Fraud di Tempat Kerja

Power corrupts and obsolute power corrupts absolutely

Fraud di tempat kerja bisa menggerogoti sasaran perusahaan. Ciri khas perusahaan sehat adalah yang laba dan tentunya punya uang. Korupsi sangat bisa melenyapkan ke dua ciri tersebut, artinya laba perusahaan berkurang dan atau uang perusahaan berkurang.

Apakah fraud itu? Fraud adalah tindakan yang dilakukan dengan sengaja yang  bertujuan untuk kepentingan atau keuntungan pribadi, golongan, keluarga, ataupun perusahaan yang mengakibatkan kerugian perusahaan, kerugian negara, dan pihak-pihak lainnya. Istilah umumnya adalah kecurangan, penipuan, penggelapan, manipulasi, penyalahgunaan kekuasaan atau korupsi, white collar criminal, dan istilah lainnya

Untuk mengenal fraud di tempat kerja (occupational fraud) bisa dengan membaca publikasi international hasil riset ACFE (Asosiasi auditor fraud international) yang diterbitkan setiap tahun dengan judul berjudul ACFE REPORT TO THE NATIONS On Occupational Fraud and Abuse. A Global Study. Publikasi terkini, yaitu tahun 2012 melaporkan 13 ringkasan temuan dan 8 kesimpulan serta rekomendasi.

13 Temuan Riset oleh ACFE

  1. Kerugian akibat fraud adalah sekitar 5% dari pendapatan perusahaan setiap tahun. Jika dihitung dari Gross World Product jumlah kerugian tersebut mencapai USD 3,5 triliun atau (dengan kurs USD 1 = Rp 10.000) berarti sekitar Rp 35 triliun atau 2,29% APBN Indonesia. Tapi itu kan untuk seluruh dunia.
  2. Median kerugian akibat fraud mencapai USD 140,000. Dari kasus fraud lebih dari seperlimanya mengakibatkan kerugian sekurangnya USD 1 juta.
  3. Fraud yang terjadi memerlukan waktu rata-rata 18 bulan untuk terdeteksi.
  4. Jenis fraud yang umum adalah asset misappropriation atau pencurian asset (bisa cash atau non-cash), jumlahnya mencapai 87% dari kasus yang terjadi. Fraud ini merupakan fraud yang paling kecil kerugiannya, dengan rata-rata kerugian USD 120,000. Bandingkan dengan skema fraud pada penyajian laporan keuangan, jumlahnya hanya 8% dari kasus yang dilaporkan, namun rata-rata kerugiannya adalah yang terbesar, yaitu bisa mencapai rata-rata USD 1 juta. Sementara skema korupsi ada ditengah-tangah (antara asset misappropriation dengan fraud pada penyajian laporan keuangan), menimbulkan kerugian rata-rata USD 250,000.
  5. Fraud di tempat kerja terungkap umumnya karena ada yang melaporkan. Mayoritas laporan datang dari karyawan perusahaan yang jadi korban.
  6. Di seluruh dunia risiko terbesar bagi perusahaan adalah fraud jenis korupsi dan billing scheme. Fraud ini menggunakan sarana poses billing atau pembebanan tagihan. Korupsi dan skema billing mencapai 50% dari jumlah fraud yang dilaporkan
  7. Fraud di tempat kerja merupakan ancaman terbesar pada perusahaan berskala kecil. Dalam riset ini perusahaan terkecil menderita paling parah. Umumnya perusahaan kecil dengan control yang lemah.
  8. Industri yang paling jadi korban fraud adalah Bank dan Lembaga keuangan non-bank, Administrasi public dan Pemerintahan, dan Manufaktur
  9. Fraud di tempat kerja bisa dikurangi kerugiannya dan lamanya dengan membangun control yang kuat. Semakin kuat control semakin kecil kerugian akibat fraud dan semakin segera fraud terdeteksi.
  10. Semakin tinggi kedudukan pelaku fraud semakin besar pula kerugian yang diderita perusahaan. Rata-rata kerugian akibat fraud yang dilakukan pemilik/executives adalah USD 573,000, oleh manager USD 180,000 dan oleh karyawan USD 60,000
  11. Semakin lama pelaku bekerja di perusahaan semakin besar kerugian. Pelaku dengan masa kerja lebih dari 10 tahun merugikan rata-rata USD 229,000 sementara pelaku dengan masa kerja kurang dari setahun merugikan hanya rata-rata USD 25,000.
  12. Pelaku fraud mayoritas (77%) adalah karyawan di 6 bagian/departemen: akuntansi, operasi, penjualan, executives/pejabat tinggi, customer service dan pembelian
  13. Umumnya pelaku melakukan fraud pertama kali dengan masa lalu kerja yang bersih. Dimana 87% pelaku sebelumnya belum pernah melakukan fraud, 84% belum pernah dihukum atau dipecat akibat fraud.

