Hindari Gagal Usaha…Kenali Kemungkinan Sebabnya

Gagal bagi seorang pengusaha baru adalah hal yang paling ditakuti, karena biasanya yang terbayang adalah dampak finansial maupun psikologis. Namun, dari obrolan ringan dengan beberapa pengusaha sukses, mereka tampaknya sudah terbiasa dengan kata gagal itu.

Bahkan salah seorang dari mereka pernah berkata, kalau membuka usaha 10 kali, 9 kali gagal, hanya satu yang sukses itu sudah luar biasa. Karena biasanya yang satu sukses itu akan menutupi kegagalan yang sembilan itu.

Hal ini memang diamini oleh hasil penelitian.  Dikatakan bahwa 24 persen usaha baru akan gagal dalam 2 tahun, 51 persen akan tutup setelah 4 tahun, dan 63 persen mengalami hal yang sama setelah 6 tahun.

Jadi, bagi seorang pengusaha sejati, seharusnya gagal adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus dinikmati. Makanya, diantara mereka ada yang berpendapat, “Ketakutan terhadap kegagalan kadangkala tidak terpikirkan karena begitu asyiknya mendirikan usaha baru.” Bagi seorang pengusaha sukses, kegagalan adalah bagian dari pengumpulan point untuk menuju tangga sukses, artinya anggaplah itu bagian dari proses.

Kalau sudah begitu, boleh dikatakan gagal bagi pengusaha itu hampir pasti akan pernah dialami. Sekarang tinggal bagaimana menyiapkan diri untuk itu, bagaimana memperhitungkan risiko yang maksimal bisa dipikul, bagaimana supaya masih bisa belajar dari kegagalan, dan bagaimana supaya bisa bangkit lagi. Untuk itu seorang pengusaha perlu mengenali kesalahan-kesalahan apa saja yang biasanya menjadi awal kegagalan dan bagaimana menghindarinya.

Untuk itu ada baiknya kalau mulai mengenali kesalahan yang biasanya mengawali terjadinya gagal usaha, diantaranya adalah:

1.    Kurang memiliki kemampuan manajerial

Banyak pemula yang menganggap bahwa bisnis sama dengan transaksi dagang sederhana. Akibatnya yang terpikir hanyalah urusan laba rugi jangka pendek dan transaksi jual dan beli semata. Padahal, untuk mendukung transaksi itu diperlukan rencana, pembagian pekerjaan, pengaturan sumber daya, dan pengendalian pekerjaan.

Ketidakmampuan memimpin seluruh kegiatan usaha secara keseluruhan dan terintegrasi akan menyebabkan sulitnya koordinasi, dan akhirnya dapat mengakibatkan tidak tercapainya sasaran usaha.

2.    Kurang pengalaman

Memulai usaha kadang hanya sekadar ikut-ikutan karena melihat orang lain sukses. Memang ada yang berprinsip “just do it,” kalau tidak sekarang kapan mulainya. Itu juga betul, namun ini sangat berisiko.

Padahal menjadi berpengalaman tidak harus menjalankan sendiri, bisa juga dengan belajar dari kegagalan atau kesuksesan orang lain. Selain itu sebenarnya situasi industri seperti persaingan, konsumen, dan pemasok, bisa dikenali lebih awal kalau seseorang berpengalaman.

3.    Pengendalian keuangan yang buruk

Salah satu contoh buruknya pengendalian keuangan adalah masih tercampurnya keuangan pribadi dan perusahaan. Ini yang paling sering menjadi biang kehancuran karena tanpa sadar perusahaan akan terus terisap oleh kepentingan pribadi. Akibatnya keuntungan, kalau ada, tidak banyak yang dipakai untuk pengembangan usaha.

