Pentingnya Rejuvenasi Sang Pionir

Bukan hal yang mustahil bahwa di dalam bisnis, sebuah perusahaan pelopor di bidangnya pada suatu waktu dapat dengan mudah digeser oleh pendatang baru dan tak lagi dikenal pasar. Sebagian eksekutif bahkan berpandangan bahwa lebih mudah meraih zaman-zaman keemasan daripada mempertahankannya.

Argumen klasik terkait dinamika lingkungan yang semakin cepat berubah atau kegagalan generasi muda dalam mempertahankan posisi perusahaan sebagai pelopor sekaligus pemimpin pasar tampaknya kini tidak berlaku lagi.

Premis yang harus dimiliki adalah bahwa usia perusahaan bisa jadi semakin tua, namun peremajaan (baca: rejuvenasi) mutlak harus terus dilakukan. Hal ini merupakan ramuan yang manjur untuk berhadapan dengan pemain baru yang konon dipercaya membawa semangat yang baru pula.

Studi menunjukkan bahwa bisnis tidak hanya butuh semangat ‘muda’. Untuk menang dalam kompleksitas persaingan dewasa ini, bisnis membutuhkan tiga hal; pengalaman, kelincahan serta kekuatan inovasi. Inilah yang seharusnya menjadi komponen vital dari gerakan rejuvenasi. Mari kita perdalam satu per satu kekuatan tersebut.

Pertama, tak dapat dipungkiri bahwa bisnis selalu berangkat dari poin pembelajaran (baca: lesson learned) kinerja masa lalu. Tak dapat dipungkiri bahwa masa-masa di ‘atas’ maupun di ‘bawah’ telah mendatangkan kebijaksanaan tersendiri dalam pengelolaan perusahaan.

Namun amat disayangkan karena tak semua pemain lama belajar dari masa keemasan mereka. Kecenderungan yang terjadi adalah mereka hanya belajar dari masa-masa ketika di ‘bawah’, dan memandang bahwa keberhasilan merupakan produk dari sebuah keberuntungan.

Kini ketika semangat rejuvenasi yang menjadi pilihan maka mau tidak mau manajemen perusahaan harus kembali mencatat momen-momen tersebut sebagai rangkaian rumusan peremajaan di masa depan.

Dengan kejelian membaca tren perubahan pasar, niscaya catatan tersebut akan menjadi masukan berharga dalam merumuskan suatu keberanian untuk keluar dari ‘comfort zone’ dan berhadapan dengan pendatang baru.

Komponen kedua, kelincahan. Realitas di lapangan membuktikan bahwa seiring dengan pertambahan usia, sang pioneer bertumbuh pesat di masa-masa keemasannya. Organisasi menjadi lebih gemuk dengan perekrutan staf secara massive, dan umumnya terjadi di kelas staf pendukung dan bukan staf inti.

Alhasil inilah yang menciptakan penurunan daya kelincahan sang pionir. Bila tak segera diantisipasi maka bukan mustahil perusahaan akan ‘kalah’ dibanding pendatang barunya.

Satu solusinya adalah melalui perampingan. Dari sudut pandang pengelolaan sumber daya manusia mungkin ini pilihan terburuk, namun cukup vital bagi masa depan perusahaan sehingga kembali, keberanian manajemen dalam memilih alternatif ini akan mendatangkan dampak positif di masa depan.

Perampingan memang sering diidentikkan dengan kerugian di sisi pekerja. Namun bila dilakukan melalui ‘golden shake hand’, niscaya kebijakan ini akan menguntungkan kedua belah pihak.

Terakhir adalah inovasi. Ilmu manajemen hingga kini percaya bahwa bila perusahaan telah memiliki modal pengalaman dan kelincahan dalam membaca pasar, niscaya inovasi dapat dilakukan dengan mudah.

Dengan kekuatan pengalaman dan nama besar di pasar, inovasi seharusnya dapat dilakukan lebih mudah oleh sang pionir ketimbang pendatang barunya yang umumnya hanya sekedar mencontoh. Oleh karenanya pioneer harus memperkuat barisan inovasinya. Satu alternatif solusi yang ditawarkan adalah mempererat kerja sama dengan lembaga pendidikan.

Pola tersebut telah mendatangkan berjuta ide inovasi di negara-negara barat. Tak ada salahnya bila diterapkan di Indonesia bukan? Dengan pemahaman bahwa institusi pendidikan merupakan sumber ide inovasi, maka hasil-hasil riset terapan bisnis dapat menjadi acuan dunia usaha.

Satu semangat yang perlu dipupuk adalah bahwa menjadi ‘muda’ melalui inovasi adalah sebuah siklus. Karenanya investasi pada proses inovasi merupakan cikal bakal daya saing perusahaan di masa depan.

Dari paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa pada masa kini, menjadi pioneer bukan lagi kebanggaan, melainkan mendatangkan kewajiban untuk terus mempertahankan eksistensinya sehingga tetap diingat pasar sebagai pelopor di bidangnya.

Selamat berefleksi, sukses menyertai anda.

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 5 Juni 2013. h.15

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s