Kepatuhan yang Menciptakan Nilai

Dalam lingkungan yang dinamis seperti saat ini, keahlian manajemen dalam mengelola risiko merupakan salah satu kunci sukses perusahaan. Singkatnya siklus hidup produk, tingginya persaingan daya inovasi serta kecepatan perkembangan teknologi telah merubah pola persaingan ke arah global.

Lebih dari itu, titik tolak persaingan kini tidak didasarkan pada comparative advantage semata, namun lebih kepada competitive advantage. Siapa yang dapat memberikan ‘value’ secara lebih cepat dan inovatif, maka ia-lah yang berpeluang menguasai pasar.

Menciptakan nilai lebih kepada konsumen memang bukanlah hal yang mudah, harus memperhatikan sisi eksternal dan internal. Manajemen dituntut untuk tak hanya jeli dalam menangkap fantasi konsumen, namun juga peka terhadap kesiapan infrastruktur internal. Artinya sejauh mana internal perusahaan mampu merumuskan nilai yang akan disampaikan.

Salah satu kebijakan utama yang memberikan arahan bagi penciptaan nilai adalah penerapan corporate governance (baca: prinsip-prinsip tata kelola). Di sejumlah perusahaan konsep ini berhasil menciptakan nilai unik yang mampu menentukan positioning tersendiri di benak stakeholder. Sebut saja The Body Shop yang dalam hitungan tahun mampu menguasai pangsa pasar Asia dengan mengedepankan prinsip-prinsip pengelolaan yang bersifat transparansi dan berorientasi pada lingkungan.

Sejak digagas untuk mengatasi perbedaan kepentingan antara pemilik dengan pemegang saham, kunci inti dalam menerapkan corporate governance sebenarnya terdapat pada kepatuhan. Sejauh mana manajemen (sebagai pengelola) mematuhi aturan atau kebijakan yang telah ditetapkan sebelumnya baik secara internal maupun oleh pihak eksternal.

Persoalannya kini adalah bagaimana menumbuhkan kepatuhan secara alami dan bukan yang dipicu oleh kewajiban belaka. Karena hanya kepatuhan alami-lah yang mampu menciptakan nilai daya saing di pasar. Sedangkan kepatuhan non-alami hanya sebatas pemenuhan kriteria sesuai aturan tanpa melihat implikasi jangka menengah dan panjang dari komitmen tersebut.

Sebagai contoh, dalam sebuah penelitian terdapat fakta bahwa manajemen telah memenuhi persyaratan penerapan tata kelola perusahaan yang baik (seperti: jumlah komisaris independen yang cukup, riwayat pengalaman manajerial yang didukung dengan pendidikan di bidang-bidang tertentu serta strandar monitoring yang baku) sehingga layak memperoleh grade implementasi tertinggi.

Namun ini belum berarti bahwa penerapan tata kelola di perusahaan telah sesuai harapan. Sehingga dari realitas ini kepatuhan non–alami sebenarnya tidak akan mampu menciptakan nilai kepada stakeholder dalam jangka panjang.

Lain halnya dengan perusahaan yang secara alami menumbuh kembangkan kepatuhan. Semangat ini akan mengilhami manajemen dalam menyusun rangkaian strategi untuk memastikan terlaksananya misi perusahaan.

Pada sejumlah observasi, beberapa perusahaan telah berhasil melakukan pembenahan pada konteks penerapan corporate governance-nya. Mulai dari pesan utama hingga seberapa jauh pelaksanaan poin-poin hasil minutes of meeting.

Dari situ kita dapat menganalisa efektivitas manajemen dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang ada. Tak hanya itu, terdapat bukti nyata independensi dari seorang komisaris dalam mengevaluasi setiap rumusan kebijakan pengelola.

Dengan demikian jumlah pertemuan (baca: meeting) bukan lagi menjadi tolok ukur kepatuhan terhadap penerapan CG, melainkan efektivitas dari meeting itu sendiri dalam menyelesaikan permasalahan baik yang kini sedang dihadapi maupun yang akan terjadi di masa depan.

Di lain sisi, wacana kepatuhan perusahaan umumnya mendapat respon positif dari pasar (dalam hal ini investor). Hal ini terlihat dari frekuensi aksi beli akibat adanya opini kepatuhan dari sebuah emiten. Investor memandang bahwa perusahaan dengan tingkat kepatuhan tinggi memiliki masa depan yang menjanjikan sehingga tidak hanya menguntungkan secara finansial, kepatuhan ini sekaligus dapat menciptakan nilai positif pada lingkungan (alam maupun masyarakat sekitar).

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!

*Tulisan ini dimuat di harian Kontan, 8 Mei 2012.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s