Kepemimpinan 100% Indonesia

https://i2.wp.com/fc08.deviantart.net/fs71/f/2011/129/f/1/ki_hajar_dewantara_wpap_by_ndop-d3fyb8r.pngDiskusi tentang gaya kepemimpinan yang efektif, baik dalam ranah politik maupun bisnis mungkin takkan pernah ada habisnya. Mulai dari apakah ada keharusan bahwa suksesi kepemimpinan harus diambil dari keluarga pendiri perusahaan hingga seberapa besar kemungkinan keturunan pemimpin akan mengambil tongkat estafet kepemimpinan masa depan.

Meski pro-kontra terkait kepemimpinan masih mendominasi, ada satu persamaan pandangan, yakni bahwa seorang pemangku jabatan wajib memahami filosofi seorang pemimpin. Tanpa adanya kemampuan ini niscaya ia tidak akan mampu membawa organisasi yang dipimpinnya berkembang di masa depan.

Allan Murray (2012) dalam sebuah artikelnya menjelaskan bahwa filosofi dasar dari kepemimpinan ada pada bagaimana seorang pemangku jabatan mampu mengeksplorasi gaya kepemimpinan pada organisasinya. Artinya ia harus mampu mengadaptasikan gaya kepemimpinan yang dimiliki dengan kondisi yang dihadapi. Jika timbul tuntutan untuk bertindak tegas pada situasi yang chaos, maka gaya kepemimpinan semi-otoriter dimungkinkan lebih tepat diterapkan.

Dengan demikian, terdapat peluang bahwa seorang pemimpin akan menerapkan gaya kepemimpinan yang berbeda sesuai situasi yang dihadapi. Di Indonesia, filosofi gaya kepemimpinan yang adaptif sebenarnya sudah ada sejak dahulu kala.

Anda mungkin masih ingat dengan salah satu nilai-nilai asli Indonesia karya Ki Hajar Dewantara, yakni Tut Wuri Handayani. Filosofi ‘Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, tut wuri handayani’ pada dasarnya merupakan warisan besar budaya bangsa yang tak hanya ditujukan bagi guru, namun juga dalam hal kepemimpinan.

Tidak hanya memberikan arahan dalam memimpin, filosofi ini mampu memberikan panduan bagaimana seorang pemimpin harus bertumbuh menjadi ‘servant leader’ (baca: pemimpin yang melayani).

Pada term pertama ‘ing ngarsa sung tuladha’, seorang pemimpin Indonesia dituntut untuk menjadi role model dengan menjadikan kehidupannya sebagai contoh. Mulai dari contoh berpikir, berkomitmen, bertindak tanduk hingga rela berkorban demi kepentingan bersama.

Dengan memberi contoh tersebut, diharapkan pola hidup seorang pemimpin akan mampu menginspirasi mereka yang dipimpinnya untuk berpikir dan berbuat lebih baik bagi kepentingan bersama.

Term kedua, ‘ing madya mangun karsa’, pemimpin dituntut untuk senantiasa memberi semangat, ide dan prakarsa pada mereka yang dipimpin. Dalam era saat ini pemimpin dapat menciptakan stimulus yang kreatif dan inovatif pada tim untuk menghasilkan prestasi lebih baik.

Dengan pengelolaan pola kompetisi internal yang efektif niscaya inisiasi sang pemimpin akan mampu membawa institusi menjadi organisasi pembelajar.

Terakhir ‘tut wuri handayani’, di mana seorang pemimpin dituntut untuk tidak hanya memberikan dorongan namun juga penentu arah perjalanan organisasi. Pada fase ini misi dan visi organisasi hendaknya menjadi pedoman utama bagi pemimpin untuk menentukan arah perkembangan di masa depan.

Semangat ini terbukti telah mampu membawa Indonesia pada kemerdekaan. Maka filosofi yang sama juga akan mampu membawa dunia bisnis domestik dan kehidupan bangsa pada hari depan yang lebih cerah.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di Koran Sindo, 3 April 2012.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s