Manajemen Modern dan Pancasila

manajemen modern dan pancasilaStudi tentang manajemen berbasis kearifan lokal tak dapat dipisahkan dari pemahaman pandangan hidup bangsa Indonesia, yaitu Pancasila.

Selain karena nilai-nilai Pancasila telah mengilhami garis hidup masyarakat Indonesia, kajian ilmiah dari setiap sila ternyata berpotensi untuk membawa bangsa ini keluar dari problematika ekonomi dan bisnis.

Artikel kali ini secara khusus membahas semangat yang ditimbulkan oleh dua sila pertama dalam Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa, dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Adapun ketiga sila lainnya akan dibahas pada artikel selanjutnya.

Meski sebagian kalangan memisahkan secara jelas implementasi keimanan dengan bisnis, realitas di lapangan, mulai praktik korupsi hingga upaya monopoli demi kepentingan individu maupun kelompok setidaknya mengingatkan kita akan semangat sila pertama Pancasila.

Kristalisasi nilai Ketuhanan yang Maha Esa diawali dengan pemahaman bahwa setiap pribadi memiliki tanggung jawab atas setiap tutur kata maupun tindak tanduknya, baik di bumi maupun di akhirat. Karena itu, ketika seseorang melakukan aktivitas ekonomi pun tak dapat berkelit dari tanggung jawab tersebut.

Semangat itulah yang hendaknya dipahami setiap perusahaan yang beroperasi di Indonesia. Pemahaman bahwa perusahaan berdiri untuk turut mewujudkan kehidupan ekonomi yang lebih baik bagi wilayah, daerah, hingga skala nasional dan internasional merupakan pengejawantahan sila pertama.

Bagi sebagian kalangan, bukanlah hal yang sulit untuk menjadikan pandangan tersebut sebagai sebuah pedoman operasionalisasi usahanya. Kesadaran bahwa perusahaan telah mengambil profit dari aktivitas eksplorasi alam bumi pertiwi yang merupakan anugerah Tuhan yang Maha Esa telah membawa manajemen kepada sebuah visi-misi bisnis yang kuat; memandang bisnis
sebagai sebuah amanah.

Dengan begitu, kini tantangannya ada pada bagaimana manajemen mampu menjalankan amanah tersebut. Nah, sila kedualah yang memberikan solusinya.

Pada sila kedua, perusahaan diajak untuk memahami dan menghargai hak asasi manusia. Oleh karenanya, orientasi aspek-aspek kemanusiaan dalam setiap keputusan bisnis mutlak menjadi indikator kesuksesan bisnis di Tanah Air. Sejauh mana produk (barang dan jasa) yang diberikan perusahaan mampu meningkatkan kualitas hidup konsumen dalam dimensi kemanusiaan sesuai pemahaman di Indonesia.

Beberapa dimensi kemanusiaan yang dikenal dari Indonesia adalah semangat gotong-royong, tolong menolong, dan memahami perbedaan sebagai sebuah sumber kekuatan. Karena itu, dalam pemahaman lebih lan;ut, kemampuan perusahaan untuk terus memperkuat dimensi kemanusiaan internal maupun eksternal merupakan hal yang terus diuji. Satu di antaranya dengan menjadikan konsumen sebagai partner perusahaan untuk bertumbuh.

Konsumen sudah tak lagi diposisikan sebagai objek strategi, melainkan salah satu pemain inti dalam bisnis. Di sisi lain, semangat “memanusiakan manusia” ini juga harus dilakukan pada sisi internal. Melalui stakeholder, manajemen kembali diingatkan untuk memandang karyawan sebagai pihak yang harus dilayani. Sama seperti konsumen, karyawan adalah rekan perusahaan bertumbuh.

Alhasil, kebijakan pengembangan kemampuan dan kapabilitas karyawan dari level mana pun mutlak dibutuhkan agar kedua belah pihak sama-sama mampu mencapai kesejahteraan yang lebih baik. Meski terkesan cukup ideal, sebagian kalangan meyakini bahwa kekuatan manajemen internal perusahaan merupakan sumber pencapaian kinerja perusahaan yang sangat efektif.

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa pemimpin pasar global saat ini didominasi perusahaan-perusahaan yang dikenal mampu mengembangkan, sekaligus memberikan kepuasan kerja yang tinggi pada segenap karyawannya.

Lewat berbagai kebijakannya, manajemen harus mampu memberikan ruang bagi apresiasi setiap kinerja karyawan. Mulai penghargaan akan ide dan kreativitas hingga komitmen yang telah diberikan. Alhasil, pada level tersebut, loyalitas dan komitmen karyawan yang disertai dengan rasa memiliki akan mampu memperpanjang usia operasional perusahaan pada kemudian hari.

Dari paparan tersebut dapat dilihat bahwa ada begitu banyak konsep manajemen modern yang digali dari pemahaman praktik nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan perusahaan sehari-hari.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 11 Juni 2013. h. 18

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s