Integrity

“It is Attitude, not Aptitude that determines your Altitude” – Zig Ziglar

We often hear the word Integrity, especially in our working environment. Although there are many definitions of integrity, I would like to suggest we use the word to represent a situation where a person acts according to what she/he says.  “Walk the Talk” is a more popular expression of integrity.  In short, a person of integrity always keeps her/his promise.

In a broad sense, integrity is a very important aspect related to ethical conduct.  Integrity is one of the foundations that makes a person behave ethically. Transparency, one of the prime aspects in exercising Good Corporate Governance, goes hand-in-hand with integrity.  If you act with integrity, you are not afraid to disclose any of your decisions or actvities at work.
Continue reading

Sinergi Teori dan Praktik

Baru-baru ini sebuah majalah manajemen ternama di dunia melansir kritikannya atas pendekatan pembelajaran yang masih dianut oleh sebagian sekolah bisnis. Artikel tersebut menjelaskan bahwa di sejumlah kasus, materi pengayaan manajemen tidak dapat memberikan gambaran praktik nyata. Alhasil kualitas lulusan masih jauh dari kondisi ‘siap pakai’.

Realitas tersebut juga terjadi di dalam perusahaan. Pola pengembangan dan pelatihan yang disediakan manajemen seringkali dirasakan kurang tepat sehingga target perbaikan kinerja tidak dapat tercapai. Meski telah disajikan contoh-contoh praktik di lapangan, namun hal ini belum mampu menumbuhkan dimensi pengalaman dari peserta sehingga sama dengan konteks akademik, perbaikan kinerja karyawan setelah pelatihan sering tidak tercapai.

Lebih lanjut artikel tersebut menyitir bahwa ada baiknya jika metode pelatihan yang terjadi dalam dunia bisnis dilakukan seperti apa yang selama ini dilakukan pada pendidikan kedokteran, yakni melalui pendekatan teori–praktik.
Continue reading

Mendelegasikan Kerja

Delegate-TasksManajer didefinisikan sebagai individu yang bekerja bersama dan atau melalui orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Dari definisi ini dapat dijelaskan bahwa seorang manajer tidak dapat bekerja sendiri. Untuk mencapai tujuan organisasi manajer membutuhkan kerjasama dengan bawahan. Salah satu bentuk dari kerjasama itu adalah pedelegasian tugas.

Apa itu pendelegasian?

Pendelegasian diartikan sebagai pengalihan sebagian wewenang formal manajer kepada bawahannya. Delegasi biasanya dibagi dalam beberapa aspek, yaitu: pengalokasian tugas, pelimpahan wewenang dan pemberian tanggung jawab kepada bawahan dan menerima pertanggungjawaban.

Mengapa perlu pendelegasian?

Seorang manajer tidak mungkin mengerjakan seluruh tugas yang diberikan kepadanya sekaligus. Ada beberapa tugas yang mungkin bisa diberikan kepada bawahan untuk dikerjakan. Ada beberapa alasan mengapa pendelegasian perlu dilakukan:
Continue reading

Efisiensi Saat Krisis

Mungkinkah efisiensi dilakukan saat kondisi pasar cenderung tidak stabil dan inkondusif? Meski terkesan cukup klasik, namun praktik menunjukkan bahwa penerapan efisiensi seringkali tidak mendatangkan keuntungan, malah menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Terlebih jika efisiensi dilakukan pada masa krisis. Sebut saja fenomena ekonomi dan keuangan yang terjadi di Amerika Serikat pasca krisis keuangan 2008.

Turunnya kepercayaan pasar pada sejumlah lembaga keuangan internasional serta deindustrialisasi yang terjadi telah berujung pada inefisiensi di dalam perusahaan. Alhasil langkah pengurangan jumlah karyawan serta kebijakan pengetatan anggaran modal kini telah menjadi alternative pilihan bagi perusahaan.

Meskipun terkesan optimis, namun tak semua perusahaan berhasil menerapkan pola tersebut. Beberapa perusahaan besar bahkan mengalami penurunan investment grade pasca penerapan efisiensi. Jika demikian maka ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian agar efisiensi berhasil dilakukan saat krisis.
Continue reading

Positive Externality

no photo“Dilarang Memotret!”, bunyi pengumuman di galeri yang menjual produk kreasi terbaru. Tentunya sang pemilik takut ide kreatif mereka ditiru. Jika ditiru, bagi perancang adalah kerugian mengingat mereka telah mengeluarkan biaya untuk biaya riset dan pengembangan (R & D). Bila fenomena seperti ini terjadi secara meluas akan membuat persaingan menjadi tidak sehat karena inovasi menjadi tidak lagi menarik. Inilah salah satu contoh dari positive externality, terjemahan bebasnya:  pihak luarlah yang justru mendapat keuntungan.

Positive externality dalam kajian ekonomi makro didefinisikan sebagai benefit yang dinikmati oleh pihak ketiga akibat proses transaksi. Benefit yang dinikmati oleh ‘pihak ketiga’ yang notabene tidak berkontribusi pada transaksi tersebut, akan menyebabkan terjadinya ketidakadilan pada aspek biaya dan manfaat.

Dalam jangka panjang, situasi ini akan menyebabkan pihak penggagas transaksi awal akan mengurangi produksi dan konsumsi. Dalam konteks inovasi, inovator menjadi tidak termotivasi, akibat lanjutannya masyarakat juga yang akan merugi  karena  berkurangnya kesempatan menikmati produk inovasi baru, yang mungkin lebih efisien atau lebih produktif.
Continue reading

Mempertahankan Likuiditas Jangka Pendek

Peta ekonomi domestik pasca penerapan harga bahan bakar migas (baca: BBM) yang baru dipastikan mengalami perubahan. Sebagai topik yang sangat berpotensi menciptakan efek sistemik, jauh-jauh hari sebelum harga BBM baru diumumkan, harga-harga barang kebutuhan pokok secara umum mengalami kenaikan.

Kondisi yang sama juga terjadi di sektor manufaktur. Alih-alih kenaikan biaya serta kondisi infrastruktur transportasi yang kurang memadai telah menjadi alasan yang kuat untuk menciptakan harga ‘baru’.

Kompleksitas permasalahan pun kini mulai terjadi mengingat kenaikan harga mendapat respon negatif dari pasar sehingga pada sejumlah kasus, kedua belah pihak baik produsen maupun konsumen sama-sama diminta untuk ‘berkorban’. Mirisnya lagi, fenomena ini harus dihadapi oleh kalangan pebisnis pemula. Lalu apa yang harus diperbuat kini?
Continue reading

People, Planet, Profit, dan Akuntan

Bisnis yang berkelanjutan (sustainable business) adalah organisasi yang memastikan bahwa semua aktivitas dan proses produksinya sangat mempertimbangkan dampaknya terhadap sosial dan lingkungan, dan tetap memperoleh keuntungan.

Dengan kata lain, bisnis yang berkelanjutan identik dengan 3P: ֠people, planet and profit. Nah, organisasi yang bertindak sesuai dengan sikap keberlanjutan, tidak hanya membantu menjaga kesejahteraan dan keberlanjutan people dan planet, namun juga menciptakan bisnis yang mampu bertahan (profit) dalam berbagai kondisi dan berjaya dalam jangka panjang.

Keberhasilan bisnis jangka panjang membutuhkan praktik keberlanjutan yang benar-benar merasuk dalam sel terkecil organisasi, ibarat DNA pada manusia. Banyak orang yang belum menyadari bahwa profesi akuntan memainkan peranan yang sangat penting dalam hal ini.
Continue reading