Steam Punk

Pernah menyaksikan salah satu iklan di MTV yang berjudul “Steam Punk?”  Jika belum, demikian kisahnya.

Alkisah seorang prajurit Jepang kelaparan mencari sebuah restoran.  Dengan segera ia menemukannya di pojok jalan. Setelah masuk, ternyata di dalamnya sangat sederhana: hanya terdapat sebuah meja.  Meja bundar dengan lubang di bagian tengahnya yang menjadi tempat berdiri seorang koki.

Meja bundar ini dikelilingi oleh bangku-bangku yang terhubung satu dengan yang lain.  Di atas meja bundar terdapat banyak piring makanan. Sistem yang berlaku di sana adalah sang koki akan mengambilkan makanan yang diinginkan oleh konsumen sekaligus mengolahnya, jika diminta.  Jika tidak, sang pelanggan dapat langsung memakannya dengan saus yang disediakan sang koki.

Setelah mengamati, sang prajurit menetapkan untuk memilih sebuah piring makanan, katakanlah piring berisi makanan A. Kemudian ia meminta sang koki untuk mengambilkannya. Sang koki memutar sebuah tombol di dekat ia berdiri dan dengan segera meja tersebut berputar, piring berisi makanan A itu pun bergerak mendekati sang prajurit yang kelaparan.

Keusilan sang koki kemudian muncul. Ia memutar sebuah kenop dan tiba-tiba saja meja tersebut berputar dengan lebih cepat dan semakin cepat. Dengan tenang, tetapi tetap waspada sang prajurit menunggu waktu yang tepat untuk mengambil piring makanan A tersebut.Tak lama, berkat tekad yang teguh dan kegesitan sang prajurit, piring makanan A sudah berada di tangannya lengkap dengan ekspresi kemenangan atas perjuangan yang telah dilaluinya.

Namun keusilan sang koki tidak berhenti hingga di sini. Ia memutar tombol lain yang ternyata memutar bangku di sekeliling meja menjadi lebih cepat. Sedemikian cepatnya sehingga topi sang prajurit digambarkan bak lokomotif kereta api. Dari sana keluar asap layaknya asap kereta api yang melaju dengan cepat.

Setelah cukup lama berputar, sang prajurit akhirnya terlempar keluar restoran tersebut sambil membawa piring yang berisi makanan A yang diidam-idamkannya. Senyum kemenangan sang prajurit menjadi semakin lebar. Cerita pun kemudian usai.

Pelajaran penting apakah yang dapat kita petik dari uraian cerita di atas? Mari kita susun bersama analoginya. Jika sang prajurit adalah kita sekalian, saya dan para pembaca yang budiman. Makanan A adalah tujuan akhir yang ingin kita wujudkan dan sang koki adalah tantangan yang akan selalu hadir dalam setiap kegiatan yang kita lakukan.

Cerita di atas menyebutkan bahwa sang prajurit berusaha untuk memperoleh apa yang diinginkannya walaupun itu berarti bekerja dengan sangat keras. Dengan demikian, moral cerita di atas adalah kita harus memiliki keteguhan hati dan kegigihan dalam meraih/mewujudkan cita-cita yang diidam-idamkan apa pun tantangan dan hambatan yang kita hadapi.

Berbicara tentang cita-cita yang diidamkan untuk terwujud, dalam tataran organisasi kita mengenalnya sebagai VISI. Saat ini visi tak melulu hanya konsumsi “anak sekolahan” namun sudah menjadi pembicaraan yang luas.

Apakah visi itu?  Pada dasarnya VISI adalah pandangan, wawasan, dan kemampuan untuk melihat inti persoalan. Dalam bahasa manajemen strategi, VISI merupakan pernyataan tentang what do we want to become, ingin jadi apa kita (organisasi) ini nantinya.

Apakah visi penting?  Yup, tentu saja. Mengapa? Karena dengan memiliki visi yang jelas maka kita semua baik secara individual ataupun sebagai anggota organisasi akan memiliki pandangan yang sama tentang masa depan kita dan organisasi. Dalam konteks manajemen strategi, visi merupakan bagian tak terpisahkan dari perumusan strategi bisnis organisasi yang bersangkutan.

Pernyataan terakhir diperkuat oleh sebuah buku apik yang ditulis bersama oleh Goodstein, Nolan, dan Pfeiffer yang berjudul Applied Strategic Planning: A Comprehensive Guide.  Di sana disebutkan beberapa alasan kepentingan merumuskan pernyataan visi yang jelas, visi yang clear – bold – strong.  Berikut diantaranya.

