Eksplorasi Kepemimpinan Indonesia

eksplorasi kepemimpinan indonesia di manajemenppm wordpress comDiskusi tentang kepemimpinan Indonesia hingga kini masih menjadi topik hangat, terlebih menjelang  pesta  demokrasi 2014. Selain dipicu oleh perkembangan pengetahuan masyarakat, realitas bahwa seorang pengelola belum pasti seorang pemimpin yang baik di beberapa aspek kehidupan seperti bisnis dan politik telah berubah dari sekadar hipotesis menjadi kesimpulan publik.

Pemimpin tidak lagi dipandang melekat dengan jabatan atau posisi yang diemban, namun lebih kepada perannya dalam melakukan perubahan menuju kualitas kehidupan bersama yang jauh lebih baik. Jika demikian, lalu bagaimana karakteristik kepemimpinan Indonesia itu sendiri?

Sejumlah literatur manajemen meyakini bahwa bicara soal kepemimpinan tidak dapatdilepaskan dari paradigma dan filosofi hidup sang pemimpin. Tengoklah figur kepemimpinan Maha Patih Majapahit Gajah Mada. Di dalam Sumpah Palapa terlihat jelas komitmen seorang   pemimpin kepada cita-cita nasional yang hendak diraih. Sehingga ketika nafas semangat ditiupkan maka komitmen secara otomatis berubah menjadi kekuatan dalam meraih cita-cita luhur bangsa.

Tak ayal kekuasaan Majapahit pun semakin luas di bawah komando sang Patih. Tidak hanya itu, kesejahteraan masyarakat yang merupakan cita-cita dapat terwujud di setiap wilayah kekuasaan.

Sadar atau tidak, pada konteks tersebut pemimpin dipandang sebagai role model (baca: panutan) bagi kaum yang dipimpinnya sehingga tutur kata, dan tindak tanduk sang pemimpin mampu mengilhami masyarakat untuk memiliki komitmen yang sama atas sebuah cita-­cita. Meski  konsep ini masih menjadi bahan diskusi, namun pemahaman bahwa nilai-nilai luhur bangsa secara implisit menegaskan bahwa kepemimpinan adalah sebuah amanah.

Senada dengan sang Maha Patih, pada zaman perjuangan salah satu pemimpin yang melandasi pergerakan nasional adalah dr Soetomo. Lewat organisasi Budi Utomo, beliau bersama-sama tokoh pergerakan lainnya mengemban amanah demi pengakuan salah satu komponen hak asasi manusia, yakni hak merdeka bagi segenap rakyat Indonesia.

Sejarah mencatat bahwa lewat aktivitas organisasi yang dipimpinnya, beliau mampu menginspirasi kaum cerdik cendekia lainnya untuk  merapatkan barisan dalam pergerakan meraih kemerdekaan. Sehingga melalui pergerakan organisasi-organisasi kebangsaan itu pulalah semangat kemerdekaan mulai dicita-citakan.

Memandang kepemimpinan sebagai sebuah amanah ternyata tidak hanya cocok digunakan pada zaman pergerakan kemerdekaan. Bahkan dalam konteks kekiniian, konsep ini pun dinilai masih relevan. Pandangan hidup bangsa, Pancasilalah yang menegaskan karakteristik kepemimpinan Indonesia.

Setidaknya ada tiga poin utama yang membangun konsep tersebut. Pertama, bahwa kepemimpinan merupakan amanah dari Yang Maha Esa. Dunia mengakui bahwa kepemimpinan bersifat kodrati, artinya melekat pada diri seseorang sejak ia dilahirkan ke dunia. Untuk itu seorang pemimpin harus paham benar misi hidupnya. Sebagai amanah,  kepemimpinan berarti merupakan suatu hal yang kelak harus dipertanggung jawabkan tidak hanya di dunia melainkan  hingga  hidup  di akhirat nanti.

Kedua bahwa kepemimpinan sarat dengan nilai-nilai humanis. Semangat inilah yang membawa seorang pemimpin keluar dari dimensi  individualitasnya untuk melebur menjadi makhluk sosial seutuhnya. Ia tak lagi hidup bagi dirinya sendiri, melainkan bagi orang lain. Tak lagi hidup bagi cita-citanya semata, melainkan menghidupi cita-cita bersama.

Terakhir, kepemimpinan mengemban amanah untuk mengupayakan harmonisasi dengan alam dan  lingkungan sekitar. Menjalani hidup bersahabat dengan alam sudah tidak lagi dimaknai sebatas jargon semata, melainkan timbul dari pemahaman bahwa sebagai makhluk adi kodrati, manusia bertanggung jawab untuk melestarikan titipan Ilahi dalam bentuk kekayaan alam bagi kepentingan generasi­ generasi berikutnya.

Tak hanya itu, melalui pemanfaatan alam secara bijak, diharapkan sang pemimpin dapat mewujudkan keadilan bagi aksesibilitas masyarakat pada sendi-sendi perekonomian nasional sehingga peningkatan kesejahteraan bangsa dapat teraih. Di titik-titik inilah sebenarnya kepekaan jiwa sang pemimpin diuji. Keluar dari dimensi diriku untuk masuk dalam dimensi bangsaku.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 18 Juni 2013. h. 18

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s