4.    Tidak memiliki rencana jangka panjang

Sering kali usaha terfokus pada keinginan untuk meraih untung sebanyak-banyaknya dalam jangka pendek. Padahal lingkungan bisnis berubah begitu cepat. Akibatnya pengusaha yang tidak pernah mengantisipasi kebutuhan jangka panjang, akan selalu tertinggal dan kalah dalam persaingan.

5.    Pertumbuhan yang tidak terkendali

Dalam banyak kejadian kita sering dikagetkan dengan perngusaha kecil yang tumbuh sangat cepat tapi tiba-tiba juga mati dengan sangat cepat. Misalnya ada pengusaha warteg yang sangat laris kemudian memutuskan membangun restoran.

Dengan mengganti warteg menjadi restoran, tanpa disadari orientasi bisnis dan target pasar berubah. Tanpa melakukan penyesuaian strategi operasional dan layanan, maka yang terjadi konsumen warteg tidak mau masuk lagi, sementara konsumen restoran merasa tidak terlayani dengan baik.

6.    Lokasi yang tidak tepat

Untuk beberapa jenis usaha, seperti properti, restoran, dan toko, lokasi menjadi sangat menentukan. Ketepatan memilih lokasi dapat dijadikan keunggulan bersaing. Membuka restoran di jalur pulang dari kantor misalnya lebih menguntungkan daripada di jalur berangkat kantor.

7.    Pengendalian sediaan yang buruk

Gudang adalah tempat penyimpanan yang bisa menjadi sama dengan brangkas uang yang bernilai tinggi namun bisa juga menjadi kuburan uang yang tidak bernilai lagi. Permintaan yang tinggi sesaat, menggoda pengusaha untuk melipatgandakan sediaan, padahal belum tentu permintaannya akan terus naik. Disini, terjadinya ketidaktepatan prediksi bisa menyebabkan barang yang dibutuhkan tidak tersedia sementara yang tidak diperlukan menumpuk berlebihan.

8.    Penetapan harga yang tidak tepat

Kesalahan menetapkan harga adalah faktor yang bisa secara cepat mematikan usaha. Dalam penetapan harga terdapat dua hal perlu diperhatikan betul, struktur biaya dan perkiraan harga pesaing. Kesalahan dalam menghitung struktur biaya akan berakibat kerugian sementara ketidakmampuan mendeteksi harga pesaing akan menyebabkan kehilangan peluang bisnis dan laba yang lebih besar.

9.    Gagal dalam masa transisi

Bisnis adalah dunia yang sangat dinamis. Pergerakan usaha karena persaingan dan tuntutan konsumen begitu tinggi dan makin bervariasi. Maka, perubahan adalah keharusan. Transisi dari satu tahap ke tahap lainnya, bila gagal dikelola dengan baik akan langsung berakibat fatal.

Perusahaan yang tadinya melayani pembeli standar kemudian memutuskan untuk melayani pesanan khusus adalah salah satu contoh perubahan. Mesin yang tadinya lebih seragam outputnya berubah menjadi lebih bervariasi. Demikian pula dengan kompetensi SDM-nya beserta sistem operasionalnya pun harus mengalami transisi.

Dengan mengenali kemungkinan penyebab terjadinya kegagalan usaha, seharusnya pengusaha bisa lebih awas dan berusaha menghindari penyebabnya itu. Kuncinya adalah pertama belajar, kedua belajar, dan ketiga belajar.

Ada pameo keliru yang sering dikemukakan orang bahwa bisnis tidak bisa dipelajari, langsung praktek saja. Karena ternyata banyak hal yang harus terus dipelajari. Memang kegagalan adalah bagian dari belajar, namun belajar dari kegagalan orang lain adalah jauh lebih murah biayanya. Selain itu berbisnis dengan cinta akan menyebabkan orang lebih tekun, sungguh-sungguh, ulet dan pantang menyerah.

*Tulisan ini dimuat di majalah Pelangi, Desember 2005.

Andi Ilham SaidIr. Andi Ilham Said, Ph.D. Direktur Pendidikan PPM Manajemen
ais@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s