Peran Konsumen(pun) Bergeser

Pada era 90’an, bila ditanya siapa partner usaha perusahaan, anda pasti akan menjawab lembaga pembiayaan. Yah pandangan itu tidak salah, mengingat di masa-masa tersebut pendanaan memang telah menjadi problem utama di hampir semua perusahaan.

Fenomena itu pulalah yang kemudian membawa peningkatan aktvitas di pasar modal maupun pasar uang. Di sisi lain, konsumen masih menjadi obyek keputusan perusahaan. Artinya apa yang dihasilkan perusahaan itu pulalah yang ditawarkan kepada konsumen. Dengan demikian aktivitas pengembangan produk kala itu masih terkesan ‘lambat’.

Kini, persaingan sudah semakin sengit. Terlebih dengan pemberlakuan perjanjian perdagangan bebas, masing-masing pesaing berupaya mengungguli pemain lainnya dalam memenangkan hati konsumen.

Bila diperhatikan lebih lanjut, maka sebenarnya hanya ada dua teknik ‘jitu’ dalam mempertahankan eksistensi dewasa ini; meniru atau inovasi pertama. Cukup banyak produsen yang berhasil pasca meniru produk besutan sang pemimpin pasar. Tak jarang bahkan produk-produk itu yang berhasil menguasai segmen tertentu. Umumnya taktik ini memanfaatkan keunggulan biaya rendah yang dimiliki perusahaan.

Berbeda dengan taktik tersebut, bagi produsen yang memilih untuk menerapkan inovasi pertama di bidangnya, kekuatan eksplorasi ide bukan satu-satunya hal yang menjadi kunci sukses mereka. Kecukupan dana serta kemampuan membaca pasar pun kini memegang peran yang paling vital.

Selama manajemen mampu meyakinkan bahwa ide inovasi tersebut akan mampu memenangkan persaingan maka akan terdapat begitu banyak investor yang siap mengucurkan dana.

Satu titik kesulitannya adalah pada proses menemukan ide inovasi itu sendiri. Bisa jadi perusahaan mengklaim bahwa ini adalah ide originalnya, meski sudah ada produk terdahulu yang mempunyai kemiripan cukup tinggi.

Terlebih era informasi berbasis internet dewasa ini telah memungkinkan terjadinya transfer data secara online. Belum lagi maraknya bermunculan pasar ‘gelap’ bagi informasi itu sendiri. Bisa jadi ide yang tadinya original sudah tidak jadi ori lagi (karena sudah ada yang mendahuluinya).

Salah satu metode yang dapat digunakan adalah menjadikan pengalaman konsumen sebagai pertimbangan utama dalam fase pengembangan produk perusahaan. Meski terkesan sangat ideal, pendekatan ini cukup kompleks.

Betapa tidak, manajemen harus terus mendekatkan diri dengan konsumennya terlebih saat konsumsi mulai dilakukan. Jadi yang dipelajari adalah fase hingga keputusan membeli itu muncul, dilanjutkan dengan ketika yang bersangkutan mengkonsumsi produk dan diakhiri dengan kesan yang ‘tertoreh’ setelah konsumsi dilakukan.

Apakah ini berarti bahwa perusahaan harus hidup dengan konsumennya?. Jawabannya tentu ‘iya’. Bahkan bila ingin terus menjadi pemimpin pasar, maka selain hidup dengan konsumennya, perusahaan juga harus berdampingan dengan calon konsumen dan pesaing.

Oleh karenanya sebagian besar literature manajemen modern menegaskan adanya pergeseran peran konsumen. Kini konsumen telah menjadi partner strategis yang dapat memperpanjang umur perusahaan.

Program pembentukan dan pengembangan komunitas pelanggan dinilai sebagai salah satu langkah konkret dalam memposisikan konsumen sebagai partner perusahaan. Lihat saja bagaimana sebuah produsen motor di tanah air secara aktif membina komunitas ‘bikers’ motornya.

Tak hanya memberikan pelatihan yang meningkatkan kemampuan konsumen dalam menggunakan produknya atau dalam hal pemeliharaan, perusahaan juga memperoleh berbagai manfaat. Satu diantaranya adalah kritik dan saran membangun yang diberikan oleh anggota komunitas.

Anda mungkin bertanya bagaimana mungkin konsumen yang nyata-nyata memberikan kritik atas produk tetap loyal pada merek tersebut? Sekilas mungkin akan tampak demikian, namun coba pahami bahwa ajang komunitas tersebut secara tidak langsung memainkan efek psikologis dari peserta. Tak jarang bahkan mereka merasa ikut memiliki perusahaan tersebut, sehingga kritikan ditujukan karena ‘sayang’ dengan perusahaan.

Makin erat hubungan terjadi, maka makin besar peluang perusahaan untuk terus mengembangkan sayapnya di industri tersebut. Dengan demikian, kunci memenangkan pasar abad ini ada pada sejauh mana anda berhasil menjadikan konsumen sebagai partner perusahaan.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s