Selain digunakan untuk memberikan pandangan yang sama bagi seluruh anggota organisasi–seperti telah disebutkan sebelumnya, visi juga dimanfaatkan sebagai pengikat rasa untuk bekerja dalam tim (teamwork). Visi merupakan cerminan keinginan bersama untuk mengawasi takdir organisasi yang bersangkutan.  Visi menyiratkan kebutuhan untuk melanggengkan bisnis yang dijalankan oleh organisasi tersebut.

Pertanyaannya sekarang adalah: kalau benar visi merupakan bagian yang paling penting dalam penyusunan strategi bisnis, bagaimana cara memformulasikannya? Siapa yang seharusnya memformulasikan visi sebuah organisasi?  Apakah ada faktor-faktor tertentu yang harus diperhatikan?  Apa kunci sukses pencapaian visi yang telah disusun?  Dan yang terakhir, apakah ukuran kesuksesan visi dan bagaimana cara mengukurnya?

Terdapat beberapa faktor penting yang harus diperhatikan sehubungan dengan formulasi visi.  Pertama, para perumus visi–yang nota bene adalah tim manajemen puncak organisasi yang bersangkutan–perlu melakukan identifikasi terhadap 2 (dua) hal, yaitu: (1) tingkat kapitalisasi pasar yang ada saat ini; dan (2) ukuran pasar dan kinerja pasar. Poin yang terakhir berguna untuk memprediksikan posisi organisasi agar tetap kompetitif di pasar.

Kedua, perlu juga dilakukan audit internal tentang kekuatan yang dimiliki. Hal ini berguna untuk menunjang pencapaian kemenangan di masa depan. Kegagalan pencapaian visi tertentu oleh organisasi seringkali dikaitkan dengan kegagalan para pimpinan organisasi tersebut dalam mengusung visi yang telah dirumuskan dan menanamkannya ke pelosok organisasi.

Sampai di sini tampaknya visi adalah sesuatu yang sangat teoritis dan hanya tertuang di atas kertas. Lalu pertanyaan yang biasa muncul dari para perumus visi adalah berapa lama visi itu dapat bertahan?

Ambil contoh visi dari Ritz-Carlton, suatu jaringan hotel ternama di dunia, telah ada sejak hampir 50 tahun lalu dan masih berlaku hingga saat ini. Namun demikian, dalam era globalisasi dan bisnis maya saat ini organisasi sebaiknya melakukan adjustment terhadap visinya secara berkala sesuai dengan jenis industri yang dimasukinya.

Visi yang diusung oleh organisasi saat ini memiliki time horizon yang semakin sempit dibanding para pendahulunya. Ditambahkannya juga–dalam buku tersebut di atas–bahwa organisasi-organisasi besar yang dapat bertahan dari hantaman berbagai krisis karena mereka mempunyai core value yang kuat yang tercantum dalam visi yang kuat pula.

Core value adalah nilai dasar yang sangat diyakini oleh seluruh anggota organisasi. Dengan berpijak pada core value, mereka yakin bahwa impian mereka akan tercapai.  Perumusan visi harus menyertakan emosi sehingga seluruh organisasi terobsesi dengan visi organisasi.

Obsesi, emosi, dan semangat yang dimiliki oleh pucuk pimpinan diharapakan dapat menular kepada semua jajaran organisasi sehingga visi akan bertahan walaupun adanya pergantian pucuk pimpinan.

Supaya visi menjadi darah dan jiwa bagi semua orang dalam organisasi maka hal yang paling penting harus dicermati adalah visi harus disepakati oleh semua orang dalam organisasi. Visi harus disosialisasikan, harus dikomunikasikan, dan disebarkan dengan cara-cara yang mudah. Dapat melalui pertemuan formal, misal rapat bulanan, atau pertemuan non-formal, misal acara makan siang bersama.

Visi harus dilaksanakan dan pelaksanaannya dilakukan oleh segenap komponen organisasi. Tentu saja di sini dibutuhkan komitmen yang kuat terutama dari sang pemimpin organisasi. Sebuah visi dikatakan sukses apabila visi tersebut dapat direalisasikan dan seluruh anggota organisasi menikmatinya.

Namun patut diingat bahwa visi organisasi yang sukses direalisasikan harus senantiasa dimutakhirkan, harus menjadi moving target, sehingga kesuksesan saat ini akan memicu tercapainya sukses yang lain. Tabik!

Artikel ini pernah dimuat di majalah Eksekutif, April 2006, hal 56-57.

Diah Tuhfat blogDiah Tuhfat Yoshida, Konsultan Manajemen Strategis – PPM Consulting (2003-2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s