan melalui utang akan terus menjadi  primadona. Alhasil untuk pembayaran bunga atas surat utang terbitan pemerintah punberpotensi dibiayai dengan utang. Gali  lobang tutup lobang?

Mencermati kondisi tersebut memang mengusik nurani. Bukankah utang saat ini akan menjadi beban bagi generasi selanjutnya, padahal yang menikmati hasil utang tersebut adalah generasi sekarang. Meski pola ini umum diterapkan oleh negara-negara lain, namun bukan berarti Indonesia harus melakukan hal yang sama. Diperlukan langkah bijak agar kita mampu mewariskan kekayaan kepada generasi berikutnya, dan bukan beban utang sebagai kewajiban yang harus dibayar.

Salah satu konsep yang perlu diwacanakan adalah penerapan prinsip keadilan berkelanjutan. Sebagian pelaku ekonomi pasti telah memahami prinsip bisnis yang berkelanjutan atau dikenal dengan sustainable business. Kini  saatnya bagi sustainable fairness.

Sebagai sama-sama pengembangan konsep  going concern, prinsip keadilan berkelanjutan mengingatkan kita akan adanya kehidupan di tahun-tahun mendatang, sebuah kehidupan yang terus  akan diisi oleh aktivitas penambah nilai dari generasi-generasi  mendatang.

Keadilan dipahami sebagai bentuk apresiasi atas kesempatan yang sama antargenerasi dalam menikmati  kekayaan alam bumi  pertiwi, lengkap     dengan dua dimensi, hak dan kewajiban.

Selanjutnya, prinsip tersebut berdiri di atas dua pilar utama. Pertama, keadilan diterapkan dengan pemahaman bahwa generasi selanjutnya juga mempunyai  kebutuhan dan kepentingan yang harus dipenuhi. Kompleksitas kehidupan di tahun-tahun mendatang berpotensi menciptakan peningkatan kualitas pemenuhan kebutuhan hidup. Untuk itu dukungan sumber daya alam nusantara mutlak diper lukan dalam menopang kehidupan masa depan.

Kedua, perwujudan keadilan membutuhkan toleransi dan tenggang rasa dari setiap generasi.  Langkah menggunakan pertimbangan kualitas kehidupan  generasi mendatang dalam pengambilan keputusan saat ini merupakan hal yang harus terus dikembangkan. Tak hanya dalam hal eksploitasi kekayaan melainkan juga upaya pelestarian lingkungan. Pemahaman bah wa makin hari, timur bumi semakin berkurang.

Oleh karenanya, ‘wisdom’ generasi saat ini dalam bertindak tanduk sangat diperlukan demi ketersediaan bumi dengan kualitas yang sepadan dengan kondisi saat ini di masa depan.

Meski terkesan  sangat kompleks namun tidak demikian halnya bagi  anak Bangsa. Semangat mengembangkan sikap tenggang rasa yang menjadi salah satu sendi dasar kehidupan merupakan modal cara pandang yang cukup kuat.

Hal ini dibuktikan dengan maraknya gerakan gene­rasi muda untuk mencintai lndonesia melalui caranya sendiri-sendiri. Ini menunjukkan adanya perhatian tak hanya pada kualitas kehidupan Bangsa saat ini melainkan juga di masa depan.

Melalui paradigma keadilan berkelanjutan, diharapkan berbagai  pihak mampu untuk terus mengupayakan sikap tenggang rasa demi fundamental perekonomian negara yang lebih kuat di masa depan. Hanya dengan cara inilah generasi muda dapat menunjukkan sumbangsih terbaiknya bagi negeri. Semoga!

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 14 Mei 2013. h. 18

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s