Perkembangan Indikator Makro

Pada saat mengajar ekonomi makro, khususnya pada sesi pengukuran output ekonomi makro atau GDP (gross domestic product), saya terkadang menyampaikan, dengan bercanda, tapi serius tentunya, bahwa mereka, termasuk mahasiswa kami di program MM, yang hobinya menggunakan produk impor padahal kita mampu memproduksi sendiri menyandang identitas sebagai pecundang pembangunan.

Mengapa demikian? Ingat saja rumus sederhana dari penghitungan GDP (tepatnya GDE, gross domestic expenditure) yaitu C+G+I+(X-M), dengan C konsumsi, G belanja pemerintah, I investasi, dan (X-M) ekspor neto yang terdiri dari X ekspor dan M impor.

Rumus tersebut jelas menyatakan, semakin banyak M maka kinerja ekonomi menjadi merosot. Jadi bagi mereka yang memiliki hobi memiliki dan mengkoleksi mobil dengan embel-embel CBU (completely built up), yang sukanya memborong barang impor dan kalau bukan impor tidak mau, adalah para pecundang.

Ekspor impor merupakan bagian dari komponen neraca pembayaran atau balance of payment. Melalui neraca pembayaran kita bisa mengetahui berapa besar uang masuk ke Indonesia, berapa besar uang keluar Indonesia, dan apa komponen keluar masuknya uang tersebut. Rangkuman dari data keluar masuknya uang tersebut merupakan posisi neraca pembayaran, yang dapat berada pada posisi defisit, netral, atau surplus.

Struktur baru neraca pembayaran mengikuti model IMF dengan membaginya menjadi tiga kelompok besar: transaksi berjalan, transaksi finansial, dan transaksi modal. Dalam neraca lancar, Indonesia memiliki kinerja yang baik dalam hal neraca perdagangan (ekspor barang dikurangi impor barang) dengan selalu pada posisi surplus. Tetapi transaksi berjalan jasa (ekspor jasa dikurangi impor jasa) selalu pada posisi defisit.

Kekecualian terjadi pada tahun 1999, yaitu dengan neto ekspor jasa positif. Tetapi hal itu tidak dapat berulang, dan sebaiknya tidak berulang, karena neto ekspor jasa positif disebabkan oleh klaim asuransi akibat kerusuhan yang tinggi.

Kalau sebatas transaksi lancar, yang merupakan gabungan antara neraca perdagangan, transaksi jasa, pendapatan bersih, dan transfer, neraca pembayaran Indonesia berada pada posisi surplus. Namun berbeda dengan transaksi modal dan transaksi finansial. Kedua transaksi ini menunjukkan angka defisit selama 5 tahun terakhir.

Investasi langsung atau FDI (foreign direct investment) cenderung negatif. Ini berarti, divestasi perusahaan asing telah terjadi. Tahun 2004 menunjukkan mulai ada perbaikan dengan terjadinya arus balik investasi sehingga FDI mulai positif. Investasi portofolio cenderung surplus sejak tahun 2002.

Transaksi finansial lainnya (termasuk penerimaan dan pembayaran pinjaman pemerintah) selalu negatif sejak tahun 2000. Ini mengindikasikan, lebih banyak uang yang keluar dari laci pemerintah dibandingkan dengan uang yang masuk ke laci pemerintah.

Gabungan transaksi berjalan, transaksi modal, dan transaksi finansial masih menunjukkan posisi surplus dalam 5 tahun terakhir. Secara teori, posisi surplus neraca pembayaran tersebut seharusnya mampu memperbaiki beberapa indikator keuangan, terutama nilai tukar dan inflasi.

Dalam posisi surplus neraca pembayaran, terjadi peningkatan penawaran mata uang asing di Indonesia atau peningkatan permintaan Rupiah untuk menukar valas. Pada saat Bank Indonesia tidak menambah peredaran Rupiah, maka interaksi antara permintaan Rupiah yang meningkat dengan penawaran Rupiah yang konstan menyebabkan nilai atau harga Rupiah meningkat (atau valas melemah).

Sisi lain dari penguatan Rupiah adalah terjadi penurunan inflasi di Indonesia. Dengan menguatnya Rupiah, harga bahan baku impor menjadi turun dan, sebagai akibatnya, terjadi penurunan biaya produksi. Kalau itu terjadi, apalagi kalau bukan terjadi deflasi atau kalaupun terjadi inflasi, tingkat inflasinya kecil.