Berdasarkan 13 butir temuan tersebut ACFE memberikan 8 kesimpulan dan rekomendasi

  1. Sifat dan ancaman fraud di tempat kerja sangat universal. Memang ditemukan perbedaan metode fraud di berbagai Negara, juga perbedaan cara pencegahan fraud; namun trend dan karakteristik fraud sama disemua Negara.
  2. Program anti-fraud yang ampuh adalah mempersenjatai individu dengan sarana yang memudahkan pelaporan mengenai aktivitas yang mencurigakan. Sarana bisa berupa hot-line yang menerima laporan baik dari pihak internal maupun ekternal. Pengirim laporan tidak perlu menyebutkan nama dan identitas lainnya agar kerahasiaan terjaga. Management perlu mendorong karyawan agar melapor jika ada hal-hal yang mencurigakan.
  3. Eksternal auditor jangan dijadikan satu-satunya pihak yang mendeteksi fraud. Auditor ekternal merupakan control utama yang dijalankan, namun mereka hanya berhasil mendeteksi 3% dari keseluruhan fraud yang dilaporkan, dan sangat lemah dalam mengurangi kerugian akibat fraud. Fungsi eksternal audit dalam mengungkapkan adanya fraud sangat terbatas
  4. Pendeteksian dan pencegahan fraud baik dijalankan melalui program training bagi manajer dan karyawan, training ditujukan untuk meningkatkan kesadaran akan adannya risiko fraud. Fraud di tempat kerja bisa di deteksi umumnya karena ada laporan dari karyawan. Perusahaan yang memiliki program training melawan fraud bagi executives, manager dan karyawan ternyata mengalami kerugian fraud yang lebih sedikit dan lama fraud yang lebih singkat dibanding dengan yang tidak memilki program seperti itu. Paling tidak staf harus di edukasi mengenai tindakan fraud, bagaimana fraud merugikan semua orang dalam perusahaan, dan agar melapor jika ada yang mencurigakan.
  5. Hampir separuh dari perusahaan korban tidak menemukan kerugian akibat fraud yang dialaminya. Dalam tahun 2012 (tahun yang disurvaey), 49% korban tidak dapat menemukan apa yang dicuri oleh pelaku; temuan ini konsisten dengan hasil riset tahun 2011 yang menemukan bahwa 40-50% perusahaan korban tidak menemukan kerugian akibat fraud yang dialaminya
  6. Perusahaan kecil sangat rentan akan fraud, karena control anti-fraud nya lebih sedikit dan kurang efektif. Dampak fraud sangat besar pada perusahaan kecil karena sumberdaya yang dimiliki relatif sedikit dibanding perusahaan besar. Pemilik dan manager perusahaan kecil harus focus dalam melakukan upaya melawan fraud dengan membangun mekanisasi control yang cost – effective, misal menggunakan hot-lines, edukasi karyawan, membangun perilaku etis yang memadai. Selain itu mengenal skema fraud yang mengancam perusahaan dapat membantu identifikasi bidang-bidang yang rentan terhadap fraud
  7. Kebanyakan pelaku fraud (fraudster) menunjukkan ciri-ciri perilaku yang dapat digunakan sebagai sinyal fraud. Namu internal control yang traditional tidak dapat mendeteksi fraud melalui sinyal ini – misal gaya hidup lebih besar pasak daripada tiang atau terlalu melebih-lebihkan masalah control. Maka manajer, karyawan dan auditor harus di edukasi mengenai pola perilaku seperti itu. Mereka harus didorong untuk memperhatikan kejanggalan-kejanggalan dan melaporkannya.
  8. Kerugian akibat fraud di tempat kerja baik dari segi keuangan maupun reputasi perusahaan dapat sangat merusak. Separuh dari perusahaan yang jadi korban tidak dapat memulihkan kerugiannya. Penting dilakukan tindakan pencegahan fraud. Manajemen harus terus menerus menilai risiko fraud dan melakukan program pencegahan fraud yang disesuikan dengan risikonya.

