Manajemen Bencana (Disaster Management)

https://i2.wp.com/www.tshwane.gov.za/SiteCollectionImages/HeaderImages/disaster%20management.jpg

Bencana yang terjadi di  Daerah IstimewaYogyakarta (DIY), seperti halnya yang terjadi di Daerah Istimewa Aceh, sangat tidak terduga. Bayangkan saja, ketika orang di Provinsi DIY dan sebagian wilayah Jawa Tengah yang dekat dengan provinsi tersebut sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana akibat Gunung Merapi, tiba-tiba dikejutkan oleh gempa bumi.  Gerakan lempengen bumi yang menimbulkan gempa berskala 5,9 skata Richter tersebut ternyata berpusat di laut selatan.

Apakah bencana dapat diprediksi? Sebagian besar  bencana masuk ke dalam kategori risiko, bukan kategori ketidakpastian. Ada perbedaan mendasar antara risiko dan ketidakpastian. Risiko selalu dikaitkan dengan ketersediaan informasi sehingga besarnya probabilitas kejadian dan besarnya dampak bisa diperhitungkan. Semakin miskin informasi, semakin sulit dilakukan kuantifikasi, maka kejadian tersebut semakin dekat ke arah ketidakpastian. Sebaliknya, semakin banyak data dan informasi tersedia sehingga dapat dilakukan kuantifikasi, maka semakin tinggi kualitas risiko, artinya akurasi kuantifikasi semakin baik.

Bencana alam, termasuk gempa bumi, termasuk ke dalam kategori risiko karena ada data yang bisa digunakan untuk memprediksi besarnya probabilitas dan dampak risiko tersebut. Data tersebut berkaitan dengan masa lalu kejadian gempa bumi, yang dapat digunakan untuk membantu penghitungan kuantitas risiko.

Apakah Manajemen Bencana?

University of Wisconsin mendefinisikan manajemen bencana sebagai “the range of activities designed to maintain control over disaster and emergency situation and to provide a framework for helping at-risk persons to avoid or recover from the impact of disaster. Disaster management deals with situation that occurs prior to, during, and after the disaster. (serangkaian kegiatan yang didesain untuk mengendalikan situasi bencana dan darurat dan untuk mempersiapkan kerangka untuk membantu orang yang rentan-bencana untuk menghindari atau mengatasi dampak bencana tersebut. Manajemen bencana berkaitan dengan situasi yang terjadi sebelum, selama, dan setelah bencana).

Universitas British Columbia merumuskan definisi bencana (disaster) dengan memperhatikan tiga hal. Pertama, bencana dipertentangakan dengan darurat (emergency). Bencana tidak sama dengan emergensi. Istilah emergensi biasanya dikaitkan dengan bencana mini, seperti kebakaran, robohnya sebuah rumah, dan sejenisnya. Sedangkan bencana dikaitkan dengan kejadian yang tidak biasa, sulit direspon, dan dampaknya bisa sampai beberapa generasi.

Kedua, bencana dikaitkan dengan kemampuan mereka yang mengalami bencana untuk mengatasinya. Sesuatu disebut bencana bila yang mengalami masalah atau masyarakat lokal tidak mampu menanganinya. Oleh karena itu, perlu keterlibatan masyarakat secara regional atau nasional, bahkan internasional.

Ketiga, bencana berkaitan dengan isu yang luas, bukan saja masalah ekonomi, tetapi masalah sosial, ekologi, bahkan merambah ke wilayah politik. Ketidakmampuan menangani bencana  bisa berakibat fatal terhadap kepercayaan masyarakat kepada penguasa.

Dengan demikian, Universitas British Columbia mendefiniskan manajemen bencana (disaster) sebagai  “process of forming common objectives and common value in order to encourage participants to plan for and deal with potential and actual disaster” ( proses pembentukan atau penetapan tujuan bersama dan nilai bersama (common value) untuk mendorong pihak-pihak yang terlibat (partisipan) untuk menyusun rencana dan menghadapi baik bencana potensial maupun aktual).

Tujuan Manajemen Bencana

Pada prinsipnya, manajemen dilakukan sejak sebelum bencana terjadi, bukan pada saat dan setelah bencana menimpa. Tujuan manajemen bencana yang baik adalah:

1.    Menghindari kerugian pada individu, masyarakat, maupun negara melalui tindakan dini (sebelum bencana terjadi).

Tindakan ini termasuk pencegahan. Tindakan ini efektif sebelum bencana itu terjadi. Dalam kaitan bencana gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta, atau tsunami di Aceh, tindakan ini sudah terlambat. Tetapi tindakan ini masih tetap efektif untuk mengantisipasi bencana yang bisa terjadi di kemudian hari, termasuk bencana yang mungkin lebih besar akibat ulah Gunung Merapi.

Tindakan penghindaran biasanya dikaitkan dengan beberapa upaya. Pertama, penghilangan kemungkinan sebab. Kalau bencana itu bisa disebabkan oleh kesalahan manusia, tindakan penghilangan sebab tentunya bisa dilakukan. Tetapi hal ini akan sulit bila penyebabnya adalah alam  yang memiliki energi di luar kemampuan manusia untuk melakukan.

