Bisnis Butuh Kristalisasi Pancasila (Bagian 1)

Bisnis butuh kristalisasi Pancasila - Bagian 1 (AHP) 29052013Setiap tanggal 1 Juni, segenap elemen bangsa Indonesia memperingati hari lahirnya Pancasila, sebuah dasar dan pandangan hidup yang telah diyakini kesahihannya. Namun, pada saat yang sama, pertanyaan “sejauhmana manusia Indonesia telah berhasil mengkritalisasikan nilai-nilai pandangan hidup ini,” terkesan masih sulit dijawab.

Tak hanya itu, degradasi Pancasila sebagai dasar bernegara dan pedoman hidup bangsa pun kian tahun terus terjadi. Korupsi dan pertandingan politik antarpartai masih tetap mewarnai sejarah bangsa. Belum lagi isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) di sejumlah wilayah yang masih sulit teratasi.

Sektor bisnis pun tak kalah bedanya. Persaingan yang sengit terkadang berujung pada keluarnya pemain lokal dari pasar. Alhasil, asing kini kian merajai perekonomian nasional. Dominasi asing pada industri manufaktur, jasa, hingga perbankan kian menguat. Penguatan ekonomi terjadi sesaat ketika asing masuk memanfaatkan momen investasi dalam negeri. Namun, ketika arus modal keluar cukup tinggi, di situ pulalah kinerja ekonomi nasional menurun.

Jika tidak segera ditangani, niscaya perekonomian nasional akan semakin bergantung pada asing. Padahal, Indonesia terus dipacu oleh implementasi ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015.

Dalam chaos-nya situasi tersebut, satu simpulan awal yang ditemukan adalah “Bisnis dalam negeri mutlak membutuhkan kehadiran Pancasila”. Kini saatnya bagi pemain domestik untuk menempatkan Pancasila benar-benar sebagai pandangan, sekaligus pedoman hidup pribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Kristalisasi nilai-nilai luhur Pancasila bukanlah hal yang sulit. Dengan pemahaman filosofis di masing-masing silanya, maka pebisnis lokal akan mempunyai daya saing untuk bermain di pasar global.

Pertama, sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebagai dasar keempat sila yang lain, sila pertama menuntun para pengambil keputusan untuk memahami bahwa setiap kebijakan dan strategi bisnis yang diambil mutlak harus dapat dipertanggungjawabkan dunia akhirat.

Mengingat implikasi humanis yang muncul di setiap keputusan, maka paradigma bahwa bisnis apa pun berujung pada upaya membantu manusia dalam meraih kualitas kehidupan yang jauh lebih baik merupakan dasar pola
pikir yang harus senantiasa dijunjung tinggi. Melalui cara pandang ini, bisnis besutan pemain lokal akan dikenal mengemban misi mulia, tak sekadar profit jangka pendek.

Sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Sila ini mengarahkan bisnis lokal untuk terus berinovasi menciptakan produk (baca: barang dan jasa) yang “memanusiakan manusia”, artinya mampu menempatkan konsumen pada posisi asasinya.

Hak merdeka pada dimensi kekinian tak lagi semata-mata dipahami sebagai terlepas dari jeratan kolonialisme, melainkan jeratan kinerja bisnis yang tidak bertanggung jawab. Karenanya, tuntutan kepada manajemen perusahaan untuk terus mengupayakan peningkatan kesejahteraan stakeholder merupakan pekerjaan rumah yang takkan kunjung usai.

Melalui kristalisasi sila kedua ini, pemain lokal dapat dikenal menjalankan praktik bisnis yang humanis. Alhasil, dengan semakin tingginya kesadaran publik global akan bisnis yang memanusiakan manusia, maka pemain lokal berpotensi menjadi pemain utama dunia.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia. Meski terkesan sederhana, sila ini mengandung banyak arti bagi bisnis di Tanah Air. “Sejauh mana keberadaan perusahaan mampu meningkatkan kualitas persatuan di kalangan anak bangsa Indonesia?”

Dalam pemahaman yang lebih mendasar, persatuan tak hanya dilihat ketika masing-masing pihak terlibat dalam kepentingan ekonomi yang sama, namun lebih pada kesadaran bahwa setiap elemen bertanggung jawab dalam mewujudkan daya saing bangsa.

Langkah manajemen dalam meningkatkan keahlian masyarakat sekitar melalui transfer knowledge ketika yang bersangkutan terlibat dalam operasional perusahaan merupakan hal positif yang wajib dikembangkan. Dengan kristalisasi sila ini, niscaya pemain domestik akan dikenal sebagai pemersatu bangsa.

(Bersambung)

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 28 Mei 2013. h. 18

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s