Pencegahan Fraud

Pencegahan dan deteksi fraud dapat dilakukan dengan berbagai cara. Merujuk temuan dan rekomendasi ACFE tahun 2012 cara paling ampuh untuk deteksi fraud adalah melalui tips (laporan) baik oleh pihak internal maupun eksternal.

Kita tahu akibat skandal Enron, Worldcom, Global Crossing dan lainnya kemudian SEC (Bapepam nya USA) memberlakukan SOX. Salah satu point di SOX adalah anjuran untuk menghidupkan mekanisasi whistle blowing (pembocor informasi), yang dalam versi laporan ACFE bisa didodorong melalui mekanisasi hot-line.

Pencegahan fraud bisa didekati dengan mengenal segitiga fraud (hipotesis Donald R. Cressey)

segi3 fraud

Fraud bisa dilakukan jika ke 3 titik pada segitiga fraud ada. Ke 3 titik itu ada atau dipersepsi ada sebelum pelaku melakukan fraud.

Pressure atau tekanan, pelaku melakukan fraud karena adanya pressure atau tekanan. Tekanan ini menghimpit pelaku namun ia tidak bidak bisa berbagi dengan orang lain (dirasakan tidak dapat berbagi).

Perceived opportunity, percepsi adanya peluang, pelaku harus punya persepsi bahwa ada peluang fraudnya tidak diketahui orang lain.

Rationalization, mencari pembenaran sebelum melakukan fraud, bukan sesudahnya.Titik kedua dan ketiga dapat dihilangkn dengan membangun Internal Control yang andal. Namun jika terjadi kolusi, tetap saja internal control bisa lumpuh.

Internal Control bisa dikatakan cukup memadai bila mencakup hal-hal sebagai berikut.

internal controlJika Internal Control sudah dibangun sedemikian ketat dan memadai dan mekanisasi hot-line atau whistle blowing juga sudah dilakukan dengan efektif, namun tetap saja fraud terjadi, tinggal satu harapan kita yaitu edukasi.

Edukasi di semua level yang ada di perusahaan. Edukasi bahwa fraud merugikan perusahaan dan tentunya seluruh karyawan. Edukasi dari segi ideologi bahwa fraud itu salah, fraud itu dosa. Edukasi bahwa fraud itu tidak etis. Edukasi bahwa fraud itu melanggar undang-undang. Dan edukasi lainnya yang bertujuan membangun dan memelihara adanya integritas seluruh level dalam perusahaan.

Di satu perusahaan Asuransi edukasi ini dimasukkan dalam program ERM (Entrerprise Risk Management). Yang tak kalah penting adalah CONTOH nyata. Eksekutif dan manajemen HARUS membuktikan integritas mereka baik dalam ucapan maupun tindakan.

Sejauh ini cara paling ampuh mencegah fraud adalah sesuai SOX act, mendorong disuburkannya Whistleblower dan Hot-lines. Menguatkan Internal Control juga wajib. Selain itu yang paling penting agar budaya anti-fraud subur di perusahaan perlu dikembangkan edukasi bagi seluruh karyawan mengenai buruknya Fraud. Di atas semua itu eksekutif wajib mampu dan mau melakukan contoh nyata dijunjung tingginya integritas.

Aurolla Saparini HarahapAurolla Saparini Harahap. Staf Pengajar di PPM Manajemen
ASH@ppm-manajemen.ac.id

One thought on “Fraud di Tempat Kerja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s