Penguatan Rupiah dan rendahnya inflasi sebenarnya sudah terjadi pada kurun waktu 2000 sampai 2004. Saya mencatat paling tidak ada tiga kinerja makro yang positif dalam kurun tersebut: nilai tukar yang cenderung menguat dan stabil, inflasi yang rendah, dan stabilitas kondisi secara umum. Kondisi tersebut merupakan modal penting untuk membangkitkan ekonomi melalui peningkatan investasi.

Kembali ke rumus GDE di atas, investasi meningkatkan GDE secara langsung maupun melalui efek penggandaan (multiplier effect). Secara langsung karena investasi merupakan salah satu komponen GDE. Melalui efek penggandaan karena dengan terjadinya investasi maka belanja investasi akan terus bergulir.

Penjual barang investasi membelanjakan uang hasil jualan untuk keperluan perusahaan, katakanlah membeli bahan baku. Penjual bahan baku menggunakan uang hasil jualannya untuk membeli keperluan perusahaan. Dan begitu seterusnya. Oleh karena itu, saya menyebut kurun waktu tahun 2000 sampai 2004 sebagai periode pemulihan awal.

Kondisi makro yang belum berhasil ditangani dengan baik pada kurun pemulihan awal tersebut adalah pengangguran dan korupsi. Kedua indikator tersebut saling berinteraksi. Pengangguran bisa turun bila terjadi investasi sehingga menimbulkan penyerapan tenaga kerja. Investasi bisa berjalan dengan baik bila birokrasi menjadi baik dan korupsi dihilangkan, atau paling tidak diminimalisasi.

Semua orang berharap kurun waktu tahun 2005 sampai 2009 merupakan periode pemulihan lanjutan. Dengan menuntaskan pekerjaan pemberantasan korupsi, investasi akan bergulir. Akibatnya, GDP dan GDE meningkat, pengangguran turun, ekspor neto meningkat, surplus pembayaran meningkat, Rupiah menguat, dan inflasi menurun. Kalau hal tersebut terjadi, nyaman sekali hidup ini! Itulah skenario yanng diharapkan.

Sejauh mana optimisme masyarakat terhadap hal tersebut? Ada indikasi yang mendukung ke arah tersebut. Upaya pemberantasan korupsi, sekalipun lamban, paling tidak menunjukkan upaya yang gigih. Penggantiaan susunan kabinet, khususnya tim ekonomi, langsung mendapat tanggapan mendua: positif dan ragu-ragu.

Positif karena Menko Perekonomian dianggap cakap, terbukti pada saat beliau menjadi Menteri Keuangan. Ragu-ragu karena tim ekonomi didominasi oleh pada monetaris tetapi kekurangan anggota tim yang berpihak pada sektor riil.

Secara umum, analis berpendapat bahwa kondisi ke depan biasa-biasa saja. Distribusi optimisme para ahli adalah: 10% optimis, 70% normal seperti saat ini, dan 20% pesimis. Distribusi ini menunjukkan, kita musti hati-hati dengan kondisi tahun 2006. Kebijakan yang tidak mampu mendorong investasi bisa membuat skenario keberhasilan di atas berantakan.

Saat ini perputaran ekonomi kita bergantung pada konsumsi, atau komponen C dalam persamaam GDE di atas. Konsumsi yang mencapai rata-rata 68% dari total GDE sudah terlalu tinggi untuk ukuran kondisi ekonomi makro yang normal. Sudah saatnya komponen I, investasi, dan (X-M), ekspor neto, meningkat supaya komposisi GDE menjadi baik.

Sebagai sebuah bank, upaya meningkatkan I bisa dilakukan dengan meningkatkan kredit investasi dan modal kerja, bukan kredit konsumsi. Sebagai individu, kita bisa meningkatkan (X-M) dengan mengurangi belanja barang impor, dengan tidak lagi menjadi pecundang pembangunan.

*Tulisan ini dimuat di majalah Info BCA No.150 Tahun 2005.

Bramantyo DjohanputroBramantyo Djohanputro, Ph.D.Staf Profesional PPM Manajemen, Konsultan Keuangan, Ekonomi dan Bisnis
BRM@ppm-manajemen.ac.id

2 thoughts on “Perkembangan Indikator Makro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s