Bisnis Butuh Kristalisasi Pancasila (Bagian 2)

ilustrasi Bisnis butuh kristalisasi Pancasila - 2Memiliki daya saing unik pada era perdagangan bebas, kini bukanlah hal yang sederhana. Hampir setiap pemain memiliki pandangan yang sama bahwa daya saing merupakan kunci sukses penguasaan pasar skala nasional, terlebih global.

Tak hanya itu, dinamika lingkungan turut menciptakan kendala-kendala dalam penemuannya. Alhasil, waktu jualah yang menjadi penentu siapa yang menjadi penguasa pasar.

Dalam kondisi tersebut,sebagian kalangan percaya bahwa daya saing utama setiap perusahaan Indonesia dapat ditemukan pada kekuatan cara pandang dan komitrnen setiap elemen dalam menjalankan misinya. Satu di antaranya melalui proses bagaimana suatu kebijakan perusahaan ditentukan. Wacana ini muncul dari kristalisasi nilai sila keempat Pancasila, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.”

Semangat musyawarah untuk mufakat, mungkin bagi sebagian kalangan hanya bersifat retorika, mengingat mekanisme voting dan lobbying masih mewarnai praktik bisnis di Tanah Air. Namun, pernahkah Anda memahami kekuatan dari sebuah permufakatan itu sendiri?

Dalam eksplorasi manajemen berdasar nilai-nilai lokal Indonesia, terdapat sejumlah perusahaan yang senantiasa menjunjung tinggi asas musyawarah untuk mufakat dengan meminimalkan peluang penggunaan hak suara dalam perumusan kebijakan vital. Melalui permufakatan, setiap pihak diberi ruang untuk mengajukan ide, sekaligus memberi peluang bagi apresiasi penyatuan pandangan sebagai sebuah simpulan.

Hal yang menarik untuk dipelajari adalah bagaimana masing-masing pihak yang memiliki pandangan berbeda mampu menempatkan kepentingan kelompok atau bahkan pribadinya dengan mengedepankan kepentingan bersama yang jauh lebih besar.

Melalui semangat ini, kedua belah pihak akan sama-sama menemukan titik temu yang akan mengantar pada terciptanya komitmen bersama untuk melaksanakan suatu keputusan. Sikap legowo dan kebesaran hati yang
merupakan didikan leluhur akan sangat menentukan titik akhir terciptanya keputusan bersama.

Dengan demikian, masing-masing pihak akan merasa memiliki keputusan tersebut. Selanjutnya, mekanisme ini dipercaya mampu meningkatkan sense of belonging setiap elemen di perusahaannya.

Tidak hanya dalam pengambilan keputusan, daya saing yang dapat digali dari nilai-nilai Pancasila adalah keberpihakan perusahaan kepada stakeholder-nya. Ini tak lain merupakan kristalisasi nilai-nilai sila kelima Pancasila, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Cukup miris memang mencermati dinamika bisnis di Tanah Air selama beberapa tahun terakhir. Data statistik menunjukkan bahwa di sejumlah sektor termasuk perbankan, kepemilikan perusahaan kini didominasi asing. Bukankah itu berarti bahwa Indonesia hanya dijadikan pangsa pasar, sedangkan arus kapitalisasinya tetap mengalir ke luar negeri?

Pertanyaannya kini mungkin bukan lagi pada mengapa bisa terjadi, namun lebih pada apa yang harus dilakukan pemain lokal dalam menghadapi persaingan tersebut? Asing butuh role model dari pemain lokal terkait cara pandang dalam berbisnis di Indonesia. Di titik inilah sebenarnya peran dari daya saing keberpihakan perusahaan kepada stakeholdernya.

Sila kelima Pancasila tak hanya menyadarkan akan makna perusahaan berdiri, melainkan juga misi ekonomi yang harus diembannya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa perusahaan melakukan eksplorasi kekayaan Indonesia. Untuk itu sudah sepatutnyalah bila mereka mendistribusikan sebagian keuntungannya untuk daerah setempat.

Pada awalnya pembayaran retribusi dan pajak kepada pemerintah daerah setempat serta kesempatan kerja sudah dipandang cukup bagi misi tersebut. Namun, dalam perkembangannya dapat dilihat kenyataan di sejumlah daerah membuktikan bahwa terdapat kesenjangan ekonomi antara perusahaan dengan masyarakat sekitar.

Oleh karenanya, program yang kini perlu dikembangkan adalah sistem plasma ekonomi, di situ perusahaan besar menjadi mentor usaha mikro kecil menengah, misalnya, dengan menjadikan mereka sebagai salah satu pemasok produksi.

Melalui upaya ini, potensi ekonomi setempat dapat tereksplorasi secara maksimal sehingga keadilan yang kini masih sebatas asa itu dapat terwujud. Dengan demikian, semakin dalam penghayatan perusahaan akan nilai-nilai Pancasila, makin tajam pulalah daya saing yang dapat tercipta.

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 4 Juni 2013. h. 18

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s