Pergeseran lempeng bumi yang menyebabkan gempa bumi tektonik, misalnya, merupakan sebab yang sampai saat ini belum bisa diatasi oleh manusia. Belum ada satu teknologi  yang mampu menghambat pergeseran lempeng bumi, atau mengatur pergeseran supaya bergerak pelan-pelan dan tidak menimbulkan getaran hebat.

Oleh karena itu, tindakan penghindaran bencana alam lebih diarahkan pada menghilangkan, atau mengurangi kondisi, yang dapat mewujudkan bencana. Contoh “kondisi” yang dimaksud adalah struktur bangunan. Kondisi bangunan yang baik bisa meminimalisasi atau menghilangkan risiko bencana.

Struktur bangunan yang sesuai untuk kondisi gempa menyebabkan bangunan tahan terhadap goncangan, sehingga kerugian manusia, fisik, ekonomi, dan lingkungan bisa dihindari.

2.    Meminimalisasi kerugian pada individu, masyarakat, maupun negara berupa kerugian yang berkaitan dengan orang, fisik, ekonomi, dan lingkungan bila bencana tersebut terjadi.

Tindakan meminimalisasi kerugian akan efektif bila bencana itu telah terjadi. Tetapi perlu diingat, piranti tindakan meminimalisasi kerugian itu telah dilakukan jauh sebelum bencana itu sendiri terjadi. Contoh, bencana alam dengan cepat akan menimbulkan masalah pada kesehatan akibat luka parah, bahkan meninggal.  Maka tindakan minimalisasi yang harus dilakukan sejak dini adalah penyebaran pusat-pusat medis ke berbagai wilayah, paling tidak sampai ke tingkat kecamatanan.

Di Inggris, pemadam kebakaran disebar hingga ke tingkat distrik dan kota (setara dengan kabupaten) dengan koordinasi di tingkat county (setara dengan propinsi). Bila terjadi bencana kebakaran di satu lokasi, pemadam kebakaran di berbagai daerah bisa dengan cepat dikerahkan sehingga kerugian bisa diminimalisasi.

3.    Meminimalisasi penderitaan yang ditanggung oleh individu dan masyarakat yang terkena bencana.

Ada juga yang menyebut tindakan ini sebagai pengentasan. Tujuan utamanya adalah membantu individu dan masyarakat yang terkena bencana supaya bisa bertahan hidup dengan cara melepaskan penderitaan yang langsung dialami. Bantuan tenda, pembangunan kembali perumahan yang hancur, memberi subsidi, termasuk dalam kategori ini.

Tindakan yang juga termasuk kategori ini adalah pemulihan kondisi psikis individu dan masyarakat yang terkena bencana. Tujuannya adalah untuk mengembalikan optimisme dan kepercayaan diri. Dengan sikap yang positif tersebut, pemulihan individu dan masyarakat akan menjadi semakin cepat karena korban secara aktif membangkitkan diri sendiri.

4.    Untuk memperbaiki kondisi sehingga individu dan masyarakat dapat mengatasi permasalahan akibat bencana.

Perbaikan kondisi terutama diarahkan pada perbaikan infrastruktur seperti jalan, listirk, penyediaan air bersih, sarana komunikasi, dan sebagainya. Dalam kasus Yoygakarta, jalan merupakan salah satu infrastruktur yang perlu mendapat perhatian sekalipun (tampaknya) tidak terlalu parah. Selain itu, berbagai fasilitas masyarakat seperti pasar, terminal, dan sejenisnya juga termasuk dalam tindakan ini untuk membuat perputaran ekonomi masyarakat kembali bergulir.

5.    Untuk mempercepat pemulihan kondisi sehingga individu dan masyarakat bangkit ke kondisi sebelum bencana, atau bahkan mengejar ketinggalan dari individu atau masyarakat lain yang tidak terkena bencana.

Perbaikan infrastruktur tidaklah cukup. Itu hanya mengembalikan ke kondisi semula sehingga aktivitas ekonomi dan sosial berjalan sebagaimana layaknya sebuah wilayah. Daerah yang terkena bencana menjadi jauh tertinggal dibanding daerah lain.

Kabupaten Bantul, misalnya, telah kehilangan banyak kesempatan untuk mengembangkan ekonominya. Itu menyebabkan pertumbuhan ekonominya akan lambat. Apa yang perlu dilakukan adalah penerapan berbagai kebijakan, termasuk kebijakan fiskal, supaya orang tertarik untuk mengembangkan wilayah tersebut.

Seperti yang dilakukan pemerintah Jerman Bersatu pada saat baru menggabungkan diri antara Jerman Barat dan Jerman Timur. Salah satu bentuk tindakan yang dilakukan pemerintah pada saat itu adalah memberi insentif pajak bagi perusahaan yang bersedia menanamkan laba bersih mereka di wilayah Jerman Timur.

*Tulisan ini dimuat di majalah Eksekutif edisi Juni 2006.

Bramantyo DjohanputroBramantyo Djohanputro, Ph.D. Dosen Corporate Finance, Risk, dan Governance di PPM School of Management, Jakarta
BRM@ppm-manajemen.ac.id

One thought on “Manajemen Bencana (Disaster Management)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s