Intuisi Seorang Entrepreneur

Intuisi atau orang sering menyebutnya firasat, gut instinc, inner voice, hunch atau natural feeling dimiliki oleh setiap manusia dengan tingkat kepekaan yang berbeda.

Hasil penelitian di industri pangan di Indonesia, dengan responden 107 orang yang sebagian besar pemasar dari 35 perusahaan pangan menyatakan bahwa intuisi pembuat keputusan mempengaruhi proses percepatan pengembangan produk yang pada akhirnya mempengaruhi secara langsung kinerja produk. Kinerja produk diukur dari semakin meningkatnya volume penjualan dan keuntungan perusahaan (Kurnia, 2008).

Hasil kajian literatur dalam upaya mendalami intuisi sebagai implicit knowledge, menghasilkan pengetahuan bahwa intuisi terbentuk dari pembelajaran dan pengalaman berulang yang menghasilkan pola dan keyakinan petunjuk naluriah untuk membuat sebuah keputusan (tindakan)(Simon, H.A, 1987; Peirce, P., 2000; Hayashi, A.M., 2001; Klein, G., 2002; Gladwell, M., 2006).

Proses terus berulang sehingga tingkat keyakinan semakin tinggi dan semakin cepat membuat keputusan dengan keakuratan yang tidak diragukan lagi walau beresiko sekalipun. Proses ini semakin terasah dengan adanya tekanan lingkungan yang begitu cepat dan menekan.

Intuisi tinggi dan jitu banyak dimiliki pemilik perusahaan atau seorang entrepreneur (wirausaha). Menarik untuk dicermati, seorang entrepreneur, yang membangun bisnisnya sering membuat keputusan yang sulit dicerna oleh pegawainya, karena memang landasan keputusan bukan didukung oleh bukti empiris namun oleh pengalaman dan proses pembelajaran.

Sayangnya, intuisi tidak dapat di-tranfer, melekat kepada orang tsb. Berbeda dengan explicit knowledge (contoh, pengetahuan akan manajemen pemasaran) yang bisa diajarkan kepada yang memerlukannya.

Indonesia masih sedikit memiliki entrepreneur. Awal tahun 2012, jumlahnya masih sekitar 1.56%, dan diupayakan menjadi 2.5% di tahun 2013. Ada upaya untuk meningkatkannya dengan memberikan pengetahuan seputar entrepreneurship di universitas. Namun, belajar dari pengalaman entrepreneur terkenal Indonesia di berbagai media, intuisi sudah terasah sejak kecil.

Ada yang ditempa oleh lingkungan keluarga yang memang sudah gemar berdagang, ada juga yang mengambil risiko dengan tanpa pengalaman dan latar belakang yang mendukung, namun belajar dari pengalaman kehidupan, dengan tekun dan upaya keras menjalankan perusahaan yang didirikannya.

Menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) tahun 2015, Indonesia perlu berbenah diri, dengan menumbuhkan jiwa dan semangat entrepreneur yang jumlahnya masih sedikit dibandingkan negara Asean lainnya.

Salah satu upaya yang patut dikerjakan saat ini, perusahaan perlu memberikan perhatian kepada sumberdaya manusia yang memiliki perilaku seperti entrepreneur (disebut intrapreneur).

Hal ini bisa dilakukan karena ketajaman intuisi untuk mengambil sebuah keputusan yang membutuhkan keberanian tinggi dalam mengambil risiko bukan hanya dimiliki oleh seorang wirausaha namun juga dapat dimiliki oleh seorang karyawan yang memiliki perilaku seperti wirausaha.

Sebagai intrapreneur, seorang karyawan tidak menghindari risiko namun mendarmabaktikan seluruh waktunya untuk terus mengembangkan perusahaannya seperti yang diutarakan oleh Bolton & Thompson (2000) bahwa seorang intrapreneur memiliki bakat wirausaha.

Ia memiliki motivasi untuk menggunakan kemampuan dan inisiatif untuk melakukan tugasnya seakan perusahaan tersebut adalah miliknya sendiri, jadi bukan sekedar orang gajian tapi mereka tidak ingin memiliki bisnis sendiri.

Jadi, seorang intrapreneur juga mampu mengasah ketajaman intuisinya dengan selalu terbuka terhadap permasalahan untuk membuat keputusan, tidak menghindarinya, namun terus mau mengasah kreativitas otak kanan dengan menciptakan dan mengembangkan produk-produk yang sesuai dengan bukan hanya terbatas pada kebutuhan dan keinginan pasar sasaran namun yang tidak diduga oleh pasar (unexpected).

Dari pengalaman yang didapatnya untuk mengembangkan perusahaan dan kemauan untuk belajar dari apa yang dialaminya, seorang intrapreneur menjadi lebih yakin untuk membuat keputusan yang beresiko sekalipun.

Untuk mempertahankan intrapreneur, perusahaan dapat memberikan tantangan pekerjaan yang lebih besar kepada karyawannya yang berjiwa wirausaha tersebut, misalnya dengan mengelola unit usaha lain yang dimiliki perusahaan.

Hal ini perlu diberikan, mengingat seorang intrapreneur memiliki ambisi tinggi dalam mengembangkan bisnisnya, enerjik, percaya diri, kreatif dan inovatif, senang dan pandai bergaul, berpandangan ke depan, bersifat fleksibel, berani terhadap risiko, senang mandiri dan bebas, banyak inisiatif dan bertanggung jawab, optimistik, memandang kegagalan sebagai pengalaman berharga, berorientasi pada keuntungan dan gemar berkompetisi (Chandra, 2001).

Dengan semakin banyaknya jumlah entrepreneur dan intrapreneur, diharapkan Indonesia semakin maju dalam perekonomian dan siap berkompetisi MEA mendatang.

*Tulisan ini dimuat di harian Kontan, 29 Mei 2013. H. 15

Pepey RiawatiDr. Pepey Riawati Kurnia. Staf core faculty PPM School of Management
prk@ppm-manajemen.ac.id, kurniapepey@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s